1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikAsia

Rusia Pelajari Proposal Damai Iran Buat Nagorno-Karabakah

5 November 2020

Iran meminta Armenia mengembalikan Nagorno kepada Azerbaijan, yang sebaliknya harus menjamin keselamatan warga etnis Armenia. Teheran khawatir perang yang melibatkan militan Timur Tengah itu akan melebar ke negara lain 

Militer Armenia menembakan artileri dalam pertempuran di Nagorno-Karabakh, 25 Oktober.
Militer Armenia menembakan artileri dalam pertempuran di Nagorno-Karabakh, 25 Oktober.Foto: Aris Messinis/AFP/Getty Images

Rusia sedang menganalisa proposal perdamaian yang diusulkan Iran belum lama ini. Wakil Menlu Rusia, Andrei Rudenko mengatakan, peta jalan damai itu diserahkan Wamenlu Iran, Abbas Abaqchi, dalam kunjungannya ke Moskow pekan lalu, demikian menurut Kantor Berita Interfax, 

Sejak beberapa dekade terakhir, Grup Minsk yang terdiri atas Rusia, Prancis dan Amerika Serikat memediasi Armenia dan Azerbaijan dalam konflik di Nagorno-Karabakah. Namun kali ini, Iran yang tampil mengajukan diri buat menggalang proses damai. 

“Kami sedang mempelajarinya dengan hati-hari,” kata Rudenko tanpa merinci isi proposal tersebut. 

Uraian paling gamblang perihal pendekatan Teheran terhadap konflik di Nagorno-Karabakh disampaikan pemimpin spiritual, Ayatollah Ali Khamanei, Selasa (2/11). Menurutnya kawasan yang diduduki separatis Armenia itu “harus dikembalikan” kepada Azerbaijan.  

“Wilayah yang diduduki Armenia harus dikembalikan dan dibebaskan. Ini adalah kondisi paling esensial,” katanya dalam pidato di televisi. “Tanah ini adalah milik Azerbaijan, yang mempunyai semua hak atasnya.” 

Sebagai syarat tambahan, Khamenei menegaskan “keselamatan warga etnis Armenia yang hidup di wilayah ini harus dijamin,” dan bahwa kedua pihak menjamin agar pertempuran di Nagorno tidak melebar ke luar batas teritorial kedua negara. 

“Perang ini... mengancam keamanan di seluruh kawasan,” kata dia. “Ini harus diakhiri secepat mungkin.” 

Pidato Khamenei itu lebih tegas ketimbang pernyataan Presiden Hassan Rouhani yang meminta “semua pihak” agar “menerima kenyataan, dan menghormati keutuhan teritorial negara lain,” tanpa menyebut Armenia. 

Milisi asal Timur Tengah 

Pemerintah di Yerevan selama ini dituduh menyokong kelompok separatis etnis Armenia yang menduduki Nagorno-Karabakh. Kawasan pegunungan yang membentang hingga ke dekat perbatasan Iran itu dihuni oleh warga berdarah Armenia, setelah gencatan senjata 1994 yang mengusir warga Azerbaijan dari kawasan tersebut.  

Wilayah konflik di Nagorno-Karabakah antara Armenia dan Azerbaijan

Rusia sudah menandatangani pakta pertahanan dan berkomitmen melindungi Armenia dalam kasus invasi kekuatan asing. Namun Moskow sejauh ini menolak intervensi militer, selama perang hanya berkecamuk di Nagorno-Karabakh. Kawasan itu resminya adalah milik Azerbaijan.   

Sementara itu kementerian Luar Negeri Rusia mengklaim, sebanyak 2.000 gerilawan dari Timur Tengah ikut bergabung dalam perang di Nagorno-Karabakh. “Internasionalisasi” konflik antara Armenia dan Azerbaijan itu dinilai mengancam stabilitas keamanan regional. 

“Kami sangat khawatir terhadap internasionalisasi konflik di Nagorno-Karabakh dan keterlibatan kaum militan dari Timur Tengah,” kata Menlu, Sergey Lavrov, dalam sebuah wawancara dengan harian bisnis Rusia, Kommersant. 

“Kami sudah berulangkali meminta aktor asing untuk menggunakan potensi yang mereka miliki untuk mengakhiri pengiriman militan, yang angkanya di zona konflik mendekati 2.000 orang,” imbuhnya. 

Lavrov mengatakan Presiden Vladimir Putin telah mengangkat isu ini dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, pekan lalu. 

Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, bersikeras penarikan mundur kekuatan Armenia dari kawasan konflik merupakan syarat pamungkas bagi perdamaian. Saat ini militer Azerbaijan dikabarkan sudah menguasai sejumlah wilayah di Nagorno, dan berusaha merangsek dari arah selatan.   

Kementerian Pertahanan Republik Artsakh, wilayah Nagorno yang dikuasai Armenia, menyebutkan 1.177 serdadunya tewas dalam pertempuran sejak 27 September. Azerbaijan sebaliknya tidak mengumumkan jumlah korban perang. Namun Rusia memperkirakan jumlah kematian di kedua belah pihak mencapai 5.000 orang.  

rzn/as (ap,afp, dpa) 


 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait