Dua mantan jurnalis DW, Konstantin Gabov dan Sergey Karelin, bersama dengan dua jurnalis lainnya, dikenakan hukuman penjara di Rusia atas tuduhan ekstremisme, tetapi para jurnalis menyangkal tuduhan itu.
Mantan jurnalis DW Konstantin Gabov (kiri) dan Sergey Karelin (kanan), serta dua wartawan lainnya divonis hukuman penjaraFoto: uncredited/AP/picture alliance
Iklan
Pengadilan di Moskow pada Selasa (15/04), menghukum jurnalis Antonina Favorskaya, Konstantin Gabov, Sergey Karelin, dan Artyom Kriger, atas tuduhan ekstremisme. Mereka dikenakan hukuman lima setengah tahun penjara.
Mereka dituduh menjadi bagian dari "organisasi ekstremis”. Organisasi yang dimaksud merujuk pada Yayasan Anti-Korupsi (FBK), yang didirikan oleh politisi oposisi Rusia Alexei Navalny, yang meninggal dalam kondisi yang tidak jelas di penjara Arktik pada Februari 2024.
Konstantin Gabov dan Sergey Karelin sebelumnya bekerja untuk Deutsche Welle (DW) di kantor biro Moskow.
Keempat jurnalis itu membantah tuduhan tersebut, dan mengatakan bahwa mereka tidak bekerja untuk yayasan tersebut, melainkan hanya melaporkan kegiatannya.
Pengadilan tertutup itu merupakan bagian dari tindakan keras Rusia terhadap perbedaan pendapat, yang telah mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah Moskow mengirim pasukan ke Ukraina pada Februari 2022.
Iklan
DW mengutuk vonis Rusia
Peter Limbourg, Direktur Jenderal DW, mengatakan bahwa dengan putusan ini, Rusia "sekali lagi membuktikan dengan tegas bahwa mereka adalah negara yang tidak mengindahkan supremasi hukum.”
"Rezim Rusia melakukan segala cara untuk memutarbalikkan fakta, memperlakukan jurnalis yang berani seperti penjahat kelas kakap. Setiap hari yang dijalani Antonina Favorskaya, Konstantin Gabov, Sergey Karelin, dan Artyom Kriger dibalik jeruji besi adalah satu hari yang tidak seharusnya terjadi. Mereka dan keluarganya mendapat dukungan penuh dari kami,” tambah Limbourg.
Para jurnalis itu ditahan pada musim semi dan musim panas 2024. Favorskaya ditahan pada Maret, Gabov dan Karelin pada April, sementara Kriger pada Juni.
Eropa dikejutkan dengan serangan penembakan terhadap Peter R. de Vries, seorang jurnalis Belanda. Meski Uni Eropa punya reputasi bagus dalam kebebasan pers, namun terkadang para jurnalis jadi korban serangan kekerasan.
Foto: Getty Images/AFP/Stringer
Amsterdam syok berat
Peter R. de Vries, wartawan kriminal terkemuka ditembak orang tidak dikenal saat meninggalkan studio televisi Selasa, 6 Juli 2021 malam di pusat kota Amsterdam, Belanda. Beberapa indikasi menunjukan sindikat kriminal terorganisir menjadi otak penyerangan tersebut. Dua orang tersangka diamankan beberapa jam setelah penembakan.
Foto: Evert Elzinga/ANP/picture alliance
Wartawan kriminal terkemuka di Belanda
De Vries telah meliput kejahatan terorganisir di Belanda selama bertahun-tahun. Sebelum aksi penembakan, dia jadi penasihat pribadi seorang saksi mahkota yang akan bersaksi terhadap seorang pimpinan organisasi kriminal besar. Saudara dan pengacara saksi mahkota tersebut telah dibunuh beberapa tahun lalu. Saat ini De Vries masih berjuang antara hidup dan mati di sebuah rumah sakit.
Foto: ANP/imago images
Harapan dan ketakutan
“Kejadian seperti ini tidak boleh terjadi di jantung Eropa!” Begitu reaksi dari masyarakat Belanda atas kejadian penembakan Selasa malam tersebut. Sejumlah orang terlihat di TKP meninggalkan bunga dan ucapan belasungkawa. Sayangnya, de Vries bukanlah jurnalis pertama yang menjadi korban pembunuhan berencana di benua Eropa.
Foto: Koen Van Weel/dpa/picture alliance
Negara tempat demokrasi dilahirkan
Jurnalis Yunani, Giorgos Karaivaz dibunuh di selatan kota Athena pada 9 April 2021. Dua orang bermasker yang mengendarai sepeda motor menembak wartawan kriminal senior ini sebanyak 10 kali. Sebagai wartawan berpengalaman, Karaivaz telah meliput sejumlah kasus korupsi yang melibatkan otoritas Yunani dan sindikat kriminal terorganisir.
Daphne Caruana Galizia (53), seorang jurnalis investigasi yang meliput kasus korupsi dalam bidang politik dan bisnis di Malta, tewas setelah mobilnya diledakkan menggunakan bom yang dipicu dari jarak jauh 16 Oktober 2017. Pelakunya divonis 15 tahun penjara setelah mengakui perbuatannya. Namun, dalang kejahatan, seorang pebisnis terkenal masih diadili untuk pembunuhan itu.
Foto: picture-alliance/dpa/L. Klimkeit
Dibunuh di kediaman pribadi
Jurnalis investigasi Slovakia, Jan Kuciak dan tunangannya, Martina Kusnirova ditembak pembunuh bayaran 21 Februari 2018. Jurnalis berusia 28 tahun ini memfokuskan liputannya pada sindikat kriminal terorganisir, pengemplang pajak dan korupsi di kalangan politisi dan penguasa Slovakia. Pembunuhannya mengejutkan Eropa dan berujung dengan pengunduran diri Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico.
Foto: Mikula Martin/dpa/picture alliance
Bebaskan media!
Lukasz Masiak, jurnalis Polandia, dipukuli hingga tewas di pusat boling, 2015 silam. Masiak meliput kasus korupsi, bisnis narkoba dan penangkapan sewenang-wenang. Pemerintah Polandia dikritik karena makin membatasi kebebasan pers. Warga Polandia memprotes aturan baru pemerintah di Warsawa untuk terus membatasi kebebasan pers.
Foto: Attila Husejnow/SOPA Images/ZUMAPRESS.com/picture alliance
Saya adalah Charlie
12 orang dibunuh dalam serangan teror di kantor majalah satire Prancis Charlie Hebdo, tahun 2015. Ratusan ribu orang di seluruh dunia berdemonstrasi untuk kebebasan berbicara dan pers menggunakan tagar “Saya adalah Charlie”. Pada November, jurnalis musik Guillaume Barreau-Decherf dibunuh saat serangan teroris di teater Bataclan, Paris yang tewaskan ratusan penonton.
Foto: picture-alliance/dpa
Jurnalis Turki diserang di Berlin
Jurnalis Turki di Jerman, Erk Acarer, pengkritik Presiden Recep Tayyip Erdogan, diserang oleh tiga orang tak dikenal di kediamannya pada 7 Juli 2021. Dalam Bahasa Turki, Acarer menceritakannya di Twitter: “Saya diserang menggunakan pisau dan dipukuli di rumah saya di Berlin.“ Tiga orang pelaku juga mengancam akan datang kembali kalau dia tidak berhenti melakukan reportase.
Foto: twitter/eacarer
Wartawan dengan pembatasan?
Bukan hanya kasus yang membahayakan nyawa wartawan yang ditakuti. Namun, sering wartawan yang dihambat saat bertugas, seperti oleh pengunjuk rasa yang murka, polisi atau pihak berwenang. Pada foto terlihat polisi antihuru-hara Prancis menghadang seorang pekerja pers saat demonstrasi menentang peraturan keamanan yang baru.
Foto: Siegfried Modola/Getty Images
10 foto1 | 10
Para jurnalis: Kondisi penjara tidak manusiawi
Dalam surat-suratnya, Gabov dan Karelin menggambarkan kondisi mengerikan di penjara Matrosskaya Tishina, Moskow, tempat mereka dipindahkan pada awal Oktober lalu.
"Rasanya seperti ditahan di suatu tempat di ruang bawah tanah. Ada sebuah jendela kecil di suatu tempat di lantai atas,” tulis Gabov.
"Sel itu penuh sesak. Saya tidur di lantai dengan seorang pria. Dia sudah hidup seperti ini selama sebulan. Pada siang hari, kami duduk di bangku (tanpa sandaran) karena tidak ada ruang. Kasur, selimut, dan bantal sudah usang dan ternyata ada kutu busuk. Suasana penindasannya sangat terasa,” tambahnya.
Karelin menulis bahwa di "Matrosskaya Tishina” ia dimasukkan ke dalam sel yang penuh sesak dengan empat ranjang untuk 8 orang. "Kami tidur dari atas ke bawah, tapi bukan di atas ranjang yang permukaannya lurus dan keras, melainkan di atas ranjang penjara dengan 'lubang' di tengahnya,” tambahnya.
Pengacara Karelin, Katerina Tertukhina, menggambarkan kondisi penahanan seperti itu sebagai penyiksaan. Dia menekankan bahwa dalam kondisi seperti itu kliennya tidak dapat sepenuhnya mempersiapkan diri untuk persidangan.
Menjelang vonis, Krieger mengatakan bahwa ia hanya melakukan pekerjaannya sebagai "jurnalis yang jujur, tidak tercela, dan independen,” dan menggambarkan persidangan itu "benar-benar gila.”
"Sekarang mereka mencoba menggambarkan saya sebagai seorang ekstremis, penjahat, seseorang yang harus dipenjara,” katanya.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Rusia makin menekan kebebasan pers
Dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia, Reporters Without Borders menempatkan Rusia di peringkat ke-162 dari 180 negara, dan menyatakan bahwa kebebasan media di negara ini "hampir tidak ada.”
Di bawah pemerintahan Presiden Vladimir Putin, setidaknya 37 jurnalis telah dibunuh sebagai akibat langsung dari pekerjaan mereka, menurut organisasi tersebut.
Pada 4 Februari 2022, Rusia melarang siaran DW, memaksa kantornya di Moskow untuk ditutup, dan memblokir dw.com dalam semua bahasa di internet Rusia.Namun, layanan DW Rusia terus beroperasi di Riga, Latvia.