Ambisi Rusia menjadi kekuatan adidaya di luar angkasa mulai mendapat wujud. Vladimir Putin memerintahkan agar pembangunan bandar antariksa baru di Vostochny dipercepat. Tujuannya agar tidak bergantung pada negara lain.
Kosmodrom Vostochny dalam proses pembangunanFoto: picture-alliance/dpa
Iklan
Rusia berniat serius dengan program antariksanya. Presiden Vladimir Putin, Selasa (2/9) memerintahkan agar pembangunan bandar antariksa baru di Siberia dipercepat. Rusia ingin mengurangi kebergantungan terhadap Baikonur Cosmodrome di Kazakhstan.
Nantinya Vostochny Cosmodrome berlokasi di dekat perbatasan Cina dan Jepang.
Putin menyempatkan diri berkunjung langsung ke Vostochny untuk mengawasi pembangunan. Kunjungan itu dilakukan di tengah konflik yang memanas dengan Ukraina.
Perkembangan terbaru dari kawasan dianggap menguak kelemahan program antariksa Rusia yang sepenuhnya bergantung pada negara bekas Uni Sovyet.
Ambisi Antariksa Rusia
Proyek pembangunan bandar antariksa di wilayah sendiri adalah bagian penting dari ambisi Putin menghidupkan kembali program luar angkasa Rusia yang terpukul oleh kejatuhan Uni Soviet. "Infrastruktur antariksa sendiri dan jejaring modern bandar antariksa akan membantu Rusia kembali menjadi kekuatan adidaya di luar angkasa," kata Putin di Vostochny.
Putin mengklaim pembangunan saat ini mengalami keterlambatan selama tiga bulan dan sekitar 6000 buruh yang ada saat ini cuma separuh dari jumlah yang direncanakan. "Di masa depan kapasitas Kosmodrom akan diperluas untuk program penjelajahan bulan, Mars dan benda langit lainnya."
Pemerintah di Moskow sudah mengucurkan dana sebesar 100 miliar Rubbel atau sekitar 2,7 miliar US Dollar untuk pembangunan bandar antariksa yang baru. Rusia selama ini menyewa landasan peluncuran di Baikonur, Kazakhstan sejak kejatuhan Uni Sovyet 1991.
Rusia Usung Angara buat Saingi AS dan Eropa
Putin juga telah menyiapkan dana 50 miliar Rubbel untuk kelanjutan proyek di Vostochny setelah pembangunan selesai. Ia mengaku pemerintah kesulitan menyisihkan dana menyusul biaya pendudukan semenanjung Krimea di Ukraina dan embargo ekonomi yang diterapkan negara-negara barat.
Di tengah krisis yang melanda Rusia tidak berniat mengurangi dana investasi buat program antariksanya. "Rencana kami tidak berubah kendati pengurangan anggaran dan tekanan akibat sanksi," kata Wakil Perdana Menteri Dmitry Rogozin.
Juli silam Rusia untuk pertama kali meluncurkan roket antariksa yang sepenuhnya dibangun di Rusia. Roket bernama Angara itu didesain untuk menggantikan roket Proton dan menyaingi rival komersil asal Perancis, Arianespace dan SpaxeX, Amerika Serikat.
Perjalanan Soyuz ke Stasiun Luar Angkasa
Setiap enam bulan, Badan Antariksa Rusia, Roskosmos melontarkan kapsul Soyuz yang mengangkut astronot ke Stasiun Luar Angkasa. Bagaimana perjalanannya?
Foto: Reuters
Dari Rel Kereta Menuju Luar Angkasa
Roket dan kapsul Soyuz dibangun oleh perusahaan Rusia, TsSKB-Progress. Semua bagian roket harus dirakit terlebih dahulu di sebuah bangunan spesial yang berjarak 2 kilometer dari lokasi peluncuran. Setelah selesai, roket beserta kapsul dipindahkan dengan menggunakan kereta api.
Foto: Reuters
Kereta Api Memanggul Roket
Kendati mengangkut salah satu roket peluncur paling apik di dunia, Rokosmos masih mempercayakan Soyuz pada teknologi lawas, yakni kereta api.
Foto: NASA, Bill Ingalls/AP/dapd
Menatap Langit
Setelah tiba di landasan peluncuran, Soyus secara perlahan dibangunkan dengan menggunakan kran hidraulik. Tanki bahan bakar kemudian diisi sepuluh jam menjelang peluncuran. Setelah pengisian bahan bakar tuntas, menara pengawas mulai menghitung mundur.
Foto: Reuters
Astronot Menaiki Roket
Sekitar dua jam jelang peluncuran ketiga astronot dan kosmonot diarak menaiki tangga menuju kapsul Soyus. Sejam kemudian menara reparasi diturunkan dan sistem penyelamatan diaktifkan. Jika peluncuran bermasalah, astronot akan dilontarkan dengan roket penyelamat ke zona aman. Sistem ini pernah digunakan untuk menyelamatkan dua kosmonot Rusia pada pertengahan 1980-an.
Foto: picture-alliance/AP Photo
10 Menit Menentukan
118 detik setelah peluncuran, roket booster dijatuhkan, 226 detik kemudian roket melakukan pelepasan muatan. Selama itu pula ketiga astronot mengalami daya gravitasi sebesar 4,3 g.
Foto: AP
Merapat di ISS
Ruang kontrol di Bumi harus menyesuaikan kecepatan dan lintasan orbit Soyuz dengan Stasiun Luar Angkasa sebelum bisa berlabuh. Baru setelah berada dalam jarak pandang, astronot bisa mengendalikan sendiri wahana tersebut buat mendekati ISS. Soyuz lalu akan berlabuh secara otomatis.
Foto: picture-alliance/dpa
Bekerja di Ruang Hampa
Sebanyak enam astronot bekerja bergantian setiap enam bulan sekali. Saat ini astronot Jepang, Koichi Wakata bertindak sebagai komandan. Secara umum Amerika pernah mengirimkan 140 astronot ke ISS, adapun Rusia 42 kosmonot. Negeri jiran, Malaysia, juga pernah mengirimkan astronotnya ke ISS, Sheikh Muszaphar Shukor yang berangkat 2007 silam.
Foto: picture-alliance/dpa/NASA
ISS, Wadah Eksperimen di Luar Angkasa
Stasiun Luar Angkasa Internasional saat ini mengorbit pada ketinggian 416 Kilometer dan terbang mengelilingi bumi dalam waktu 91 menit. ISS dioperasikan oleh empat badan antariksa, Nasa, Roskosmos, Jaxa (Jepang) dan CSA (Kanada). Sebagian besar misi astronot di ISS adalah penelitian. Untuk itu ISS dilengkapi dengan beberapa laboraturium, antara lain Destiny buatan Nasa dan Colombus milik ESA.
Foto: Nasa/dpa
Kembali ke Bumi
Soyuz menggunakan teknologi serupa yang dipakai misi Apollo untuk kembali ke bumi. Wahana pendaratan Soyuz yang cuma seluas 3,5 meter persegi itu biasanya memasuki atmosfer bumi di bagian gelap dan terbang menuju bagian yang disinari matahari. Untuk mendarat Soyuz mengaktifkan dua payung, yaitu untuk mengerem di kecepatan jatuh 240 meter per detik dan pada 90 meter per detik.
Foto: Reuters/Dmitry Lovetsky/Pool
Berjejak di Bumi
Astronot yang baru kembali dari misi luar angkasa tidak bisa berjalan atau berlari, lantaran otot dan persendian belum terbiasa dengan gaya gravitasi Bumi. Sebab itu setiap astronot harus terlebih dahulu menghabiskan beberapa hari di rumah sakit. Tampak dalam gambar astronot Nasa, Chris Cassidy (ki.), Kosmonot Rusia, Pavel Vinogradov dan Alexander Misurkin yang mendarat September 2013 silam.