Rusia Tarik Diri dari Perundingan soal Iran
25 September 2008
Beberapa hari belakangan ini pembicaraan dengan Rusia tidak bisa diadakan. Walaupun upaya diplomatis sudah dilaksanakan semaksimal mungkin, pemerintah di Moskow membatalkan sepenuhnya pembicaraan dengan Barat tentang program nuklir Iran. Alasan resminya adalah: jadwal pemerintah Rusia sudah terlalu padat di pekan saat sidang umum PBB diadakan.
Pembatalan pembicaraan adalah pukulan. Demikian penilaian Menteri Luar Negeri Jerman, Frank-Walter Steinmeier. Ia yakin, ini perkembangan yang salah. Ia berharap, dalam waktu tidak terlalu lama kita dapat kembali ke bentuk pembicaraan yang kita butuhkan.
Pembicaraan Masih Belum Mungkin
Tetapi pembicaraan seperti yang diinginkan nampaknya masih belum mungkin. Di kalangan diplomat tersebar dugaan, bahwa jadwal baru pembicaraan dengan Rusia baru mungkin setelah presiden baru Iran dipilih Mei tahun depan. Jadi Teheran bisa menunggu dengan tenang. Karena kesepakatan resolusi DK PBB tentang sanksi baru terhadap Iran, terutama jika dituntut AS, saat ini tidak mungkin tercapai.
Bahkan sebaliknya. Berkaitan dengan pembatalan pembicaraan, departemen luar negeri Rusia memberikan komentar berikut: saat ini ada kesempatan nyata untuk melanjutkan upaya diplomatis dengan Iran. Sementara pengamat politik menilai penarikan diri Rusia adalah reaksi atas meningkatnya ketegangan antara AS dan Rusia akibat konflik Kaukasus. Bagi Menteri Luar Negeri Jerman, Steinmeier waktu pembatalan pembicaraan sangat tidak tepat, mengingat Badan Energi Nuklir Internasional, IAEA tidak memberikan penilaian baik bagi Iran dalam laporan terakhirnya.
Tidak Bisa Bungkam
Hari Selasa lalu (23/09) Steinmeier sudah memperingatkan, dengan sikap bungkam masalah tidak dapat diselesaikan. Menteri luar negeri Jerman itu juga mengatakan, saat ini tidak ada perspektif jelas, bahwa krisis bisa diselesaikan, baik krisis Iran, Timur Tengah maupun Kaukasus, jika Rusia dan AS tidak duduk pada meja perundingan.
Steinmeier juga akan memperjelas hal ini dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri AS, Condoleezza Rice pekan ini. Selain itu ia akan berusaha untuk melanjutkan dialog di tingkat diplomatis yang lebih rendah. Jika perundingan tidak dapat diadakan di tingkat menteri luar negeri, maka akan diadakan di tingkat pejabat tinggi.
Saling Membalas
Sejak beberapa hari lalu, Uni Eropa dan AS di satu pihak, dan Rusia di pihak lain mengambil langkah balas-membalas. Pertama-tama Uni Eropa menjadikan pertemuan antara para menteri dari Uni Eropa dan Rusia tentang situasi Georgia hanya sebagai pertemuan para pakar.
Setelah itu, Washington membatalkan pembicaraan antara menteri luar negeri negara-negara G8. Kemudian dalam pidatonya di depan sidang PBB, Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad menampik semua kritik terhadap program nuklir negaranya dan memperkirakan, bahwa akhir kejayaan AS sudah dekat. (ml)