1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Rusia Tarik Pasukan dari Georgia

23 Agustus 2008

Rusia sudah keluar dari Gori dan mengaku telah menarik seluruh pasukannya dari Georgia. Gedung Putih menepis hal itu, dan sebaliknya menuduh Rusia tidak memenuhi kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Perancis.

Sejak Selasa, panser-panser Rusia meninggalkan Gori, GeorgiaFoto: AP

Televisi Rusia menunjukan gambar-gambar dari pasukan yang sedang ditarik pulang. Disebutkan, penarikan keluar pasukan berlangsung sesuai rencana. Kembalinya kapal perang Rusia ke Sewastopol juga mendapat perhatian besar. Sebelumnya kapal ini memblokade jalan laut di pantai Georgia. Angkatan Laut Rusia disambut dengan sorak sorai oleh pendukung Moskow.

Jurubicara Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan, "penarikan keluar pasukan berlangsung tanpa insiden dan berhasil dilakukan sesuai rencana pada pukul 19:50 waktu Moskow. Pos-pos penjagaan di zona-keamanan sudah mulai berfungsi dan melakukan tugas-tugasnya. Dengan begitu pihak Rusia telah mengimplementasi kesepakatan yang ditetapkan oleh Presiden Rusia dan Perancis."

Juga Menteri Pertahanan Jerman Jung menilai, bahwa Rusia telah memenuhi jadwal yang ditetapkan. Namun laporan dari Georgia berbeda. Disebutkan, Rusia hanya memindahkan pasukan kecil.

Sekretaris Dewan Keamanan Georgia, Kakha Lomaia mengiyakan, bahwa pasukan Rusia telah meninggalkan Gori. Namun menurut dia, Rusia telah memasang ranjau dan meledakan markas-markas militer. Ketika Lomaia mengatakan hal ini, dilaporkan terdengar sejumlah ledakan. Selain itu di sekitar Gori terlihat kebakaran besar.

Sementara saksi mata menyebutkan, tidak ada tanda-tanda pasukan Rusia yang bergerak masuk ke Rusia dari Ossetia Selatan. Sedangkan seorang fotografer Reuters di barat Georgia melaporkan bahwa sekitar 20 panser menyebrang masuk perbatasan Abkhasia. Bagi pemimpin Georgia dan negara-negara Barat, hal ini mecemaskan. Ada dugaan Moskow akan menempatkan pasukan militer yang besar di propinsi-propinsi itu. Dan kemungkinan bermaksud tetap mempertahankan cengkeramannya atas ekonomi Georgia, atau bahkan mencaplok negara-negara lain secara diam-diam.

Bagi pejabat-pejabat Amerika Serikat menganggap penarikan mundur pasukan dari Poti, sekitar 200 km di Barat kawasan konflik sebagai tes utama komitmen Rusia terhadap rencana perdamaian. Sementara Moskow menegaskan akan menempatkan pasukan perdamaian di Ossetia Selatan dan Abkahazia, sesuai dengan kesepakatan 1999. Rusia sejak awal memang bermaksud meninggalkan sejumlah pasukan perdamaian guna melakukan penjagaan di beberapa titik perbatasan didalam Georgia. Rusia mengaku, hal ini dilakukan guna melindungi warga Ossetia Selatan dari serangan Georgia.

Awalnya Rusia bahkan menginginkan 8 pos penjagaan diluar Ossetia selatan. Permintaan ini membuat pemimpin Georgia uring-uringan. Dikhawatirkan Rusia akan menggunakan kesepakatan damai yang kurang jelas itu agar dapat meguasai dan mengawasi jalan raya dan kereta api. Georgia menganggap Rusia tidak berhak menentukan berapa pos penjagaan yang ingin dimilikinya dan menyatakan zona keamanan Rusia sebagai pelanggaran gencatan senjata. Pernyataan ini didukung oleh Amerika serikat dan Perancis.

Jenderal John Craddock dari Amerika Serikat yang berada di Tbilisi hari Jumat, menyebut penarikan mundur pasukan Rusia sebagai terlalu sedikit dan terlalu lambat. Hal senada terdengar dari Georgia. Di Tbilisi Jumat malam, Dewan Keamanan Nasional Georgia masih membahas perkembangan terakhir ini. (ek)