1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikUkraina

Rusia Tarik Pasukan Dari Perbatasan Ukraina

23 April 2021

Rusia akhirnya mengumumkan akan menarik mundur pasukannya dari perbatasan Ukraina. Langkah itu meredakan ketegangan dengan NATO, namun menempatkan pemerintah di Kiev dalam posisi sulit.

Militer Ukraina menggelar latihan perang di Semanjung Krimea, 22 April 2021.
Militer Ukraina menggelar latihan perang di Semanjung Krimea, 22 April 2021.Foto: Vadim Savitsky/Russian Defense Ministry Press Service/AP/picture alliance

Selambatnya pada Jumat (23/4), semua pasukan Rusia sudah kembali ke barak masing-masing, kata Menteri Pertahanan Sergei Shoigu. Bersamaan dengan itu Moskow mengakhiri latihan militer di perbatasan Ukraina yang melibatkan puluhan ribu pasukan dan selusin kapal perang sejak beberapa pekan terakhir.

"Pasukan kami sudah mendemonstrasikan kemampuan mereka untuk menjamin pertahanan yang kuat,” katanya, sembari menambahkan penarikan mundur pasukan akan tuntas selambatnya pada tanggal 1 Mei. 

Pengumuman oleh Kemenhan Rusia tiba ketika Vladimir Putin mengundang Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky untuk berunding di Moskow. Dia menolak ajakan Zelensky untuk bertemu di kawasan timur Ukraina yang diduduki pemberontak pro-Rusia.

Putin menegaskan perundingan damai di Ukraina hanya bisa dilakukan antara pemerintah di Kiev dan kelompok pemberontak di Donetsk dan Lugansk, bukan dengan Rusia. Tapi di Moskow, kata dia, Zelensky akan disambut "kapan pun.”

"Jika Presiden Zelensky ingin mulai memperbaiki hubungan, maka kami tentu akan sambut dengan tangan terbuka,” tuturnya. 

‘Permainan' Vladimir Putin

Lewat akun Twitternya, Zelensky mengatakan "pengurangan jumlah pasukan di perbatasan kami berhasil meredakan ketegangan.”

Adapun NATO menilai "setiap langkah peredaan ketegangan oleh Rusia adalah penting,” kata seorang petinggi yang enggan disebut namanya. "NATO tetap waspada dan akan terus memantau penumpukan militer Rusia di dalam dan di sekitar Ukraina.”

Timothy Ash, analis pasar di Bluebay Asset Management, London, menilai Putin "sedang bermain” dengan Ukraina, menyusul keengganan pemerintah Kiev menerima negosiasi langsung dengan kelompok separatis.

"Semua orang faham bahwa ini adalah konflik antarnegara, tapi Putin berusaha mengesankan ini adalah perang saudara di Ukraina,” kata dia.

Kiev melaporkan seorang serdadu kembali tewas ketika "angkatan bersenjata Rusia” membombardir posisi pertahanan Ukraina, Kamis (22/4).

Sepanjang tahun ini, Ukraina telah kehilangan 30 tentaranya dalam serangan artileri Rusia di perbatasan. Tahun lalu jumlah totalnya mencapai 50 angka kematian.

Ketegangan meningkat di Laut Hitam

NATO sebelumnya mewanti-wanti agar Rusia tidak memicu perang terbuka dengan memobilisasi militer di perbatasan Ukraina. Terakhir, penumpukan pasukan dalam jumlah besar di perbatasan Ukraina mengarah pada invasi Rusia di Semenanjung Krimea pada 2014.

Pekan ini Uni Eropa memperkirakan jumlah pasukan Rusia yang ditempatkan di sepanjang perbatasan Ukraina melebihi angka 100.000 personel.

Menhan Rusia, Shoigu, sebaliknya mengklaim mobilisasi militer hanya bertujuan untuk latihan, sebagai reaksi atas aksi NATO "yang mengancam” kedaulatan Rusia. Dia antara lain merujuk pada latihan perang raksasa, Defender Europe 2021, yang melibatkan 28.000 pasukan dari 27 negara di 30 lokasi yang fokus pada kawasan Laut Hitam.

Moskow mengatakan 10.000 pasukan dan lebih dari 40 kapal perang ikut berpartisipasi dalam latihan di Semenanjung Krimea. 

Pekan lalu Rusia juga mengumumkan rencana menutup sebagian wilayah Laut Hitam untuk kapal asing selama enam bulan, terhitung mulai Sabtu (24/4). Langkah ini diyakini bisa menyusutkan akses dari dan ke arah pelabuhan Ukraina di Laut Azov, yang terhubung ke Laut Hitam via Selat Kerch.

Perang di timur Ukraina berkecamuk sejak 2014, dan sejauh ini telah menewaskan lebih dari 13.000 orang.

rzn/vlz (afp, rtr)

Penumpukan pasukan Rusia di sekitar perbatasan Ukraina dan Laut Hitam
Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait