1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Rusia Tetap Diperlukan Sebagai Mitra

15 Agustus 2008

Konflik di Kaukasus berkembang menjadi sengketa diplomasi antara Amerika Serikat dan Rusia. Retorika perang dingin makin lantang. Jerman diharapkan bisa jadi penengah.

Kaukasus Konflikt August 2008 US Flaggen werden von Georgiern getragen
Warga Georgia mengibarkan bendera Amerika Serikat dalam aksi protes terhadap RusiaFoto: AP

Mengenai perkembangan konflik di Georgia, harian Italia La Reppublica menulis:

"Hari-hari perang, kerusakan dan kematian yang mengenaskan adalah juga hasil dari perbedaan pandangan dan sikap tidak konsekuen Eropa dan Amerika Serikat. Barat ingin menentang politik Rusia, tapi tidak punya cara dan juga alasan yang tepat untuk bertindak. Masalah mendasar konflik ini adalah: Amerika Serikat dan juga Eropa sedang resah melihat bangkitnya Rusia yang dengan cerdik menggunakan kekayaan bahan mentahnya sebagai instrumen politik. Rusia juga sedang mengubah haluan politik yang dulu dirintis Boris Jelzin ketika ia berorientasi ke Amerika Serikat. Padahal Barat sebenarnya perlu dukungan Rusia menghadapi berbagai gejolak internasional. Namun kerjasama ini sekarang tidak akan mudah dibangun."

Harian Inggris Times berkomentar:

"Rusia dan Amerika Serikat perlu meninjau kembali dasar hubungan mereka. Menteri luar negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice benar ketika menarik kesimpulan bahwa tindakan brutal Rusia harus dijawab dengan isolasi. Mungkin saja Rusia berpendapat, tindakan petualangannya itu tidak perlu dikonsultasikan dengan dunia internasional. Tapi kesejahteraan Rusia pada jangka panjang tergantung pada partisipasinya di jaringan kerjasama internasional seperti di G8 dan integrasi ekonominya dalam jaringan dagang internasional. Rusia harus memutuskan, apa yang lebih penting baginya: memperkuat posisi di Kaukasus atau memperkuat posisi di kancah internasional."

Harian Jerman yang terbit di kota Köln, Kölner Stadt Anzeiger dalam tajuknya menulis:

"Retorika perang dingin sekarang kembali ramai digunakan. Ini mungkin ada hubungannya dengan kerinduan untuk punya gambaran jelas tentang siapa musuh siapa kawan. Memang, Rusia sekarang bersikap dominan terhadap tetangga-tetangga kecilnya, sama seperti di era Uni Soviet. Tidak ada alasan untuk bersikap lunak menghadapi reaksi Rusia. Namun berbeda dengan era perang dingin, Rusia bukan hanya lawan, melainkan harus juga menjadi mitra, jika berbagai masalah global ingin diselesaikan. Rusia tidak dapat dihentikan dengan cara-cara militer. Dunia sekarang sudah lebih kompleks. Setiap konflik perlu diselesaikan lewat perundingan, juga dengan Rusia."

Harian Jerman lain, Frankfurter Rundschau menyoroti peran Jerman sebagai penengah, berkaitan dengan pertemuan kanselir Merkel dengan presiden Rusia Medvedev hari Jumat (15/08) di Sochi. Harian ini menulis:

"Baru saja senjata berhenti menyalak di Kaukasus, perang kata-kata makin keras dan gencar. Kanselir Merkel sekarang perlu kepiawaian diplomatik dalam pertemuannya dengan presiden Medvedev di Sochi. Citra Merkel sebagai pembela hak asasi bisa saja jadi alasan kuat untuk konfrontasi. Tapi realita politik saat ini menuntut nada-nada moderat. Jika Merkel melakukannya, belum tentu semua kalangan di Eropa dan  sahabatnya George W Bush akan senang." (hp)