Seiring Israel dan Amerika Serikat melanjutkan perang melawan Iran, kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat meningkat. Serangkaian serangan terbaru menewaskan sedikitnya lima warga Palestina.
Pasukan Israel sering kali ikut campur di pihak pemukim saat terjadi perselisihanFoto: Nasser Ishtayeh/ZUMA/IMAGO
Iklan
Kelompok hak asasi manusia dan para pengamat internasional memperingatkan lonjakan terbaru kekerasan oleh pemukim Israel terhadap warga Palestina dan properti mereka, ketika perhatian diplomatik dan media teralihkan oleh perang melawan Iran. Sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, para pemukim telah menewaskan lima warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki.
“Di bawah bayang-bayang perang, kerja sama antara militer dan milisi pemukim Israel semakin memperdalam pembersihan etnis di Tepi Barat,” tulis kelompok hak asasi Israel B’Tselem di media sosial pada 6 Maret, menjelang laporan yang dirilis Senin tentang pembunuhan beberapa warga Palestina.
Menurut B’Tselem, para pemukim sengaja menggembalakan ternak di ladang yang ditanami warga Palestina, merusak tanaman dan persediaan makanan, mencuri ternak, serta merusak panel surya dan tangki air.
Setelah penembakan terbaru pada hari Minggu, European External Action Service (EEAS) dalam sebuah pernyataan mengatakan bahwa “tingkat kekerasan di Tepi Barat tidak dapat diterima.” EEAS juga mendesak otoritas Israel untuk “segera mengambil tindakan efektif guna mencegah serangan lebih lanjut terhadap warga Palestina dan memastikan adanya pertanggungjawaban.”
Perang Israel melawan Iran menempatkan warga Palestina di jalur tembakan balasan roketFoto: Issam Rimawi/Anadolu/IMAGO
Serangan pemukim Palestina meningkat
Selama 10 hari pertama perang terhadap Iran, kelompok hak asasi Israel Yesh Din mendokumentasikan 109 insiden kekerasan terpisah oleh pemukim terhadap warga Palestina di 62 komunitas, termasuk penembakan, penyerangan fisik, perusakan properti, dan ancaman.
Iklan
Pada 2 Maret, dua hari setelah perang dimulai, dua saudara Palestina tewas ketika mereka mencoba mencegah pemukim Israel merusak kebun zaitun di Qaryut, sebuah desa kecil di Tepi Barat utara.
Mohammed Taha Muammar ditembak mati bersama Fahim Taha Muammar.
Media The Times of Israel melaporkan bahwa tersangka penembak merupakan anggota pasukan pertahanan wilayah IDF yang dikenal dengan akronim Ibrani Hagmar. Unit ini biasanya terdiri dari pemukim yang bertugas sebagai tentara cadangan.
Sebuah keluarga Palestina berbuka puasa Ramadan di samping puing-puing rumah yang dihancurkan oleh pasukan IsraelFoto: Wisam Hashlamoun/Anadolu Agency/IMAGO
“Keamanan dan stabilitas”
Pada 7 Maret, seorang pemukim menembak dan membunuh Amir Muhammad Shanaran (28) serta melukai kritis saudaranya Khaled di Wadi A-Rakhim, wilayah South Hebron Hills. Sebuah video yang beredar dari B’Tselem menunjukkan seorang pemukim bersenjata yang tampak mengenakan seragam militer di lokasi kejadian.
Kelompok hak asasi Palestina dan Israel telah mendokumentasikan kerja sama erat antara pemukim dan militer Israel, dengan tentara sering kali gagal menegakkan hukum yang dirancang untuk melindungi warga Palestina dari kekerasan pemukim. Sebagian kekerasan juga dilakukan oleh tentara cadangan yang berasal dari permukiman Israel dan ditempatkan di Tepi Barat. Unit-unit tersebut serta unit penjaga privat dalam beberapa bulan terakhir diketahui beroperasi secara terbuka melawan warga Palestina.
Serangan mematikan ketiga terjadi pada Minggu dini hari di Abu Falah, sebuah desa dekat Ramallah. Penduduk desa mengatakan mereka mencoba menghentikan sekelompok warga Israel bertopeng yang merusak pohon zaitun di ladang sekitar desa.
Puluhan pemukim bersenjata kemudian menyerbu desa dan menewaskan Thaer Faruq Hamayel serta Fara Jawdat Hamayel, yang keduanya ditembak di kepala, menurut layanan penyelamat Palestina.
Pasukan Israel tiba kemudian dan menembakkan gas air mata ke desa tersebut, menurut saksi mata. Seorang warga lain meninggal setelah mengalami serangan jantung yang kemungkinan dipicu oleh inhalasi gas, lapor Kementerian Kesehatan Palestina di Ramallah.
Komandan Komando Pusat IDF yang bertanggung jawab atas Tepi Barat, Avi Bluth, menyebut insiden itu “tidak dapat diterima.” Dalam pernyataannya ia mengatakan:
“Tidak akan ada toleransi bagi warga sipil yang mengambil hukum ke tangan mereka sendiri. Tindakan ini berbahaya, tidak mewakili rakyat Yahudi maupun Negara Israel, dan mengalihkan kita dari misi mempertahankan populasi serta menggagalkan terorisme, sekaligus merusak keamanan dan stabilitas di wilayah tersebut.”
Hingga saat ini belum diketahui apakah ada pelaku yang telah ditahan.
Proyek swasta terbesar dalam sejarah Palestina: Pembangunan kota Rawabi di Tepi Barat. Tak jauh dari situ berdiri banyak permukiman yang dibangun Israel untuk warga Yahudi. Sebuah harapan bagi terciptanya perdamaian?
Foto: Getty Images/AFP/A. Gharabli
Kota berbukit
Rawabi artinya bukit-bukit. Kawasan ini memang berada di atas perbukitan. Rawabi menjanjikan komunitas baru bagi keluarga Palestina untuk memiliki rumah modern dengan harga terjangkau. Di sekitar kota ini, banyak pemukiman yang dibangun Israel.
Foto: picture alliance/dpa
Kota baru di Tepi Barat
Berlokasi di kawasan yang tak putus dirundung konflik. Rawabi berada di antara Ramallah dan Nablus.Kota ini berjarak sekitar 25 km dari Yerusalem dan sekitar 9 kilometer dari Ramallah.
Proyek percontohan modern
Mulai dibangun pada 2010, secara bertahap, Rawabi akan menjadi sebuah kota lengkap dengan fasilitas perbelanjaan, sekolah, universitas, rumah sakit, pusat kebudayaan, restoran, ruang hijau, serta rumah-rumah ibadah.
Foto: picture-alliance/AP Photo/N. Nasser
Membangun komunitas baru
Tersedianya lapangan kerja, pendidikan, rekreasi dan lingkungan diharapkan menyokong pertumbuhan komunitas di sini. Keluarga Khateeb bersantai di teras apartment baru mereka, menyongsong masa depan baru. Kota ini bukan sekedar pemukiman, namun juga simbol 'aspirasi bernegara' setelah puluhan tahun pendudukan Israel.
Foto: picture-alliance/AP Photo/N. Nasser
Menyediakan ribuan unit rumah
Pada tahap awal, disediakan 5000 rumah bagi sekitar 25.000 penduduk. Rumah-rumah itu tersebar di 23 blok, masing-masing dengan estetika tersendiri. Semua kawasan didukung fasilitas modern yang indah termasuk parkir bawah tanah, taman bermain, trotoar dan toko-toko ritel. Konstruksi berikutnya dibangun untuk menampung lebih dari 40.000 warga.
Foto: Getty Images/AFP/T. Coex
Dari tradisional ke modern
Sejak dibuka jelang akhir tahun 2015, sudah lebih dari 1200 orang menempati unit-unit rumah di Rawabi.Apartment tersedia dalam jenis studio hingga unit keluarga. Tipe rumah semacam ini berbeda dengan budaya tradisonal Palestina yang biasa menempati rumah besar dengan didiami oleh keluarga besar dari berbagai generasi di bawah satu atap.
Foto: Ulrike Schleicher
Mengawinkan pemukiman dengan bisnis
Bintang film barat dan Arab terlihat dari jendela bar dan restoran. Di pusat kotanya dibangun ritel-ritel bisnis, hotel, bioskop dan lain-lain, yang didukung oleh teknologi terbaru dan jaringan internet berkecepatan tinggi. Sebagai kota swasta terbesar dalam sejarah Palestina, Rawabi akan memperluas hubungan ekonomi lokal dan global.
Foto: Ulrike Schleicher
Hiburan juga penting
Gambar artis legendaris Amerika Serikat, Marilyn Monroe tampak pada dinding sebuah bangunan pertunjukan yang dipersiapkan bagi warga. Sejumlah pusat hiburan dipersiapkan.
Foto: picture-alliance/AP Photo/N. Nasser
Theater terbuka
Ada pula theater terbuka ala Amphitheater Romawi yang bisa menampung ribuan pengunjung yang ingin datang menyaksikan pertunjukan.
Foto: picture-alliance/AP Photo/N. Nasser
Penasaran lihat dalamnya?
Ini ruang tamu salah satu apartment yang disediakan oleh pihak developer. paling tidak, mebel-mebel yang paling sering digunakan sudah tersedia di dalam rumah. Apakah cukup nyaman?
Foto: Getty Images/AFP/T. Coex
Serba modern
Seorang pria tampak berjalan di dalam sebuah apartment. Tampilan luar dan interior dalam tiap rumah terlihat sangat modern.
Foto: Getty Images/AFP/T. Coex
Mendorong investasi asing
Janina dari Ramallah bertanggung jawab urusan investasi. Perusahaan internasional, terutama di bidang berteknologi tinggi, kesehatan dan energi terbarukan terus dijajaki untuk diajak ambil peran penting dalam memperkuat kegiatan ekonomi di Rawabi, yang berencana membuka lebih dari 5.000 lapangan pekerjaan tetap untuk mendukung kualitas hidup jangka panjang.
Foto: Ulrike Schleicher
Perusahaan pengembang
Bayti Real Estate Investment Company, pengembang Rawabi, adalah perusahaan milik Qatari Diar dan Massar Internasional. Investasi di Rawabi diperkirakan akan melebihi volume satu miliar US Dollar.
Foto: Getty Images
Tokoh di balik pembangunan Rawabi
Bashar Al-Masri lahir di Nablus, Palestina. Menempuh pendidikan di Mesir dan Amerika, ia kemudian menjadi pengusaha yang sangat sukses. Pengusaha di balik pembangunan Rawabi ini berharap, kota baru Palestina itu akan mendekatkan orang-orang, termasuk pihak Israel sendiri. Theglobeandmail menulis, Masri melawan Israel bukan dengan peluru melainkan dengan bata.
Foto: Getty Images
Dibangun putra putri Palestina
Hanan Khalaf adalah seorang teknisi bangunan yang baru lulus kuliah dari Universitas Bir Zeit. Kini ia mengabdikan ilmunya untuk membangun kota baru Rawabi.
Foto: Ulrike Schleicher
Diserang dua belah pihak
Masri dan para investor lainnya menghadapi tekanan baik dari Israel maupun Palestina. Kelompok garis keras Palestina menganggap pembangunan ini hanya sebagai ilusi atas hubungan Israel dan Palestina, dimana meski kemajuan ekonomi akan tercapai, Israel masih tetap bercokol di Tepi Barat. Dari pihak Israel, problem utamanya: air.
Foto: Getty Images/AFP/T. Coex
Semua lengkap, kecuali air
Hampir 60 persen Tepi Barat, termasuk pemukiman, akses jalan, dll, berada di bawah administrasi Israel. Kebutuhan pasokan air di Rawabi sangat tergantung pada Israel. Setelah negosiasi alot, Israel menyetujui pasokan air untuk Rawabi. Pembangunan Rawabi sendiri bertahun-tahun banyak terhadang konflik Palestina-Israel.
Foto: picture-alliance/AP Photo/N. Nasser
Harapan baru
Meski pembangunan belum usai, ratusan keluarga sudah mulai bermukim di kota baru ini. Dengan tawaran modernitas dan harga rumah lebih murah dari di Ramallah, penduduk berharap dapat hidup normal. Hal yang sulit mereka peroleh di kota-kota Palestina lainnya. Penulis: Ayu Purwaningsih Editor: Agus Setiawan
Foto: picture-alliance/AP Photo/N. Nasser
18 foto1 | 18
Serangan dan pengusiran meningkat
Sejak serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 dan perang di Gaza, Perserikatan Bangsa-Bangsa serta kelompok hak asasi Palestina dan Israel mendokumentasikan lonjakan besar kekerasan pemukim terhadap warga Palestina di Tepi Barat, di mana setidaknya 45 komunitas telah dipaksa meninggalkan rumah mereka.
Pada 5 Maret, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) melaporkan bahwa delapan keluarga Palestina, sekitar 45 orang, terpaksa meninggalkan komunitas mereka di wilayah Nablus setelah serangkaian serangan dan ancaman dari pemukim di sebuah pos permukiman baru.
Permukiman dan pos permukiman Israel semacam itu dianggap ilegal menurut hukum internasional.
OCHA juga melaporkan bahwa sejak serangan terhadap Iran dimulai, lebih banyak pos pemeriksaan ditutup dan gerbang jalan menuju desa serta kota ditutup, yang secara serius membatasi kebebasan bergerak warga Palestina.
Dalam opini penasihat tahun 2024, Mahkamah Internasional (ICJ) menyimpulkan bahwa pendudukan berkepanjangan Israel dan proyek pembangunan permukiman sistematis di wilayah Palestina yang diduduki melanggar hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, serta menyatakan pendudukan tersebut ilegal menurut hukum internasional.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Yuniman Farid