1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Sosial

Relasi Berlin-Jakarta Menginjak Usia 25 Tahun

Sorta Caroline
22 Juli 2019

Ada yang berbeda dari kunjungan tahun ini, Jakarta tak sekedar bertandang ke Berlin, namun turut merayakan kerjasama mereka lewat acara kebudayaan di Classic Remise, Berlin.

Berlin | Veranstaltung zur Städtepartnerschaft Berlin-Jakarta
Foto: DW/S. Caroline

Classic Remise, tempat penyimpanan mobil tua-klasik di Berlin ini, menjadi tempat perayaan 25 tahun hubungan Berlin-Jakarta tanggal 19 Juli lalu. Luzie Marschke membuka perayaan lewat tariannya pada tiang vertikal.

Liuk tarian Marschke yang energik dan dinamik, bukan penampilan yang biasa ditemukan di Indonesia. Artis 19 tahun ini akan segera mendapatkan sertifikasi resmi dari Jerman atas spesialisasi tarian Contorsion-Air Ring and Vertical Pole.

Pertunjukan menari di tiangFoto: DW/S. Caroline

Berbeda dengan sajian personal Marschke, Jakarta menampilkan tarian grup Ondel-Ondel Manis kaya warna yang dibawakan grup tari D’JakFaro Entertainment. Jangan bayangkan ondel-ondel bertubuh besar dan bermata besar. Ondel-Ondel Manis ini ditarikan 4 wanita yang berayun luwes penuh senyuman.

Nuansa berbeda ditampilkan Nils Freyer lewat tarian ‘Afectos Humanos’ yang membawa kita ke Berlin pada era 1960-an. Penampilan Freyer selintas akan menarik ingatan kita akan tokoh antagonis Mephisto, pada karya Goethe, Faust.

Duduk di kursi penonton dua warna nampak kontras ditampilkan kedua ‘saudara’ ini. Berlin menyajikan kebebasan ekspresi individu dalam warna tunggal sedang Jakarta membawa pesan kebersamaan dalam balutan warna-warni. 

Selain tari, pagelaran busana juga ditampilkan. Kolaborasi penyanyi Jazz Syaharani, Craig Burton, dan Jazzville Band mengalun disela-sela fashion show dari tiga designer modern Indonesia. Merdi Sihombing dengan tampilan desain Ulos khas Sumut, Novita Yunus dengan Batik Chic, Linda dan Sarah dengan Culture Edge.  

Tarian Ondel-Ondel ManisFoto: DW/S. Caroline

“Acara menarik sekali, namun saya kurang mendapat pesan yang dalam,” ujar Terrence(46) seorang Berliner yang turut menyaksikan acara.

Tak Sekedar Seremonial 

“Substansinya tak hanya ingin saling kunjung dan seremonial tapi juga bisa saling mengembangkan (kedua) kota ini,” ujar Arif Havas Oegroseno, Duta Besar Indonesia untuk Jerman, saat ditanya seputar perayaan 25 tahun Berlin-Jakarta.

Sejak Mei 2019, ragam kegiatan telah dijalin kedua kota besar untuk mengembangkan dua ibukota menjadi ‘Kota Pintar’ lewat digital ekonomi-pengembangan Start-up, kompetisi olahraga(sepakbola dan badminton), seni, pertukaran kebudayaan, hingga pertukaran kantor aparatur pemerintahan. Namun sayang pertukaran kantor aparatur pemerintahan baru dilakukan satu arah, pegawai Berlin menetap dan bekerja di Jakarta untuk sementara waktu.

Syahrani dan Craig BurtonFoto: DW/S. Caroline

“Ada hambatan di sistem kepegawaian kita. Terus terang sistem kepegawaian masih mempersulit Pegawai Negeri Sipil untuk bekerja(menetap) di luar, kecuali dari Kemenlu atau yang ditugaskan,”jelas Havas Oegroseno lebih lanjut.

Menggali Potensi Berlin-Jakarta

Meski kini kedua kota menghadapi persoalan pada kualitas udaranya, keduanya positif terus terus jalin kerjasama dan gali potensi. Berdasar data dari Bidang Destinasi dan Pemasaran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, tahun lalu tercatat 54,067 turis Jerman berkunjung ke Jakarta.

Hari Wibowo, kepala bidang Destinasi dan Pemasaran DKI Jakarta, optimis angka tersebut stabil meski Jakarta menghadapi permasalahan polusi udara. Pulau Seribu, pertujukkan seni kelas Internasional, dan kenyamanan pusat perbelanjaan Jakarta, disebutnya sebagai opsi penarik minat turis asing.

Peragaan busana karya Merdi SihombingFoto: DW/S. Caroline

“Berlin selalu punya sesuatu yang baru dan Berlin adalah kota yang sarat dengan nilai sejarah. Otoritas di sini luar biasa dalam mengatur Industri pariwisatanya,” ujar Hari menjelaskan nilai plus dari Berlin yang bisa diterapkan dalam industri pariwisata Jakarta. Sedang Havas Oegroseno berharap Taman yang terintegrasi serta jalur sepeda yang memadai di Berlin bisa jadi rujukan untuk Jakarta.

“Kalau dari Jakarta sendiri yang bisa diterapkan di Berlin, adalah sistem pelayanan masyarakat lebih cepat. Manajemen kota dengan penduduk mencapai 18 juta lebih cepat dibanding Berlin. Ini jadi hal positif dari Jakarta yang bisa diterapkan disini dan jadi alasan pengiriman staff Berlin ke Jakarta,” jelas Havas Oegroseno.