Sambangi Prancis, Paus Leo Kuatkan Peran Eropa
24 September 2026
Prancis sedang dilanda demam Paus. Sebuah ironi kecil bagi negeri yang selama dua abad menegakkan jarak antara negara dan gereja. Sejak pemisahan itu ditegaskan pada 1905, sekularisme menjadi semacam tata krama publik di jantung Eropa. Namun beberapa hari ke depan, untuk sejenak, sekularisme mesti menepi dan memberi tempat bagi luapan spiritualitas umat Katolik.
Mulai Jumat (25/9) ini, Paus Leo XIV akan mengunjungi Prancis selama empat hari. Dia akan menyapa umat di Paris dan Metz, serta melawat ke tempat ziarah umat Katolik di Lourdes. Semua acara publik diwartakan telah penuh sejak beberapa pekan lalu. Di Paris saja, panitia memperkirakan sekitar satu juta orang akan memenuhi jalan-jalan pada Sabtu (26/9), bertepatan dengan misa akbar Paus di Place de la Concorde.
Estimasi jumlah pengunjung berkesan selaras dengan tren yang diklaim Gereja Katolik Prancis, bahwa angka pembaptisan orang dewasa meningkat secara tak terduga, dan minat terhadap iman kembali menguat.
"Paus tergolong populer, baik di kalangan umat Katolik maupun yang bukan,” kata ilmuwan politik Olivier Roy kepada DW. Menurutnya, sikap konfrontasi yang ditunjukkan Sri Paus terhqadap Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memberinya "wibawa moral yang menjangkau jauh melampaui Gereja Katolik.”
Paris bersiap hadapi lautan massa
Tak heran jika orang berduyun-duyun datang. Bagi 600 ribu orang yang telah memperoleh tiket, ruang telah disediakan sepanjang Champs-Élysées hingga Arc de Triomphe. Namun jumlah yang datang diperkirakan jauh lebih besar. Pemerintah bahkan telah mengumumkan penutupan sejumlah stasiun Metro secara bertahap. Di gereja-gereja dan bangunan milik gereja, terpampang potret besar Paus dan bendera Vatikan. Bagi aparat keamanan, kunjungan Sri Paus menjadi tantangan.
Bagi politik Prancis, negeri yang dalam waktu kurang dari enam bulan akan menggelar pemilihan presiden, kunjungan ini juga bukan perkara sederhana. Kelompok kiri, kata Roy, "menghargai pribadi Leo, tetapi skeptis terhadap keterlibatan negara dalam mengatur penyambutannya.” Sebaliknya, kaum konservatif jauh lebih menyambut kembalinya Katolik di ruang publik. Namun mereka, misalnya, keberatan terhadap pertemuan lintas agama di Metz, yang dianggap menempatkan Islam sejajar dengan Kristen.
Ada pula satu batas yang tak bisa dilewati. Karena pemisahan ketat antara negara dan gereja, presiden Prancis tidak boleh menghadiri misa-misa besar yang terbuka untuk umum.
Bagaimanapun, kedatangan Leo sudah ditunggu sejak lama. Kunjungan kenegaraan Sri Paus ke Prancis terakhir kali berlangsung pada 2008. Saat itu Benediktus XVI (2005–2013) datang ke Paris dan Lourdes, kota ziarah yang termasyhur. Namun jumlah pengunjungnya lebih sedikit dibandingkan yang diperkirakan untuk kunjungan Leo kali ini.
Fransiskus (2013–2025) memang pernah datang ke Strasbourg pada 2014 dan Ajaccio, Korsika, pada 2024, dalam kunjungan sehari. Dia juga bermalam semalam di Marseille, kota pelabuhan di Laut Mediterania, pada 2023. Tetapi setiap kali, dia datang untuk keperluan lain, bukan lawatan resmi di Prancis.
Dan di Strasbourg, pidato mendiang Fransiskus di hadapan Parlemen Eropa dan Dewan Eropa justru meninggalkan kritik keras terhadap, yang dalam kata-kata Sri Paus, Eropa yang lelah.
Bapa Suci dan putri tertua
Dalam bahasa Gereja, Prancis dikenal sebagai "putri tertua Roma”. Sebutan itu merujuk pada awal kristenisasi di Eropa pada permulaan abad keenam. Sejak abad kedua Masehi, komunitas-komunitas Kristen pertama telah tumbuh di sana. Namun hubungan itu tidak selalu mendapat penghargaan dari Paus Fransiskus.
Menurut Olivier Roy, cara pandang para Paus terakhir terhadap Eropa tidak selalu sama. Yohanes Paulus II (1978–2005), katanya, masih memandang Kekristenan "terutama sebagai sesuatu yang bersifat Eropa”. Fransiskus lebih melihatnya sebagai sesuatu yang "bercorak selatan”. Dari situlah muncul "semacam sikap meremehkan terhadap Eropa”.
Leo, menurut Roy, menempuh jalan tengah. Dia adalah Paus yang berakar pada tarekat misionaris, bukan pada konferensi para uskup. "´Dia mengakui universalitas Gereja Katolik, tetapi pada saat yang sama mengakui bobot Eropa di dalam universalitas itu.” Meski demikian, Leo tetap membawa pesan pendahulunya.
Eropa dalam pandangan para Paus
Bagi Jörg Ernesti, sejarawan Gereja dari Augsburg sekaligus pakar kepausan, Eropa tetap "menjadi titik rujukan politik terpenting bagi para Paus sejak akhir abad ke-19”. Hingga kini pun, internasionalisasi lembaga Kristen di seluruh dunia tidak menghapus arti penting Eropa.
Ernesti menunjuk pada perubahan angka. Pada 1900, lebih dari dua pertiga umat Katolik dunia masih tinggal di Eropa. Kini jumlahnya sekitar 20 persen. Internasionalisasi itu, meski dengan jeda waktu, juga mengubah susunan Dewan Kardinal. "Dalam sejarah, orang Eropa selalu menjadi mayoritas di sana. Kini mereka hanya 39 persen.”
Selama empat hari kunjungannya, Leo dijadwalkan menyampaikan 15 pidato dan khotbah. Sebagian besar, seperti di Paris, ditujukan kepada masyarakat Prancis dan mereka yang memegang tanggung jawab politik. Dalam misa-misa besar dan di Lourdes, pesannya terutama diarahkan kepada umat Katolik di Prancis.
Namun perhatian terbesar tertuju pada sebuah pidato tentang Eropa yang akan disampaikan pada hari terakhir di Metz. Presiden Emmanuel Macron akan memberikan pengantar khusus sebelum pidato Leo. Judulnya: "Pada Akar-Akar Eropa untuk Perdamaian dan Persatuan.”
Metz sendiri bukan tempat tanpa ingatan. Kota yang pernah menjadi pusat Kekaisaran Karoling itu beberapa kali berganti bahasa dan kedaulatan sepanjang sejarah. Pernah menjadi Jerman, lalu kembali menjadi Prancis.
Dan ada satu nama yang menempatkan Metz di peta sejarah adalah Robert Schuman. Leo akan berbicara di Robert-Schuman Congress Center, yang mengambil nama negarawan tersebut. Schuman (1886–1963), lahir di Luksemburg dan mula-mula berkewarganegaraan Jerman, sebelum kemudian menjadi negarawan Prancis. Setelah bencana Perang Dunia II (1939–1945), dia termasuk yang sejak awal mendorong rekonsiliasi Prancis dan Jerman.
Schuman menghendaki Eropa yang baru dan bersatu. Pada 1958, dia menjadi presiden pertama Parlemen Eropa yang ketika itu baru dibentuk. Setelah wafat, dia dimakamkan di sebuah gereja kecil di salah satu daerah pinggiran kota Metz.
Bagi Leo, kata Roy, "Eropa adalah sebuah kesatuan nyata yang harus dipertahankan dan dikembangkan melampaui nasionalisme”. Sejak Perang Dunia II, itulah, menurut sang ilmuwan, "selalu menjadi pesan Gereja Katolik. Itulah pesan Schuman.”
Metz, yang dahulu menjadi "buah perselisihan dalam persaingan Prancis-Jerman”, dan sosok Schuman menjadi simbol yang kuat bagi pesan itu.
Roy pun menunggu: seberapa terbuka Leo akan berbicara di Metz ketika menyerukan penguatan Uni Eropa? Apakah dia akan mengkritik populisme dan nasionalisme, termasuk nasionalisme Katolik yang masih dapat ditemukan di Prancis? Sebab, kata Roy, para pendukung misa Latin lama tidak jarang merupakan "nasionalis identitas, atau bahkan orang-orang yang dekat dengan spektrum ekstrem kanan”.
Leo bertemu korban pelecehan
Tak ada perjalanan seorang Paus tanpa persoalan pelecehan seksual. Ketika Paus Benediktus mengunjungi Prancis pada 2008, dia tidak bertemu dengan korban kekerasan seksual di lingkungan Gereja Katolik. Padahal, hingga hari ini, Gereja di negeri itu masih berulang kali berhadapan dengan skandal baru dan baru terlambat mulai menghadapi masa lalunya.
Kini, pertemuan semacam itu masuk dalam agenda Leo di Lourdes.
Pada masa Benediktus dan Fransiskus, orang-orang yang diajak berbicara biasanya tidak disebutkan namanya. Sesekali muncul kesan bahwa akses kepada Vatikan datang dengan satu syarat untuk diam. Di Prancis kali ini, tujuh korban yang akan bertemu Leo telah lebih dulu berbicara bersama. Lima dari tujuh orang itu bahkan membuka nama mereka kepada publik.
"Dialog bukan berarti menyetujui,” kata mereka. "Diterima bukan berarti kami meninggalkan tuntutan kami.”
Persoalan itu tetap tinggal bersama Gereja. Di Prancis pun demikian. Dan di Prancis, persoalan itu tampaknya masih akan tinggal lama.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Ayu Purwaningsih