1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sanksi Baru AS Dapat Memicu Perpecahan Cina dan Iran?

28 Agustus 2026

Strategi AS untuk menekan Iran melalui sanksi ekonomi yang ketat berjalan beriringan dengan upaya meredakan ketegangan politik dan ekonomi dengan Cina.

Kapal tunda mengarahkan sebuah kapal tanker minyak mentah ke posisinya di dermaga impor minyak di Qingdao, Provinsi Shandong, Cina Timur
Pembelian minyak oleh Cina merupakan jalur kehidupan yang sangat penting bagi IranFoto: CHINATOPIX/AP Photo/dpa/picture alliance

Cina mengecam apa yang disebutnya sebagai "sanksi sepihak yang ilegal” setelah Amerika Serikat mengumumkan langkah baru untuk menutup seluruh sumber pendapatan potensial Iran.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin (24/08) menyebut paket tersebut sebagai "Hari H ekonomi” bagi Teheran dan memperingatkan bahwa pihak mana pun yang menjalin hubungan ekonomi dengan Iran akan menghadapi seluruh kekuatan sanksi Washington.

Cina merupakan mitra dagang utama Iran sekaligus penyokong penting perekonomian Teheran, terutama melalui pembelian minyak, serta kerja sama di sektor perbankan, teknologi, dan barang penggunaan ganda.

Saat ditanya apakah bank-bank Cina juga akan menjadi sasaran, Bessent menegaskan bahwa "tidak ada yang kebal terhadap sanksi AS.” Namun, menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden Cina Xi Jinping pada September, Washington juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap hubungan dagang Cina-Iran.

Sejumlah bank besar Cina masih aman

Sejauh ini, paket sanksi terbaru AS belum menyasar bank-bank besar Cina. Washington lebih memfokuskan langkahnya pada sekitar 60 entitas, individu, dan kapal di Cina daratan maupun Hong Kong yang dituduh terlibat dalam jaringan pendukung pengadaan teknologi nuklir dan rudal, operasi siber, serta perdagangan minyak yang menjadi sumber pemasukan Iran.

Cina membeli hingga 90 persen ekspor minyak Iran. Sebagian minyak tersebut diproses oleh kilang independen atau teapot refineries, yang kerap menggunakan perantara atau mengganti asal-usul produk untuk menghindari sanksi AS.

Pada Mei lalu, Kementerian Perdagangan Cina memerintahkan perusahaan domestik dan kilang-kilang independen untuk mengabaikan pembatasan AS yang menyasar sejumlah fasilitas tersebut. Menanggapi sikap Beijing, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa pembelian minyak Iran oleh Cina sama saja dengan "mendanai negara pendukung terorisme terbesar.”

Mahkamah Agung AS Nyatakan Tarif Trump Ilegal

01:33

This browser does not support the video element.

Manuver politik Cina di tengah ketegangan Iran

Pada Selasa (25/08), juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Lin Jian menegaskan bahwa kerja sama antara Cina dan Iran "selalu dilakukan dalam kerangka hukum internasional dan tidak boleh dicampuri atau diganggu.”

Beijing mempertahankan hubungan yang pragmatis dengan Teheran, sembari menggambarkan ketidakstabilan di Timur Tengah sebagai kegagalan kebijakan AS. Di saat yang sama, Cina berupaya menampilkan diri sebagai kekuatan global yang stabil dan bertanggung jawab serta menghindari kesan terlalu dekat dengan negara-negara yang kerap menjadi sasaran kritik Washington. Hubungan dagang yang kuat dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga mendorong Beijing untuk menjaga keseimbangan dalam berhubungan dengan para rival regional Iran.

Perkembangan di Timur Tengah dan paket sanksi terbaru AS diperkirakan menjadi salah satu topik pembahasan dalam KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Kirgistan pada 31 Agustus hingga 1 September. Presiden Iran Masoud Pezeshkian dijadwalkan menghadiri pertemuan tersebut. SCO merupakan organisasi yang berfokus pada keamanan Eurasia dan menjadi bagian dari upaya Cina memperkuat tatanan dunia multipolar sebagai penyeimbang pengaruh global AS.

Apakah Uni Eropa Takluk kepada Trump?

02:19

This browser does not support the video element.

Menurut William Yang, analis senior Asia Timur Laut di International Crisis Group, Cina terus memperdalam keterlibatan dan memperluas hubungan dengan negara-negara Teluk. Dalam konteks itu, Iran tetap menjadi mitra yang penting dan bermanfaat bagi Beijing, tetapi bukan mitra yang tidak bisa digantikan.

"Dalam beberapa hal, Cina mendapat manfaat dari keterlibatan berkelanjutan Washington dalam keamanan dan pertahanan regional, dan tidak berupaya menggantikan AS dalam hal tersebut,” kata Yang kepada DW.

Apakah pengaruh AS di Timur Tengah semakin memudar?

Namun, menurut Gu Xuewu, ilmuwan politik sekaligus Direktur Pusat Studi Global Universitas Bonn, rangkaian kegagalan militer AS selama perang Iran memunculkan keraguan terhadap payung keamanan yang selama ini ditawarkan Washington dan turut mengubah lanskap strategis di Timur Tengah.

"Dengan latar belakang ini, Beijing tidak akan menyerah pada tekanan AS untuk memutuskan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Iran atau membantu AS mempertahankan kehadirannya di Timur Tengah,” kata Gu kepada DW.

Sejak perang Iran pecah pada akhir Februari, Beijing secara konsisten mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik. Pekan ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lin Jian, mengatakan strategi "pembatasan ekonomi” yang ditempuh Washington tidak akan menyelesaikan krisis dan justru berpotensi memperburuk ketegangan di Timur Tengah.

"Cina tidak setuju dengan perilaku agresif AS di kawasan ini, dan bahkan lebih tidak bersedia menerima upaya AS yang menggunakan segala cara yang dimilikinya untuk menghalangi kerja sama antara negara-negara Arab dan Tiongkok di bidang energi, militer, sains, teknologi, dan perdagangan,” ujar Gu.

Meski demikian, Gu menilai Beijing tidak berminat terlibat dalam "pertempuran menentukan” dengan AS di Timur Tengah. "Cukup dengan memprovokasi AS agar melakukan kesalahan di Timur Tengah dan membiarkannya terus melakukan kesalahan-kesalahan selanjutnya tanpa campur tangan,” katanya.

Jamuan Makan Malam Trump bersama Xi Jinping

01:36

This browser does not support the video element.

Pertemuan Trump dan Xi jadi sorotan

Pada 2025, ketika AS berupaya menekan Cina melalui tarif dalam skala besar, Beijing merespons dengan ancaman pembatasan pasokan mineral tanah jarang. Langkah tersebut mendorong pemerintahan Donald Trump melunakkan posisinya.

Sejak itu, Trump berupaya menstabilkan hubungan dengan Cina, termasuk melalui pertemuan tingkat tinggi yang mendapat perhatian luas di Beijing pada Mei lalu. Presiden Cina Xi Jinping juga dijadwalkan berkunjung ke Washington pada September.

"Karena Beijing dan Washington sama-sama fokus mempersiapkan pertemuan puncak yang sangat dinantikan pada 24 September, saya tidak berpikir salah satu negara pun akan mengambil tindakan drastis terhadap Iran yang dapat membahayakan pertemuan tersebut,” kata William Yang.

Meski demikian, Yang menilai Cina akan tetap mempertahankan hubungan dasarnya dengan Iran dan siap melindungi kepentingan ekonominya apabila AS mulai menjatuhkan sanksi sekunder terhadap perusahaan-perusahaan Cina.

Profesor Gu Xuewu mengatakan Beijing kemungkinan akan membalas jika Washington menjatuhkan sanksi kepada perusahaan atau bank-bank besar Cina. Namun, menurutnya, langkah tersebut tidak akan membuat Cina mengorbankan rencana KTT dengan AS yang telah dipersiapkan melalui negosiasi panjang.

"Kita akan melihat Tiongkok dan AS berada di jalur bentrokan terkait isu Iran, meskipun mereka terlibat dalam diskusi yang ramah selama KTT antara Xi Jinping dan Trump,” kata Gu.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Levie Wardana

Editor: Ayu Purwaningsih

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait