Sanksi untuk Iran?
13 Januari 2006
Harian Belanda DE VOLKSKRANT menilai, menjatuhkan sanksi terhadap Iran harus menjadi salah satu pilihan.
"Bagi Jerman, Perancis, Inggris dan UE secara keseluruhan, independensi yang didemonstrasikan Iran sangat memalukan. Mereka membawa banyak prestise ke dalam perundingan dengan Iran, yang juga didukung AS walau pada awalnya sempat ragu-ragu. Tetapi semua usulan, kelonggaran dan imbalan yang dijanjikan agar Iran menjaga sikap, tidak bermanfaat. Sekarang UE harus menunjukkan bahwa politik soft power-nya juga punya substansi. Terutama para juru runding Eropa harus menjaga suara bulat di kalangan mereka sendiri. Dan semuanya harus dilakukan untuk menjatuhkan sanksi terhadap Iran."
PM Inggris Tony Blair mengatakan, bersama dengan negara-negara mitranya di Eropa, Inggris akan mengajukan sengketa program atom Iran ke DK PBB. Menanggapi pernyataan Blair, harian Italia CORRIERE DELLA SERRA yang terbit di Milan berkomentar:
"Keputusan Iran untuk melanjutkan program nuklirnya yang dihentikan pada November 2004 menunjukkan, adalah sia-sia melanjutkan perundingan dengan rejim di Teheran."
Bagaimana posisi negara-negara pemegang hak veto di DK dalam masalah Iran? Harian Perancis LA MONDE yang terbit di Paris berkomentar:
"Moskow memutuskan untuk menghindari eskalasi dengan mitra terdekatnya dan menawarkan jalan keluar: uranium untuk Iran diperkaya di Rusia. Tawaran ini tidak diterima dan juga tidak ditolak Teheran. Amerika yang sudah terjerat kesulitan di Irak tidak mau langsung membenturkan kepala dan menggunakan ancaman sanksi. Iran tampaknya tak terkesan dengan ancaman itu. Mungkin ia masih mengandalkan dukungan Rusia dan Cina, setelah kedua negara itu meragukan pandangan barat terhadap Iran. Inilah satnya untuk membuktikan bahwa mereka keliru dan jatuh ke dalam jebakan."
Sementara itu harian Inggris THE GUARDIAN berkomentar:
"Sekarang, Badan Energi Atom Internasional IAEA mungkin akan mengajukan masalah Iran ke DK, seperti yang dituntut Tony Blair. Apakah hal ini akan dilakukan atau tidak, apa yang menyusul kemudian tidak diketahui. Tapi jangan keliru, masalah Iran ini memiliki semua komponen yang dapat menjurus pada krisis yang serius. Satu-satunya yang menumbuhkan semangat adalah adanya kebersamaan dalam reaksi internasional terhadap keputusan Iran melanjutkan kembali program nuklirnya. Rusia, sekutu erat Iran, memutuskan untuk memprotes, begitu pula Cina yang punya kebutuhan besar akan energi. Ini berbeda dengan invasi ke Irak dulu, dimana AS dan Inggris terisolasi dari tiga anggota tetap Dewan Keamanan lainnya."
Harian Austria KURIER yang terbit di Wina mengingatkan agar barat menghadapi Iran dengan posisi yang jelas, dan bukannya histeria.
"Akan lebih baik lagi jika barat dalam konfrontasinya dengan Iran, menggunakan lebih sedikit histeria verbal, dan menenpatkan posisi yang lebih jelas. Persenjataan nuklir adalah hal yang harus dihindari, tetapi bukan dengan hanya menekan satu negara, melainkan dengan menggalakkan lagi pengurangan senjata nuklir di seluruh dunia. Jika ingin betul-betul bebas dari rejim di Teheran, Washington harus bertindak dengan memperhatikan waktu, karena yang dihadapi adalah para Mullah. Mereka megnacaukan ekonomi negaranya dengan nepotisme dan tak memberikan perspektif sedikitpun pada generasi muda. Barangsiapa ingin menjadikan Iran sebagai mitra bermain yang patut diperhitungkan di wilayah krisis Timur Tengah, harus menargetkan perubahan jangka panjang dan bukan letusan besar yang tak bersisa."