Satu dari Lima Anak Muda Berencana Tinggalkan Jerman
8 April 2026
Apakah tinggal di Jerman sangat baik? Banyak anak muda yang tidak sependapat. Generasi muda Jerman yang berusia 14-29 tahun mengatakan bahwa mereka sedang merencanakan pindah ke negara lain.
Studi berjudul "Jugend in Deutschland" atau "Kaum Muda di Jerman" yang baru-baru ini diterbitkan menunjukkan bahwa sekitar 21% anak muda Jerman berencana untuk meninggalkan Jerman, mencari kehidupan yang lebih baik.
Sebanyak 41% dari responden mengatakan bahwa mereka membayangkan pindah ke luar negeri untuk jangka waktu yang panjang.
Survei nasional dilakukan terhadap 2.012 orang berusia 14 hingga 29 tahun di Jerman dalam periode 9 Januari hingga 9 Februari 2026 oleh Datajockey Verlag.
Lalu, apa yang memicu tren ini? Para responden mengatakan mereka khawatir tentang keamanan ekonomi di Jerman, yang stagnan selama dua tahun terakhir.
Biaya sewa tempat tinggal yang meningkat, prospek karier yang lemah di tengah perkembangan AI, serta tekanan finansial yang berat yang membuat kaum muda semakin sulit menjadi mandiri, kata para responden survei.
"Hasil studi ini secara dramatis menunjukkan betapa besarnya tekanan dalam beberapa tahun terakhir yang berpengaruh terhadap kaum muda: stres, kelelahan, dan rasa putus asa yang semakin meningkat," kata Direktur Studi Simon Schnetzer.
Permasalahan politik
Terdapat juga pergeseran politik di kalangan Generasi Z Jerman ke arah ekstremisme. Laporan program berita "Tagesschau" Jerman menemukan bahwa 21% pemilih berusia di bawah 25 tahun memilih partai ektrem kanan: Alternative für Deutschland (AfD) dalam pemilihan negara bagian Rhineland-Pfalz baru-baru ini.
Sementara itu, partai sayap kiri, Die Linke, memperoleh 19% suara dari kelompok usia ini. Situasi politik negara tersebut dengan kebangkitan politik sayap kanan membuat banyak pemuda mempertimbangkan untuk meninggalkan negara ini.
Riff, seorang mahasiswa program magister studi sosial dan budaya dalam interview kepada DW mengatakan, "Saya rasa semua teman saya memikirkan hal ini terutama jika berasal dari kelompok ras tertentu atau jika termasuk dalam kelompok minoritas." Riff menambahkan, "Saya semakin khawatir, terutama karena banyak pekerjaan di bidang budaya, pekerjaan yang mendukung demokratisasi, kini sedang dihapuskan. Saya rasa fasisme sedang bangkit."
Riff pun merujuk pada meningkatnya popularitas partai sayap kanan (AfD) dan langkah-langkah yang diambil oleh Kanselir Friedrich Merz (CDU) serta mitra koalisinya untuk menenangkan para pemilih sisi kanan spektrum politik tersebut. "Mereka seolah-olah sudah mengambil langkah-langkah tertentu yang dijanjikan AfD, jadi saya sangat khawatir," katanya.
Namun, pertanyaan ke mana harus pergi tetap belum terjawab. "Saya tahu tidak mudah untuk bermigrasi."
Kondisi kesehatan mental yang semakin memburuk
Kondisi kesehatan mentaldi Jerman tampaknya semakin memburuk. Studi tersebut menunjukkan bahwa jumlah anak muda yang mengaku membutuhkan dukungan psikologis telah mencapai rekor tertinggi sebesar 29%. Angka tersebut bahkan lebih tinggi di kalangan perempuan muda (34%), mahasiswa (32%), dan kaum muda pengangguran (42%). Banyak peserta yang disurvei melaporkan bahwa mereka semakin sering memanfaatkan layanan konseling yang didukung Kecerdasan Buatan (AI) untuk mengatasi masalah pribadi.
Hal ini mungkin menjadi alasan bagi sebagian kaum muda untuk memilih gaya hidup yang berbeda di luar Jerman.
"Saya berada di Tokyo selama tiga bulan tahun lalu untuk program PhD dan saya benar-benar menyukainya, jadi saya mempertimbangkan untuk pindah ke sana tahun depan," kata Frederick, seorang mahasiswa hukum berusia 29 tahun dari Hamburg kepada DW. Namun, ia menekankan bahwa hal itu bukan karena uang. "Jerman memiliki pasar yang cukup baik bagi pengacara muda, jadi bukan karena peluang yang lebih baik atau semacamnya, tapi saya benar-benar menyukai gaya hidup yang berbeda. Suasana di sana sedikit lebih tenang, sedikit lebih bersih." Frederick juga menambahkan, "Secara umum, saya juga bisa mempertimbangkan tinggal di Wina, London, atau Paris."
Dalam hal ekonomi, Jerman tetap menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia berdasarkan nominal PDB, berada di bawah Amerika Serikat dan Cina.
Lalu, ke mana anak muda Jerman ini akan pindah? Menurut survei Destatis tahun 2024, Swiss menjadi tujuan utama disusul oleh Austria. Ibu kota Austria, Wina, secara konsisten masuk dalam daftar kota-kota paling layak huni di dunia, berkat layanan publiknya yang andal dan kualitas hidup yang tinggi.
Dalam survei Kualitas Hidup 2024 oleh Mercer, Wina menempati peringkat kedua di dunia, setelah Zurich. Negara-negara lain yang masuk daftar tersebut antara lain Amerika Serikat, Spanyol, dan Prancis.
Kaspar Ten Haaf sedang mempelajari bahasa Latin dan musik untuk menjadi seorang guru. Ia mengatakan kepada DW bahwa ia dapat memahami perasaan kaum muda yang tertarik dengan negara-negara seperti Austria dan Swiss. Ia juga memahami orang-orang dengan latar belakang migrasi yang merasa "tidak lagi merasa diterima seiring menguatnya partai-partai seperti AfD."
Ten Haaf merasa bahwa ketimpangan antar kelas sosial telah menjadi masalah yang semakin parah di Jerman dan berharap akan adanya perubahan ke arah yang lebih positif.
"Ada perbedaan yang sangat besar antara orang kaya dan miskin di Jerman. Kita mengenakan banyak pajak pada pekerja biasa, tetapi tidak pada kekayaan yang diwarisi orang kaya dari keluarga mereka," katanya.
"Kita benar-benar perlu mengenakan lebih banyak pajak pada orang kayadan mendukung para pekerja baik yang mengantarkan paket maupun yang bekerja di rumah sakit."
Untuk saat ini, Kaspar masih berencana untuk tetap tinggal di negara ini setelah menyelesaikan studinya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Ayu Purwaningsih