Sepuluh tahun sejak Brexit, Jerman dan Inggris kembali mempererat hubungan bilateral. Namun, stabilitas kerja sama kedua negara kini menghadapi ujian baru seiring Keir Starmer akan digantikan sebagai perdana menteri.
Perdana Menteri Inggris yang akan lengser Keir Starmer (kiri) dan Kanselir Jerman Friedrich Merz (kanan) tampak berdiri berdekatanFoto: Isabel Infantes/REUTERS
Di Berlin, kabar mundurnya Starmer membuat sebagian orang merasa cukup kehilangan. “Bagi pemerintah Jerman, Keir Starmer selalu menjadi mitra yang dapat diandalkan dan dekat dalam isu-isu kebijakan luar negeri, terutama yang berkaitan dengan Ukraina,” kata juru bicara pemerintah Stefan Kornelius pada Senin (22/6). Dan para politikus Jerman sangat menyadari bahwa Starmer-lah yang secara khusus berupaya membangun kembali hubungan dengan Uni Eropa (UE), terutama dengan Jerman, setelah Brexit.
Kini telah genap sepuluh tahun sejak Inggris menggelar referendum untuk keluar dari Uni Eropa. Ketika hasilnya diumumkan pada pagi hari tanggal 24 Juni 2016, gelombang kejut menyebar ke seluruh Uni Eropa, terutama di Jerman. Sedikit di bawah 52% pemilih memilih meninggalkan Uni Eropa, sementara 48% memilih tetap bertahan. Menteri Luar Negeri Jerman saat itu, yang kini menjabat sebagai Presiden Federal, Frank-Walter Steinmeier, menyebutnya sebagai sebuah “bencana”, sementara Kanselir saat itu, Angela Merkel, menggambarkannya sebagai titik balik yang sangat mendalam bagi Eropa.
Hanya sedikit orang di Jerman yang memperkirakan hasil seperti itu. Bagi sebagian besar politikus dan jurnalis, meninggalkan Uni Eropa beserta manfaat pasar tunggal Eropa tampak terlalu tidak masuk akal untuk benar-benar terjadi. Namun, kampanye Inggris untuk “merebut kembali kendali”, yang terutama dipimpin oleh Boris Johnson dari Partai Konservatif telah diremehkan secara serius, khususnya di Jerman.
Para pendukung Brexit juga ingin kembali mengendalikan kebijakan imigrasi. Dalam isu ini, Jerman memiliki arti penting bagi hasil referendum tersebut. Kebijakan perbatasan terbuka Merkel yang diterapkan pada September 2015 membuat para migran yang telah memperoleh kewarganegaraan secara otomatis juga memiliki hak untuk menetap di Inggris.
“Kebijakan migrasi merupakan faktor yang menentukan dalam keputusan Brexit,” kata Christophe Fricker dari University of Bristol di Inggris, yang telah banyak menerbitkan kajian mengenai Brexit. Namun, ia juga menambahkan, “Ironisnya, sejak Brexit, angka imigrasi justru kembali meningkat secara signifikan, hanya saja bukan lagi berasal dari Uni Eropa.”
Rishi Sunak terpilih menjadi perdana menteri ketiga Inggris tahun ini setelah Liz Truss mengundurkan diri, enam minggu setelah dia dilantik.
Foto: Kirsty Wigglesworth/AP/dpa
Rishi Sunak
Rishi Sunak terpilih menjadi perdana menteri baru Inggris dan berjanji menyatukan kembali Partai Konservatif setelah Liz Truss mengundurkan diri. Pria berusia 42 tahun itu menjadi perdana menteri termuda sekaligus pemimpin berdarah Asia pertama di Inggris dalam satu abad terakhir. Sunak tengah menghadapi krisis ekonomi dan politik, serta rentetan ancaman resesi dan kenaikan suku bunga.
Foto: Aberto Pezzali/AP/picture alliance
Liz Truss (2022)
Liz Truss mengumumkan pengunduran dirinya sebagai perdana menteri setelah mencetak rekor baru, yakni hanya 45 hari menjabat. Truss mengatakan bahwa jabatannya sebagai perdana menteri dimulai "pada saat ketidakstabilan ekonomi dan internasional melanda hebat," yang mengacu pada lonjakan inflasi, krisis energi global hingga perang di Ukraina.
Foto: Leon Neal/Getty Images
Boris Johnson (2019-2022)
Boris Johnson mengumumkan pengunduran dirinya pada bulan Juli lalu. Jabatan perdana menterinya digulingkan setelah menyusul sejumlah skandal dan pengunduran diri dari lebih 50 anggota parlemen dalam partainya sendiri. Pemerintahan Johnson menyaksikan sejarah penting keluarnya Inggris dari Uni Eropa pada tahun 2020.
Foto: Frank Augstein/AP Photo/picture alliance
Theresa May (2016-2019)
Theresa May resmi menggantikan David Cameron setelah referendum Brexit 2016 dan mulai menegosiasikan keluarnya Inggris dari UE. Dia mengundurkan diri setelah anggota parlemen menolak tiga RUU penarikan Inggris dari EU yang dia ajukan, di mana para pendukung garis keras Brexit di partainya sendiri memberikan terlalu banyak konsesi ke Brussels.
Foto: TOLGA AKMEN/AFP/Getty Images
David Cameron (2010-2016)
David Cameron telah membawa Partai Konservatif kembali berkuasa pada 2010. Partainya menang tipis dalam suara mayoritas pada tahun 2015, di mana dia dituntut untuk menindaklanjuti janji pengadaan referendum "penarikan" keanggotaan Inggris di UE. Cameron memilih untuk "tidak keluar" dan mengundurkan diri sehari setelah pemungutan suara, dengan sekitar 52% mendukung untuk "keluar."
Foto: Matt Dunham/AP Photo/picture alliance
Gordon Brown (2007-2010)
Gordon Brown merupakan perdana menteri Inggris yang meninggalkan kantor karena kalah dalam pemilu, bukan karena pengunduran diri ataupun pemberontakan. Brown mengambil alih kekuasaan setelah pengunduran diri Tony Blair setelah terjadi kehancuran finansial akibat perang Irak pada 2007. Brown kalah dalam pemilu 2010 dan mengakhiri periode 13 tahun pemerintahan Partai Buruh di Inggris.
Foto: Jane Barlow/dpa/PA/AP/picture alliance
Tony Blair (1997-2007)
Tony Blair berhasil memenangkan tiga kali pemilihan dan merupakan satu-satunya politisi Partai Buruh yang mengklaim kemenangannya selama hampir setengah abad. Atas inovasi wadah sentrisnya yang ia juluki "Buruh Baru", Blair menang telak pada tahun 1997 dan secara bertahap dukungan untuknya berkurang setelah satu dekade berkuasa. Perang di Irak menjadi dampak negatif terbesar sebagai warisannya.
Foto: Gretel Ensignia/AP Photo/picture alliance
John Major (1990-1997)
John Major menjabat sebagai perdana menteri Inggris setelah Margaret Thatcher mengundurkan diri usai menjabat selama hampir 12 tahun. Pemerintahan Major harus bergulat dengan krisis ekonomi besar dan pemberontakan dari anggota parlemen anti Uni Eropa di Partai Konservatif.
Foto: Mary Evans Picture Library/picture alliance
Margaret Thatcher (1979-1990)
Ketiga perdana menteri perempuan Inggris berasal dari Partai Konservatif. Meskipun kekuasaan Theresa May dan Liz Truss tidak berumur panjang dan sukses seperti pemilihan pertama Margaret Thatcher. Truss mengaku terinspirasi oleh Thatcher jauh sebelum ia menjabat, dan menghadapi situasi yang sama serta mengenakan pakaian yang mirip dengan Thatcher pada masa mudanya. (kp/ha)
Foto: Marcus Thelen/picture alliance
9 foto1 | 9
Perdagangan Jerman-Inggris merosot tajam
Setelah bertahun-tahun perundingan, Inggris secara resmi meninggalkan Uni Eropa pada 31 Januari 2020, tetapi baru pada 1 Januari 2021 negara tersebut benar-benar memutus seluruh hubungan dengan pasar tunggal dan serikat pabean Uni Eropa.
Iklan
Mungkin indikator terbaik mengenai apa yang telah berubah sejak saat itu adalah dampaknya terhadap perdagangan antara Jerman dan Inggris. Menurut Kamar Dagang dan Industri Jerman, perdagangan telah menurun secara signifikan sejak Brexit. Jika pada tahun 2016 Inggris merupakan mitra dagang terbesar kelima Jerman, kini posisinya turun menjadi peringkat kesembilan.
Namun, menurut Christophe Fricker, Jerman tidak hanya kehilangan mitra dagang yang kuat: “Yang kita kehilangan adalah mitra pertahanan yang kuat. Kini, justru isu pertahanan menjadi bidang utama di mana kerja sama mulai dibangun kembali. Dan tentu saja, kita juga kehilangan teman-teman. Dulu terdapat hubungan yang sangat, sangat erat, baik secara pribadi maupun di tingkat masyarakat sipil. Sekarang hubungan itu menjadi lebih sulit dan lebih jarang terjadi.” Ia menyayangkan bahwa bagi generasi muda Jerman, Inggris seolah “menghilang dari peta.”
Inggris kejutkan dunia dengan hasil referendum 23 Juni 2016 yang sepakat keluar dari Uni Eropa. Mulailah rentang waktu penuh kisruh, tarik uluk dan adu kekuatan politik di Eropa terkait Brexit.
Foto: picture-alliance/empics/Y. Mok
Juni 2016: Kehendak Rakyat Inggris
Hasil referendum yang diumumkan 24 Juni 2016, hampir 52 persen dari pemilih setuju, Inggris keluar dari Uni Eropa. Perdana Menteri Inggris saat itu, David Cameron dari partai konservatif menerima "kehendak rakyat Inggris, dan mengundurkan diri sehari setelah referendum..
Foto: picture-alliance/dpa/A. Rain
Juli 2016: Brexit berarti Brexit
Mantan Menteri Dalam Negeri, Theresa May gantikan posisi Cameron sebagai Perdana Menteri pada 11 Juli. Ia menjanjikan´Brexit berarti Brexit´. Sebelumnya, May diam-diam dukung kampanye Inggris tetap di Uni Eropa. Dia tidak secara jelas mengatakan kapan akan memulai pembicaraan diberlakukannya Pasal 50 Perjanjian Uni Eropa terkait masa dua tahun sebelum Inggris resmi keluar Uni Eropa.
Foto: Reuters/D. Lipinski
Maret 2017: Kami siap Berpisah
May tandatangani nota diplomatik untuk memulai Pasal 50, 29 Maret. Beberapa jam kemudian, Duta Besar Inggris untuk UE, Tim Barrow serahkan nota itu kepada Presiden Dewan Eropal, Donald Tusk. Inggris dijadwalkan keluar dari Uni Eropa 29 Maret 2019. Tusk merespon nota itu dengan komentar: “Kami sudah siap berpisah. Terima kasih dan selamat tinggal”.
Foto: picture alliance / Photoshot
Juni 2017: Perundingan Dimulai
Menteri Brexit, David Davis dan ketua jururunding UE, Michel Barnier memulai perundingan di Brussel pada 19 Juni. Perundingan pertama diakhiri dengan kesepakatan Inggris akan mematuhi aturan UE terkait sisa negosiasi. Tahap pertama membahas persyaratan keluarnya Inggris dan tahap kedua membahas hubungan UE dan Inggris pasca-Brexit.
Foto: picture alliance/ZUMAPRESS.com/W. Daboski
Juli – Oktober 2017: Uang, Hak-hak dan Irlandia
Tahap kedua perundingan dimulai dengan berfoto bersama tim Inggris yang terlihat tak siap. Perundingan gagal raih kemajuan terkait tiga masalah pasca-Brexit: Berapa banyak yang masih harus dibayar Inggris ke anggaran UE, bagaimana dengan hak warga negara UE dan Inggris dan apakah Inggris tetap dapat membuka perbatasan antara Irlandia dan Irlandia Utara.
Foto: Getty Images/T.Charlier
November 2017: May Tunjukkan Kemajuan?
Kemajuan baru terlihat setelah putaran perundingan ke-6 di awal November. Inggris setuju untuk membayar 57 miliar Euro atau sekitar Rp 900 triliun sebagai “biaya perceraian”. Awalnya May hanya mau membayar 20 juta, padahal UE telah menghitung biayanya sebesar 60 juta Euro. Laporan konsensi Inggris ini memicu kemarahan di kalangan politikus dan media pro-Brexit.
Foto: picture-alliance/dpa/S. Hoppe
Desember 2017: Maju ke fase ke-2
Para pimpinan dari 27 anggota UE secara resmi menyetujui “kemajuan yang cukup” itu untuk diteruskan ke fase kedua: transisi periode pasca-Brexit dan masa depan hubungan perdagangan UE-Inggris. Perdana Menteri Theresa May mengungkapkan kegembiraannya atas keputusan ini, sebaliknya Presiden Dewan Eropa, Tusk memperingatkan bahwa perindingan putaran kedua akan “sangat sulit.
Foto: picture-alliance/AP Photo/dpa/O. Matthys
September 2018: Tidak ada ceri untuk Inggris
Proposal May tidak berjalan mulus. Pada pertemuan puncak di Salzburg akhir September, para pimpinan UE sampaikan kepada May bahwa proposalnya tidak dapat diterima. Presiden Dewan Eropa,Tusk menyindir May lewat Instagram dengan postingan foto mereka yang sedang melihat sepotong kue: “Sepotong kue barangkali? Maaf, tidak ada ceri”. Ini sindiran bahwa Inggris cuma mau keuntungan sepihak dari Eropa.
Foto: Reuters/P. Nicholls
November 2018: Kemajuan di Brussel
Para pimpinan UE dukung draft kesepakatan perceraian serta deklarasi politis soal hubungan pasca-Brexit setebal 585 halaman. Draft ini dikecam habis anggota parlemen yang pro maupun kontra Brexit dalam perdebatan di Parlemen Inggris beberapa minggu sebelumnya. Menteri Brexit, Dominic Raab bersama dengan beberapa menteri mencoba memicu mosi tidak percaya di bulai Mei.
Foto: Getty Images/AFP/E. Dunand
Desember 2019: May Lolos Dari Mosi Tidak Percaya
Menghadapi oposisi yang sulit, May menunda pemungutan suara di parlemen pada 10 Desember. Besoknya ia bertemu Kanselir Jerman, Angela Merkel untuk mencari kepercayaan diri dalam meyakinkan para anggota parlemen yang skeptis kembali ke kesepakatan. Sementara ia pergi, anggota parlemen dari Partai Konservatif ajukan mosi tidak percaya. May menang mosi kepercayaan di hari berikutnya.
Foto: Getty Images/S. Gallup
Januari 2019: Kesepakatan ditolak
Kesepakatan Brexit May, ditolak Parlemen Inggris dengan 432 suara dan hanya 202 suara mendukungnya. Sebagai respon hasil tersebut, Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk sarankan agar Inggris tetap bertahan di Uni Eropa. Partai Buruh Inggris menyerukanmosi tidak percaya terhadap Perdana Menteri. Ini adalah tantangan berat dalam kepemimpinan kedua May dalam bulan-bulan terakhir.
Foto: Reuters
11 foto1 | 11
Kerja sama baru di bidang pertahanan
Sementara itu, kedua negara telah kembali mendekat selama beberapa waktu terakhir. Perdagangan Jerman-Inggris diatur oleh Perjanjian Perdagangan dan Kerja Sama Uni Eropa–Inggris (EU-UK Trade and Cooperation Agreement), sehingga tidak berada di tangan pemerintah satu negara anggota Uni Eropa saja.
Kunjungan kenegaraan Raja Charles selama tiga hari ke Berlin dan Hamburg pada Maret 2023 juga memainkan peran penting dalam hubungan bilateral pasca-Brexit. Dalam kunjungan tersebut, Charles menyampaikan pidato pertama seorang raja Inggris di Bundestag Jerman, yang sebagian disampaikan dalam bahasa Jerman.
Burnham dianggap pro-Jerman dan pro-Uni Eropa
Pemimpin kedua pemerintahan saat ini, Friedrich Merz dan Keir Starmer, berasal dari dua tradisi politik yang berbeda: Starmer dari Partai Buruh yang berhaluan sosial demokrat, sementara Merz berasal dari Uni Demokrat Kristen (CDU) yang berhaluan konservatif.
Namun demikian, Linn Selle dari Dewan Hubungan Luar Negeri Jerman meyakini bahwa keduanya memiliki banyak kesamaan: “Starmer sama pragmatisnya dengan Merz, dan keduanya dipersatukan oleh dukungan kuat terhadap Ukraina,” ujar Selle kepada DW. “Merz juga sangat dipengaruhi oleh tradisi Anglo-Saxon, mengikuti perkembangan Brexit dengan saksama, dan tentu ingin melihat hubungan politik yang lebih erat antara Inggris dan Uni Eropa.”
Namun kini Starmer dengan cepat menjadi bagian dari masa lalu. Meski begitu, ia masih dijadwalkan menghadiri pertemuan berikutnya dari Kelompok E5 (Jerman, Prancis, Inggris, Italia, dan Polandia) yang mendukung Ukraina, yang akan berlangsung pada Rabu (24/6) di Berlin.
Sementara itu, calon penggantinya yang paling mungkin, Andy Burnham, diperkirakan akan melanjutkan upaya membangun kembali hubungan dengan Uni Eropa. Burnham dikenal sebagai tokoh yang sangat pro-Eropa dan berulang kali mengkritik Brexit di masa lalu.
Selama masa jabatannya yang panjang sebagai Wali Kota Greater Manchester, Burnham juga mendorong pertukaran antara Inggris dan Jerman. Pada tahun 2021, ia menandatangani perjanjian dengan kawasan metropolitan Ruhr, kemitraan regional pertama antara kedua negara. Kemudian pada tahun 2025, bersama para perwakilan Jerman, ia membentuk berbagai kerja sama di bidang hidrogen, keamanan siber, dan kesehatan digital.
Mayoritas rakyat Inggris memilih hengkang dari Uni Eropa. Bagaimana reaksi mereka saat penghitungan hasil referendum ?
Foto: Getty Images/AFP/P. Faith
Lempar ciuman ke udara
Dari balik jendela mobil bertempel slogan Leave EU yang melintasi Parliament Square di London , seorang pria melemparkan ciuman ke udara setelah hasil referendum di Inggris menunjukkan hasil sementara, dengan suara mayoritas memilih hengkang dari Uni Eropa
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Dunham
Kubu Pro-Brexit Bergembira
Para pendukung ‘hengkang’ dari Uni Eropa alias Brexit bergembira merayakan kemenangan mereka. Mereka bersama-sama menyaksikan proses penghitungan suara di ibukota London.
Foto: picture alliance/AP Photo/S. Rousseau
Reaksi Nigel Farage
Inilah reaksi Nigel Farage, pemimpin UKIP yang mendukung Inggris meninggalkan Uni Eropa, atas hasil referendum.
Foto: picture-alliance/empics/S. Rousseau
Nonton bareng
Dengan antusias warga Inggris bersama-sama menyaksikan hasil referendum yang digelar hari Kamis (23/06) di seluruh pelosok negeri.
Foto: picture alliance/empics/S. Rousseau
Kubu Pro-Uni Eropa Kecewa
Sementara di lain pihak, para pendukung untuk tetap bergabung dengan Uni Eropa tampak kecewa dengan hasil penghitungan suara yang menunjukan bahwa kubu mereka asor dibanding pendukung Britain Exit alias Brexit.
Foto: Reuters/R. Stothard
Tidak puas
Kubu pro Uni Eropa atau 'Remain' yang memiliki slogan 'Britain Stronger in Europe' dalam kampanyenya, tampak tidak puas dengan hasil referendum.
Foto: Getty Images/R. Stothard
Hasil final
Hasil yang mendukung Brexit alias hengkangnya Inggris dari Uni Eropa ini merupakan pengumuman penghitungan suara final referendum bersejarah di Inggris.
Foto: picture-alliance/dpa/A. Delvin
Bursa bereaksi negatif
Pasar bursa bereaksi negatif atas hasil referendum Brexit ini. Nilai mata uang Pound langsung anjlok. Para pemimpin Uni Eropa masih menahan diri dan menunggu perkembangannya lebih lanjut.
Foto: picture-alliance/AP Photo/A. Young-joon
8 foto1 | 8
Belum ada rencana referendum baru soal Uni Eropa
Bagaimana hasil referendum untuk keluar dari Uni Eropa jika diadakan di Inggris saat ini? “Jajak pendapat belakangan ini telah berubah, dan mayoritas masyarakat kini tampaknya mendukung tetap berada di Uni Eropa; sebenarnya, opini publik sudah mengarah ke sana selama beberapa waktu dan tampaknya semakin menguat,” kata Christophe Fricker dari University of Bristol. “Banyak orang di sini yang akhirnya menyadari bahwa keluar dari Uni Eropa bukanlah keputusan yang baik dan justru merugikan mereka.”
Meskipun demikian, tidak ada satu pun politikus terkemuka dari partai-partai besar Inggris, bahkan Andy Burnham sekalipun, yang saat ini menyerukan diadakannya pemungutan suara baru mengenai isu tersebut. Karena itu, pemerintah Jerman harus menerima situasi ini untuk masa mendatang dan bersama pihak Inggris berupaya memperoleh hasil terbaik dari kondisi yang ada, selama masih terdapat pemerintahan di London yang bersedia melakukan hal yang sama.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman