1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

181108 Syrien Großbritannien

18 November 2008

Kunjungan Menlu Inggris David Milliband ke Damaskus menaikkan kembali nilai Suriah di mata internasional. Namun para pengkritik mengingatkan pelanggaran hak asasi manusia yang terus berlangsung di negara itu.

Baschar al-Assad hofft auf direkte Verhandlungen mit Israel
Presiden Suriah Bashar al-Assad.Foto: AP

Bagi Suriah, kunjungan itu merupakan satu langkah lebih lanjut untuk keluar dari isolasi barat. Pertemuan antara Presiden Bashar al- Assad dengan Presiden Perancis Nicolas Sarkozy musim panas lalu, juga komentar positif bagi terpilihnya presiden baru AS, merupakan isyarat bahwa Suriah bersungguh-sungguh untuk kembali ke panggung internasional.

Hal itu, bagi Menlu Inggris David Milliband, adalah kepentingan dunia internasional.

Milliband mengatakan, "Perlu dipahami bahwa Suriah sangat penting bagi stabilitas di Timur Tengah, positif atau negatif. Sejak 1,5 tahun lalu saya bicara dengan Menlu Suriah mengenai tanggungjawab Suriah di kawasan, menyangkut terorisme, Irak atau proses perdamaian. Sekarang ada peluang guna melanjutkan pembicaraan. Untuk itulah saya berada di sini.“

Suriah dicap AS sebagai pusat teror karena hubungannya dengan Iran, pengaruh besar Hisbullah secara politik dan militer di Libanon, juga terhadap Hamas di Gaza. Suriah berharap pada barat dan Barrack Obama untuk bersikap lebih terbuka terhadap negeri itu.

Itu juga dibutuhkan di dalam negeri karena 20 juta rakyat Suriah merasakan pahitnya sanksi yang dijatuhkan pemerintahan Bush. Mereka menyambut hubungan diplomatik yang membaik.

Termasuk pemuda Suriah ini yang mengatakan, "Saya pikir hebat, Suriah beralih dari penyebab masalah menjadi pemecah masalah. Ini penting sekali karena kami sudah letih. Cukup lama kami menderita di bawah boikot politik dan sanksi.“

Sementara pria Suriah yang sudah berumur ini mengatakan, "Kemiskinan dan kesenjangan semakin bertambah. Rakyat sudah muak. Kami butuh perdamaian, dengan semua tetangga.“

Suriah sudah lebih dulu berupaya. Pertama hubungan resmi dengan negara tetangga Libanon yang diduduki tentara Suriah selama hampir 30 tahun. Secara tidak langsung, perundingan dengan Israel yang diperantarai Turki, namun untuk sementara dibekukan karena krisis pemerintahan di Israel.

Ghayth Amanazi, pakar Suriah dari Liga Arab mengutarakan kepercayaan diri baru dari Suriah.

"Suriah paham bahwa barat serius dalam memandangnya sebagai kekuatan regional yang penting. Jika orang ingin berhasil dengan perdamaian dan stabilias di kawasan ini, orang harus bicara dengan Suriah", kata Amanazi.

Di dalam negeri, Presiden Bashar al-Assad terus memerintah dengan tangan besi, didukung dinas rahasianya. Hal ini diingatkan organisasi hak asasi Human Rights Watch kepada Menlu Inggris David Milliband yang tengah melawat ke Suriah.

Pendukung oposisi dihukum penjara hanya karena mereka menggunakan haknya untuk berbicara dan berkumpul. Lainnya dipenjara karena menuntut hubungan yang lebih baik antara Suriah dan Libanon.

Persis itulah yang diajukan Assad kepada barat, dan untuk itu Menlu Inggris memujinya, sementara para pejuang hak rakyat tetap mendekam di penjara. (rp)