1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Saudara Tua Sepakbola Asia

Andibachtiar Yusuf28 Oktober 2013

Jepang yang dulu pernah belajar sistem kompetisi Indonesia, perlahan menjadi penguasa Asia. Indonesia kini harus belajar sepakbola dari saudara tua, kata sutradara sekaligus penulis sepakbola Andibachtiar Yusuf.

Foto: AFP/Getty Images

“Kami adalah bagian dari dunia,” ujar Daisuke Oku saat timnya berhasil lolos ke babak 16 besar Piala Dunia di rumah mereka 11 tahun lalu. Gelandang serang tim nasional Jepang ini patut merayakan keberhasilan timnya lolos ke babak selanjutnya, setelah 4 tahun sebelumnya harus puas menjadi pelengkap grup. Pencapaian yang kemudian kembali mereka ulangi di Afrika Selatan 2010 sebelum dihentikan oleh Paraguay hanya dengan cara adu tendangan penalti.

Jepang lah yang terbaik di Asia,” ujar Akihiro Matsumoto saat saya bertanya secara berseloroh tentang “Siapa yang terbaik di Asia,” di sekitar bulan Desember 2011. Saat itu Jepang baru saja menaklukkan Australia di final Piala Asia di Qatar sekaligus menegaskan kekuatan mereka di dunia Sepakbola Asia. Pertanyaan itupun saya lontarkan di Museum Sepakbola di Tokyo, tempat dimana Jepang meletakkan segala memorabilia keikutsertaan mereka di turnamen terbesar dunia ini…”The mother of all summer!” tulis The Guardian setiap saat menjelang Piala Dunia bergulir.

Walau sejauh ini masih belum mampu lolos lebih jauh dari 16 tim terbaik di turnamen, Jepang berhasil menunjukkan pada dunia “Bahwa mereka adalah bagian dari dunia,” Inilah gagasan awal berdirinya J-League, liga professional di Jepang 2 dekade lalu, keinginan untuk melengkapi hegemoni mereka di dunia. “Kami telah memberi dunia banyak hal, budaya, teknologi, peradaban,” ujar Shinji Nakayama salah seorang pemain yang mengikuti liga di awal-awal berdirinya “Tapi kami belum memainkan Sepakbola dengan benar,” tegasnya. Sebuah keinginan untuk semakin mengesahkan eksistensi mereka dalam peradaban dunia modern.

Tak bisa dipungkiri bahwa negeri Matahari Terbit adalah salah satu negeri digdaya di dunia. Pengaruh mereka sangat luar biasa baik di sektor ekonomi riil, teknologi, pangan, perikanan, perbankan atau bahkan jasa periklanan. Siapa tak tahu bahwa produsen otomotif terbesar di dunia adalah Toyota, produsen elektronik ternama adalah Sony atau merk-merk lainnya yang terus menyerbu dunia dengan moda dan cara penetrasinya masing-masing.

Jepang memiliki nyaris segalanya, sampai saya akhirnya sadar saat pertama kali menjejakkan kaki di negeri itu 2 tahun lalu bahwa “Mereka memang tak butuh-butuh amat bahasa Inggris,” bahasa yang disebut sebagai gerbang pergaulan dunia seperti dinisbikan oleh bangsa di Timur Asia ini dengan kemampuan mendominasi dunia dengan cara mereka yang serupa dengan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa maju di dunia….menyerbu secara teknologi dan ekonomi.

Mereka pun menyadari bahwa segala yang mereka miliki itu masih minus satu hal penting yaitu…..Sepakbola. Inilah satu-satunya produk budaya dunia yang belum mereka kuasai dengan baik. Padahal Sepakbola adalah sebuah produk budaya yang dengan sederhana dan cepat mampu menyatukan seluruh dunia dengan sesaat.

“Sepakbola adalah budaya global modern yang akan terus berkembang,” ujar Eduardo Galeano seorang sastrawan asal Uruguay. Bagi Eduardo, Sepakbola adalah sebuah produk seni yang bernilai sama dengan karya seni lainnya “Orang menyebut Sepakbola sebagai sebuah permainan yang indah, bagi saya ia lebih dari itu karena Sepakbola telah menghasilkan banyak seniman. Bagi saya Sepakbola adalah sebuah hasil kebudayaan bangsa-bangsa dunia yang semakin modern,” jelas Eduardo lagi

Inilah mengapa Jepang begitu berambisi untuk menjadikan Sepakbola mereka berada dalam lingkup dunia. Dengan menguasai permainan ini dunia seolah sudah di tangan bangsa yang pernah menyebut dirinya Saudara Tua di Asia ini. “Karena kami sudah memiliki hampir semuanya dan satu langkah lagi maka Sepakbola kami sudah menguasai dunia,” tegas Naohiko Iyazaki seorang penggemar klub Kawasaki Frontale yang saya temui sekitar setahun lalu di sebuah pertandingan liga.

Kita mengenal bangsa yang pernah menginvasi Tanah Air ini sebagai bangsa yang tak hanya disiplin tapi juga beretos kerja sangat tinggi. Tak heran bahwa mereka melakukan riset luar biasa terhadap keberadaan Sepakbola. Penjuru dunia mereka telusuri untuk menemukan model yang tepat bagi bentuk kompetisi yang tepat untuk mereka. Indonesia yang praktis bukan negara Sepakbola pun mereka sambangi untuk melihat kompetisi semi profesional kita di pertengahan era 1980an dulu.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Shinji Kagawa adalah salah satu simbol sukses sepakbola JepangFoto: Toshifumi Kitamura/AFP/GettyImages

10 tahun melakukan penelitian, mereka lalu memulai liganya dengan sangat sederhana, mereka sadar bahwa sulit untuk segera menjadikan permainan ini sebagai permainan nomer satu di negeri tersebut. Lalu dimulailah kompetisi pertama mereka di tahun 1993 itu hanya dengan muatan 10 tim. Angka yang sangat minim untuk ukuran sebuah liga professional. “Saya rasa jumlah ini sama sekali tidak menggambarkan keinginan kami yang besar, justru sebaliknya, kami akan memulainya dari jumlah yang minim sampai akhirnya kami cukup mapan untuk membesar,” ujar Nakayama lagi yang kini menjabat sebagai salah seorang pejabat teras di J League.

Perusahaan besar lalu mendirikan klub Sepakbola, mayoritas saham dimiliki oleh perusahaan yang bersangkutan. Klub dijadikan sebagai bagian dari holding company induk-induk perusahaan tersebut dengan pendekatan yang juga profit oriented sama persis dengan banyak usaha atau bisnis lain di muka bumi. Model ini hampir sama dengan Galatama kita dulu atau dengan banyak klub di Eropa seperti Bayer Leverkusen, PSV Eindhoven, Wolfsburg dll.

Setiap klub juga wajib memiliki akademi dan tim muda sampai U12. Klub seperti Yokohama Marinos bahkan punya basis akademi pemain dari Kelompok Usia 4 tahun! “Jumlah mereka sekitar 3600 siswa yang akan mendapat beasiswa jika saat masuk kelompok usia diatasnya mampu menunjukkan prestasi yang baik,” ujar Direktur Humas Yokohama Marinos saat mengantarkan saya melihat-lihat Marinos City, pusat pelatihan klub milik raksasa otomotif Nissan ini.

Perlahan tapi pasti, liga mini ini terus berkembang dan basis massa penggemarpun terus bertambah. “Dari hari ke hari Sepakbola menjadi permainan yang semakin populer di negeri ini,” kisah Yudi Anwar seorang rekan yang lama tinggal di Tokyo. Ia menjadi saksi bagaimana permainan yang tadinya hanya bisa mendatangkan tidak terlalu banyak penonton ini dalam waktu singkat berhasil menjadi sangat populer. Lalu hanya 5 tahun yang mereka butuhkan untuk mencapai cita-cita setiap negara yang mengenal Sepakbola, lolos ke Piala Dunia.

Maka berangkatlah Negeri Matahari Terbit ini ke Perancis 1998 dan menjadikan debut mereka ini sebagai isyarat bahwa mereka akan bisa melakukan sesuatu 4 tahun selanjutnya di rumah mereka sendiri. Datang dengan para pemain professionalnya. Jepang sama sekali tidak membuat Asia malu, di tiga penampilan mereka di group, margin kekalahan hanyalah satu. Bahkan Argentina dengan Batistuta, Redondo dkk hanya mampu mencetak 1 gol ke gawang Shoji Jo dkk yang terus menerus disebut oleh para komentator sebagai “Selalu tersenyum walau gagal mencetak gol….tampaknya mereka sedang merayakan debut mereka di Piala Dunia,”

Dunia menyambut Jepang dengan ramah di peta Sepakbola dunia, hal yang juga terjadi pada Amerika Serikat saat pertama kali mereka datang ke Piala Dunia di era Sepakbola modern tahun 1990. Seolah dunia sudah siap bahwa peta persaingan akan bertambah oleh dua negara yang praktis sebenarnya tidak “menjadikan” Sepakbola sebagai permainan nomer satu di negaranya.

Dengan segala hasrat dan apapun yang mereka bisa, dua negara adidaya ini melengkapi segala hal yang telah menjadikan mereka bagian dari dunia dan pergaulannya. Industri, teknologi, hasil alam dan kemampuan lainnya kini seolah dilengkapi dengan Sepakbola yang diperhitungkan oleh dunia. Saat Samurai Biru nyaris menaklukkan Italia di Piala Konfederasi lalu, saya dan banyak rekan saya bagai terbelalak bagaimana Jepang telah memainkan Sepakbola modern dengan cara yang sangat sempurna melawan kekuatan mapan dunia bernama Italia.

Saya pernah melihat tim Jepang yang porak poranda diserbu oleh Ricky Yacob dkk di era 1980an, era dimana mereka masih bermain dengan cara amatir sementara kita sudah memainkan liga semi pro. Di pertandingan Pra Olimpiade 1988 itu, kita memang gagal menaklukkan mereka di kandang, namun level Sepakbola kita saat itu praktis berada di tingkatan yang sejajar dengan mereka. Sementara saat ini jelas ada beda yang sangat jauh antara kedua negara.

“Kita telah lama berhubungan dengan Eropa dan negara barat lainnya, sebagai bagian dari Asia sudah saatnya kita membagi teknologi Sepakbola yang kita punya pada bangsa lain di Asia,” demikian kira-kira tulis Company Profile J League yang kini memang tengah dalam upaya perluasan pengaruh Sepakbola mereka ke negara-negara di Asia lainnya. Seolah mereka tengah berupaya mencoba kembali “menginvasi” Asia setelah gagal melakukannya di tahun 1940an.

Lalu jelas kita harus menerima mereka dengan tangan terbuka, karena apa yang mereka punya dan ketahui memang jauh diatas mereka. Mereka tak hanya telah lolos ke Piala Dunia, melangkah cukup jauh atau telah mampu menaklukkan tim besar dunia. Tapi karena Jepang barangkali memang Saudara Tua kita, yang kini kembali dengan cara yang berbeda….cara Sepakbola.

@andibachtiar

Filmmaker & Football Reverend

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait

Topik terkait

Tampilkan liputan lainnya