1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kriminalitas

Saudi Akui Khashoggi Meninggal Akibat Perkelahian

20 Oktober 2018

Kematian wartawaan yang kritis kepada kerajaan Arab Saudi, Khashoggi akhirnya dikonfirmasi Sabtu (20/10). Pejabat senior Turki menyebutkan apa yang terjadi pada tubuh Khashoggi akan segera terungkap.

Dschamal Chaschukdschi
Foto: Getty Images/AFP/M. Al-Shaikh

Setelah dua minggu menyangkal kematian Khashoggi, baru hari Sabtu (20/10), pihak berwenang Arab Saudi mengakui kematian wartawan tersebut terjadi di dalam gedung Konsulat Arab Saudi di Turki dan menyalahkan kejadian tersebut akibat ‘perkelahian fisik.‘

"Pembicaraan antara Jamal Khashoggi dengan mereka yang ditemuinya di Konsulat Arab Saudi di Istanbul...berkembang jadi perkelahian fisik yang menyebabkan kematiannya," ungkap SPA, media Arab Saudi mengutip temuan investigasi awal yang dilakukan Riyadh tersebut.

Tim penyidik Turki telah melakukan penyisiran di hutan Belgrad, tak jauh dari konsulat Arab Saudi untuk mencari jenazah Khashoggi. Namun belakangan tak hanya di sana. Bagian tubuh Khashoggi juga dibuang di lokasi pedesaan di dekat kota Yalova, sektiar 90 km dari Istanbul, kata pejabat senior Turki.

Kepada KB Reuters, pejabat senior Turki yang identitasnya disembunyikan, menyebutkan tak lama lagi akan diketahui apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh Khashoggi. Sampel DNA Khashoggi disebutkan telah diperoleh para penyidikTurki, dan tidak perlu meminta ke Arab Saudi. "Kami akan mengetahui apa yang terjadi pada tubuhnya tak lama lagi," ungkap pejabat yang tak mau disebut namanya itu.

Kepolisian Turki juga memeriksa rekaman kamera pengawas yang mencek siapa saja yang memasuki dan meninggalkan gedung tersebut sebelum dan sesudah Khashoggi berada di sana. Turki menyebutkan tidak akan menutupi seluruh detail tentang kematian Jamal Khashoggidi konsulat Arab Saudi hampir tiga pekan lalu.

"Turki akan mengungkap apapun yang terjadi. Tak ada yang perlu meragukan hal itu," ungkap Omer Celik, politisi dari partai AKP, partai Presiden Recep Tayyip Erdogan. Dia juga menekankan akan menggunakan "segala cara yang tersedia."

Langkah "pembersihan" setelah kasus terungkap

Sejauh ini, Riyadh mengumumkan telah menahan 18 orang sebagai tersangka.  Dua diantaranya adalah orang terdekat dari Putra Mahkota Pangeran Salman.

Sejumlah organisasi mulai dari PBB, kementerian luar negeri dan media di Inggris, Sabtu (20/10) menyerukan hukuman bagi mereka yang memerintahkan dan melakukan pembbunuhan terhadap wartawan kritis Saudi tersebut.

"Akuntabilitas atas kejahatan ini tidak bisa ditawar. Saya mendesak pihak berwenang untuk melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap kejahatan ini dan membawa pelaku ke pengadilan," ungkap kepala UNESCO, Audrey Azoulay seperti dikutip dari AFP.

Sejumlah aktivis memakai pakaian yang menyerupai Pangeran Salman dan Presiden Trump mendesak pengungkapan kematian Khashoggi di depan Gedung PutihFoto: Getty Images/W. McNamee

Kenapa Khashoggi jadi target?

Tiga hari lalu, The Washington Post merilis tulisan komentar Khashoggi yang terakhir. Ia menyinggung tentang kebebasan berekspresi di dunia Arab.

"Dunia Arab saat ini menghadapi versi Tirai Besinya sendiri, bukan oleh pelaku eksternal tetapi melalui kekuatan domestik yang berlomba untuk merebut kekeuasaan," tulisnya dalam kolom tersebut.

Khashoggi menjadi pengungsi politik di Amerika Serikat, tak lama setelah Raja Salman menunjuk putranya kesayangannya, Mohammad sebagai Putra Mahkota, Juni 2017 lalu. Dulunya, ia sempat dekat dengan lingkar kerajaan dengan bekerja sebagai penasehat media untuk Kepala Intelijen Saudi, Pangeran Turki bin Faisal.

Dari negeri Paman Sam ia menulis bahwa Sang Pangeran, melakukan "pelanggaran” yang melawan tradisi kerajaan. Selama ini Pangeran Mohammad disebut sebagai pejuang reformasi sosial dan ekonomi monarki Arab Saudi. Namun bagi Khashoggi, reformasi itu justru dipertanyakan. "Saya pendukung reformasi dan harus hidup di pengasingan sekarang, karena saya tidak ingin berakhir di penjara," ujar Khashoggi kepada DPA tahun ini. "Muhammad bin Salman tidak memliki alasan untuk takut. Ada atau tidak ada oposisi di negara ini, tidak ada bedanya," katanya saat itu.

ts/as [DPA, Reuters, AFP]