Saudi Ultimatum Akan Bereaksi 'Tegas' Terhadap Houthi
15 September 2026
Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman melancarkan gelombang serangan baru terhadap Arab Saudi dan mulai memperkuat posisi mereka di sepanjang pantai barat Yaman di Laut Merah, tandas para pejabat Yaman.
Pada saat yang bersamaan, pembahasan mendesak berlangsung di Riyadh mengenai cara merespons kemajuan pesat pasukan Houthi tersebut.
Sementara itu, negara-negara Arab Teluk menunda pembicaraan yang telah direncanakan dengan Iran. Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah dapat meluas lebih jauh dan mengancam pasokan minyak dunia.
Pada hari Senin (14/09 , Houthi mengatakan bahwa mereka telah menembakkan puluhan rudal dan drone ke sebuah pangkalan udara militer di Khamis Mushait, wilayah selatan Arab Saudi.
Serangan tersebut menargetkan hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, dan depot amunisi sebagai pembalasan atas serangan udara Arab Saudi di Yaman.
Otoritas Arab Saudi mengeluarkan peringatan darurat di Khamis Mushait dan tiga kota lain di wilayah selatan. Koalisi pimpinan Arab Saudi yang berperang di Yaman mengatakan bahwa 13 warga sipil terluka dalam serangan Houthi tersebut.
Kemajuan Houthi dalam beberapa hari terakhir, termasuk penguasaan Pulau Perim di mulut Laut Merah, semakin menekan ekspor minyak Arab Saudi.
Tekanan itu terjadi setelah serangan udara pekan lalu menyebabkan jaringan pipa minyak Arab Saudi yang menghubungkan wilayah timur dan barat negara tersebut berhenti beroperasi. Riyadh menuduh milisi yang didukung Iran di Irak sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan terhadap jaringan pipa tersebut.
Arab Saudi membangun jaringan pipa sepanjang 1.200 kilometer melintasi wilayahnya, dari Teluk menuju Laut Merah, pada era 1980-an. Pipa tersebut dibuat untuk menghindari Selat Hormuz ketika jalur pelayaran tersebut berada di bawah ancaman akibat perang Iran-Irak pada masa itu.
Para pedagang mengatakan bahwa jika jaringan pipa Arab Saudi tersebut berhenti beroperasi dalam waktu lama, sebanyak 4% pasokan minyak dunia dapat terputus, sementara Selat Hormuz sebagian besar masih diblokade. Riyadh belum mengatakan kapan operasi jaringan pipa tersebut akan kembali normal.
Saudi dan Yaman meningkatkan serangan
Sebagai respons terhadap ofensif Houthi, angkatan udara Arab Saudi dan Yaman meningkatkan bombardir udara terhadap sasaran-sasaran Houthi, termasuk di sekitar pelabuhan bersejarah Mocha di Laut Merah. Namun, para pejabat dari pemerintah Yaman yang diakui secara internasional mengatakan bahwa Houthi tetap menguasai secara efektif hampir seluruh pantai barat negara itu di sepanjang Laut Merah.
"Houthi sedang mendapat tekanan berat. Sebaliknya, mereka juga semakin meningkatkan tekanan terhadap Saudi, dengan memperbesar kampanye serangan rudal dan drone mereka,” tandas salah seorang pejabat Yaman.
Harga minyak mentah naik lebih dari 4% pada hari Senin (14/09) sebelum akhirnya ditutup sekitar 1% lebih tinggi.
AS ragu turun tangan
Kembali berkobarnya konflik di Yaman menjadi tantangan lain bagi Presiden AS Donald Trump. Tiga sumber mengatakan kepada Reuters bahwa Washington sejauh ini menolak permintaan Arab Saudi untuk melakukan intervensi militer secara langsung, selain memberikan dukungan intelijen.
Trump mengatakan pada akhir pekan bahwa ia telah berbicara dengan putra mahkota Arab Saudi dan bahwa Houthi juga telah menghubungi Washington untuk mendesak AS agar tidak ikut campur dalam konflik tersebut.
Media pemerintah Arab Saudi melaporkan bahwa Putra Mahkota Mohammed bin Salman bertemu dengan Komandan AS untuk kawasan Timur Tengah, Laksamana Brad Cooper, di Jeddah pada hari Senin (14/09).
Arab Saudi telah memimpin koalisi yang memerangi Houthi sejak 2015. Namun, konflik tersebut sebagian besar mereda dalam beberapa tahun terakhir setelah diberlakukannya gencatan senjata. Pertempuran kembali berkobar bulan ini, ketika Houthi berhasil memukul mundur pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Harapan diplomasi memudar
Oman seharusnya menjadi tuan rumah pertemuan pada hari Senin (14/09) antara Iran dan negara-negara Teluk untuk membahas negosiasi yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz. Sebelum perang, jalur tersebut menjadi jalur transit bagi sekitar 20% ekspor minyak dunia. Namun, Oman mengumumkan bahwa pertemuan tersebut telah ditunda. Iran mengatakan penundaan itu dilakukan atas permintaan Arab Saudi.
Pada hari Senin (14/09), Trump kembali mengulangi klaim yang kerap disampaikannya bahwa Iran sangat ingin segera mencapai kesepakatan. Namun, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyebut pesan Trump sebagai sebuah pengalihan perhatian. Dalam unggahannya di X, ia mengatakan, "Tidak ada pembicaraan sampai persyaratan Iran dipenuhi.”
Ketidakpastian mengenai pelayaran di kawasan tersebut semakin terlihat setelah muncul laporan yang saling bertentangan mengenai bagaimana dan kapan sebuah kapal tanker minyak mengalami kerusakan.
Tanpa menyebutkan tanggal kejadian, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan bahwa kapal tanker minyak berbendera Panama, El Gaia, terkena ranjau laut ketika melintasi zona terlarang di sebelah selatan Selat Hormuz, demikian dilaporkan kantor berita Iran Fars.
Namun, Komando Pusat militer AS (CENTCOM) segera menyatakan bahwa laporan tersebut tidak benar. Menurut CENTCOM, kapal tanker itu "terkena rudal Iran bulan lalu dan menjadi tidak dapat beroperasi.”
Organisasi Maritim Internasional (IMO) di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa El Gaia mengalami kerusakan akhir pekan lalu, tetapi tidak menjelaskan penyebabnya. Organisasi tersebut juga mengatakan bahwa dua awak kapal masih hilang. Kantor berita Reuters belum dapat segera menghubungi pemilik kapal di Dubai untuk memverifikasi berbagai versi laporan tersebut.
Jalur pelayaran minyak paling penting di dunia itu sebagian besar telah ditutup sejak perang dimulai pada 28 Februari, setelah Iran mengancam kapal-kapal yang melintasi jalur tersebut tanpa izin dari Iran. "Angkatan Laut IRGC dengan tegas menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup dan masih berada di bawah kendali cerdas kami,” kata Garda Revolusi dalam pernyataannya.
Dikutip dari AFP, Houthi merebut ibu kota Yaman, Sanaa tahun 2014, pada awal perang saudara, sehingga memaksa pemerintah pindah ke Aden.
Setahun kemudian, Arab Saudi memimpin sebuah koalisi untuk turun tangan mendukung pemerintah Yaman. Koalisi tersebut melancarkan gelombang demi gelombang serangan udara ketika konflik semakin meluas dan berubah menjadi salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.
Badan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan pada hari Senin (14/09) bahwa kembali berkobarnya pertempuran di negara termiskin di dunia Arab tersebut telah memaksa 93.864 orang meninggalkan rumah mereka.
*Editor: Rizki Nugraha