Melalui tulisannya di X, SBY mengaku cemas soal kemungkinan terjadinya Perang Dunia III. Menurutnya, situasi jelang terjadinya Perang Dunia I dan II di masa lalu mirip dengan situasi yang terjadi saat ini.
SBY berharap analisisnya salah sehingga Perang Dunia III tidak terjadiFoto: Lukas Coch/dpa/picture alliance
Iklan
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kecemasannya atas dinamika geopolitik global beberapa bulan terakhir. Ia khawatir Perang Dunia ke-3 akan terjadi.
SBY menyampaikan pandangannya lewat akun X-nya, @SBYudhoyono, seperti dilihat detikcom, Senin (19/01). Ia mulanya menyinggung pengalamannya dalam mendalami geopolitik dunia puluhan dekade ini.
"Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini. Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga," kata SBY.
Ia menilai sangat mungkin konflik yang terjadi di dunia akan berujung pada Perang Dunia III. Dia menyebut pola yang terjadi belakangan sama seperti yang pernah terjadi pada Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945).
"Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia Pertama (1914-1918) dan Perang Dunia Kedua (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini," jelasnya.
"Misalnya, munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran termasuk penyiapan ekonomi dan mesin perangnya, serta geopolitik yang benar-benar panas. Sejarah juga mencatat, bahwa meskipun sudah ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, tetapi sepertinya kesadaran, kepedulian, dan langkah nyata untuk mencegah peperangan itu tidak terjadi," lanjut dia.
Foto-foto yang menjadi saksi dari "bencana awal abad 20" yang juga merupakan karya seni besar. Perang Dunia I seratus tahun lalu dalam warna.
Foto: TASCHEN
Dari Kota-Kota Yang Hancur...
Di masa Perang Dunia I, fotografi terutama digunakan untuk keperluan militer dan propaganda. Gambar menunjukkan pemandangan sungai Maas dan kota Verdun yang hancur. Di pihak Jerman, dalam musim gugur 1916, 400 orang diberi wewenang mengurus pengambilan gambar dari udara. Beberapa fotografer juga mengambil foto untuk keperluan pribadi, sehingga juga mendokumentasikan momen bahagia.
Foto: TASCHEN
... sampai Matahari Terbenam dalam Damai
Penerbit TASCHEN mempublikasikan dalam album foto berjudul "Der Erste Weltkrieg in Farbe" (Perang Dunia I dalam Warna) lebih dari 320 foto berwarna. Ini hasil kumpulan dari Eropa, AS dan Australia. Mereka mendokumentasikan peristiwa masa perang ini lewat fotografi. Mulai pergerakan pertama tahun 1914 sampai perayaan kemenangan di London, New York dan Paris, 14 Juli 1919 di Arc de Triomphe.
Foto: TASCHEN
Foto Berwarna - Sebuah Pembaharuan
Foto dibuat dengan teknik autochrom, yang digagas Lumière bersaudara tahun 1904. Partikel berwarna berukuran kecil menjadi filter warna, seperti halnya dalam fotografi digital jaman sekarang. Titik-titik warga memberikan gambar kesan seperti lukisan. Tampak pada foto kapal udara Alsace milik Perancis, yang ditembak jatuh 3 Oktober 1915.
Foto: TASCHEN/LVR LandesMuseum Bonn
Di Front
Karena cara pembuatan foto autochrom perlu waktu pencahayaan cukup lama, foto-foto kerap menunjukkan skenario yang dikomposisikan dengan sempurna, dan diambil dalam jarak dekat. Di lain pihak, orang juga dapat melihat kehidupan sehari-hari ketika itu dan kengerian yang harus mereka hadapi. Foto: kendaraan bermotor untuk mentranspor meriam sebagai pertahanan udara Verdun 1916.
Foto: TASCHEN
Imbauan Menyumbang
Ini foto gudang amunisi di Perancis. Foto diambil 1918 berdasarkan pesanan dari American Committee for Devastated France (1917-1924). Komite berusaha untuk mengurangi kesengsaraan anak pengungsi Perancis. Foto-foto ini digunakan, untuk memberi gambaran tentang perang kepada warga AS dan mengumpulkan sumbangan.
Foto: Collection Mark Jacobs
Dokumentasi Pribadi untuk Keluarga
Untuk pertama kalinya, foto masa perang juga diambil untuk kepentingan pribadi, untuk kenangan atau untuk ditunjukkan kepada keluarga, dan tidak hanya untuk kepentingan propaganda. Dalam militer Perancis, pengambilan foto secara resmi dilarang, tetapi peraturan ini rupanya tidak dikontrol. Foto: tentara dalam lubang perlindungan.
Foto: TASCHEN/LVR LandesMuseum Bonn
Perang dari Udara
Dalam Perang Dunia I, untuk pertama kalinya serangan dari udara berperan besar. Foto menunjukkan pesawat perang Perancis. Inggris dan Perancis awalnya punya jumlah pesawat terbang sama seperti Jerman. Pengamatan dari udara oleh Royal Flying Corps memberi sumbangan besar, sehingga pergerakan Jerman di daerah sungai Marne bisa dihentikan.
Foto: TASCHEN
Roda Panser Bergulir
Panser pertama digunakan di musim gugur 1916 oleh tentara Inggris, untuk mendobrak fron. Ini foto panser Inggris di daerah Péronne dekat Amiens, Perancis. Sekutu bisa menggunakan sekitar 6.000 panser hingga 1918. Di Jerman, senjata itu awalnya dianggap ringan. Baru di awal tahun 1918 panser "A7V" buatan Jerman mulai digunakan.
Foto: Collection Mark Jacobs
Kecepatan Perang
Perang Dunia I mendatangkan sejumlah senjata baru. Mulai dari panser, perang dari udara, hingga penggunaan gas beracun. Tetapi penggunaan alat bermotor membuat banyak hal mudah dilaksanakan. Orang yang cedera bisa diangkut cukup cepat ke tempat pengobatan medis. Misalnya dengan mobil ambulans dari tahun 1914.
Foto: TASCHEN
Karya Seni dan Saksi
Para pionir fotografi berhasil menyelamatkan lempengan autochrom selama perang. Foto-foto mereka tidak hanya saksi "Bencana Awal Abad ke-20", ini terutama karya seni besar. Sudah saatnya karya-karya ini dipopulerkan kembali.
10 foto1 | 10
SBY pun berharap analisisnya salah sehingga Perang Dunia III tidak terjadi. Namun, ia menekankan berdoa dan berharap saja tidak cukup menghentikan kemungkinan tersebut.
"Banyak studi yang mengatakan bahwa jika terjadi perang dunia, perang total dan perang nuklir, maka kehancuran dunia tak bisa dihindari. Korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 milyar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia. Tapi tidak cukup dengan doa satu, dua orang. Andaikata 8,3 milyar manusia penghuni bumi juga berdoa secara khusyuk, Tuhan tak begitu saja mengabulkan kalau manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak bekerja dan berupaya untuk menyelamatkan dunianya," ujar dia.
SBY berharap PBB tidak melakukan pembiaran
Atas kekhawatiran itu, SBY pun memberikan saran dan usulan. Ia menyinggung peran PBB.
Iklan
"Saran dan usulan saya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil inisiatif mengundang para pemimpin dunia untuk berembuk di Persidangan Umum PBB yang sifatnya darurat (Emergency UN General Assembly). Agendanya adalah langkah-langkah nyata untuk mencegah terjadinya krisis dunia dalam skala yang besar, termasuk kemungkinan terjadinya perang dunia yang baru," ujar dia.
SBY memahami PBB saat ini tidak berdaya. Namun, ia berharap PBB tidak melakukan pembiaran. "Saya tahu, boleh dikata saat ini PBB tidak berdaya dan tidak berkuasa. Tetapi, janganlah sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan juga doing nothing," imbuhnya.
Ia juga mengerti bahwa pendapatnya ini mungkin tidak akan didengar oleh banyak penguasa dunia. Meski begitu, ia yakin jika ada upaya maka akan ada jalan.
"Mungkin saja, seruan para pemimpin sedunia itu 'bagai berseru di padang pasir'. Artinya, tak akan diindahkan. Tetapi, mungkin juga itu awal dari kesadaran, kehendak, dan langkah-langkah nyata dari bangsa-bangsa sedunia untuk menyelamatkan dunia yang kita cintai ini. Ingat, if there is a will, there is a way," tutur dia.
Hitler menyerah tanpa syarat pada 8 Mei 1945, yang menandai berakhirnya Perang Dunia II di Eropa. Berikut monumen-monumen di Jerman yang memperingati beberapa lokasi peninggalan pembebasan oleh pasukan sekutu.
Foto: picture-alliance/dpa/Oliver Berg
Monumen Kamp Konsentrasi Dachau
Tanggal 29 April 1945, tentara AS membebaskan kamp konsentrasi di dekat München. Tahun 1965, sebuah monumen dibangun di kamp konsentrasi. Patung yang dibangun oleh seniman Yahudi, Nandor Glid, didirikan di tengah-tengah bekas Appelplatz pada tahun 1968 untuk memperingati para korban kekejaman Nazi. Korban Holocaust juga telah kehilangan banyak anggota keluarga di kamp-kamp konsentrasi.
Foto: picture-alliance/ImageBroker/H. Pöstges
Pertempuran Hutan Hürtgen
Pasukan AS bertempur dalam beberapa peperangan sengit melawan Nazi di Hutan Hürtigen dekat Aachen yang berlangsung pada musim gugur tahun 1944 hingga awal tahun 1945. Pertempuran ini juga diingat sebagai salah satu pertempuran yang paling lama di Jerman. Hutan Hürtigen sekarang menjadi bagian dari "Rute Pembebasan Eropa," sebuah jejak peninggalan pasukan sekutu.
Foto: picture-alliance/dpa/Oliver Berg
Jembatan di Remagen
Jembatan yang masih berdiri kokoh ini adalah jembatan kereta api di Remagen, selatan Köln. Jembatan ini berhasil dikuasai pasukan AS ditangkap pada 7 Maret 1945. Ribuan tentara AS mampu menyeberangi sungai Rhein untuk pertama kalinya, peristiwa ini dikenal sebagai "Keajaiban Remagen". Serangan bom Jerman akhirnya menyebabkan jembatan itu runtuh 10 hari setelahnya.
Foto: picture-alliance/dpa/Thomas Frey
Monumen Seelow Heights
Di timur, Tentara Merah Soviet melancarkan serangan besar terakhir pada 16 April 1945. Pertempuran Seelow Heights melibatkan sekitar 900.000 tentara Soviet dan 90.000 tentara Jerman. Peristiwa ini menjadi pertempuran Perang Dunia II terbesar di tanah Jerman – di mana ribuan nyawa melayang.
Foto: picture-alliance/dpa/Patrick Pleul
Museum Jerman-Rusia, Berlin-Karlshorst
Dalam kekacauan, para perwira dari angkatan bersenjata Jerman di Berlin-Karlhorst menandatangani penyerahan tanpa syarat pada 8-9 Mei 1945. Saat ini, Act of Surrender yang asli - tertulis dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Rusia, adalah koleksi utama museum ini. Peninggalan lainnya yang dipamerkan berfokus pada perang antara Nazi melawan Uni Soviet yang dimulai pada tahun 1941.
Foto: picture-alliance/ZB
Monumen Soviet War di Treptower Park
Besarnya ukuran monumen di Treptower Park sangat mengesankan. Monumen dan pemakaman militer memiliki area seluas 100.000 meter persegi. Monumen tersebut dibangun setelah Perang Dunia II untuk memperingati tentara Tentara Merah yang gugur dalam Pertempuran Berlin. Sepasang bendera Soviet terbuat dari granit merah yang berfungsi sebagai pintu masuk ke dalam monumen.
Foto: picture-alliance/ZB/Matthias Tödt
Konferensi Potsdam di Istana Cecilienhof
Setelah Nazi Jerman menyerah, kepala pemerintahan dari tiga pasukan sekutu bertemu di Istana Cecilienhof di Potsdam pada musim panas tahun 1945. Joseph Stalin, Harry S. Truman dan Winston Churchill memimpin delegasi yang dikenal sebagai Konferensi Potsdam. Konferensi ini bertujuan untuk membangun tatanan pasca-perang di Eropa dan memutuskan pembagian Jerman menjadi empat zona pendudukan.
Foto: picture-alliance/dpa/Ralf Hirschberger
Museum Sekutu
Bekas bioskop Angkatan Darat AS "Outpost" di distrik Zehlendorf telah diubah menjadi bagian dari Museum Sekutu. Museum ini mendokumentasikan sejarah politik dan komitmen militer dari Sekutu Barat di Berlin - merinci pendudukan Berlin Barat pada tahun 1945, pengiriman udara ke kota dan penarikan pasukan AS pada tahun 1994.
Foto: AlliiertenMuseum/Chodan
Istana Schönhausen di Berlin
Istana Barok Prusia ini adalah lokasi pembicaraan "Two Plus Four Agreement" pada tahun 1990 di antara Jerman dan negara-negara yang menduduki Jerman pada akhir perang, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet. Keempat negara tersebut melepaskan semua hak yang mereka miliki di Jerman, membuka jalan bagi penyatuan Jerman.