Video pendek di media sosial memicu sistem penghargaan otak sehingga pengguna sulit berhenti menonton. Peneliti menyebut ini bagian dari perlombaan teknologi merebut perhatian manusia.
Persaingan antarplatform digambarkan sebagai "pertarungan tanpa ampun untuk memperebutkan perhatian manusia"Foto: Pascal Deloche/Godong/picture alliance
Iklan
Bagi banyak orang, hari dimulai dengan satu gerakan sederhana: menggeser layar (swipe). Sebelum bangun dari tempat tidur, kita mungkin membuka TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts. Beberapa video berubah menjadi puluhan video. Beberapa menit berubah menjadi satu jam. Lalu, di hari-hari berikutnya, kita kembali untuk melakukan hal yang sama.
Para peneliti dari Universitas Bayreuth di Jerman meneliti fenomena ini, khususnya pada anak-anak dan remaja.
Tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal European Child and Adolescent Psychiatry tersebut menganalisis 42 studi yang melibatkan hampir 30.000 partisipan, sebagian besar merupakan remaja dan dewasa muda.
Yang menarik, para penulis meneliti aspek yang sering terabaikan dalam perdebatan publik, yaitu mekanisme kerja platform itu sendiri.
Jauh berbeda dari sekadar televisi di layar kecil
Para peneliti mengidentifikasi tiga karakteristik utama yang dimiliki platform video berdurasi pendek (short-form video/SFV): personalisasi algoritma, ketidakpastian akibat gulir tanpa akhir (infinite scroll), dan kebaruan akibat perpindahan video yang sangat cepat.
Iklan
Menurut mereka, ketiga fitur ini menciptakan lingkungan media yang berbeda dari televisi, video daring konvensional, maupun media sosial generasi sebelumnya.
Platform video pendek bekerja dengan cara yang berbeda. Algoritma terus-menerus memilih konten untuk pengguna, pengguna jarang perlu mengambil keputusan sendiri, dan pada dasarnya tidak ada titik berhenti yang alami.
“TikTok pada dasarnya berbeda dari televisi,” kata Aza Raskin, salah satu pendiri Centre for Humane Technology, kepada DW.
“Di balik layar TikTok terdapat sebuah superkomputer raksasa yang diarahkan langsung ke otak Anda. Sistem itu dilatih menggunakan perilaku tiga miliar manusia lainnya.”
Menurut Raskin, “ekonomi perhatian pada dasarnya adalah perlombaan menuju bagian paling primitif dari otak manusia.”
“Jika TikTok tidak berhasil menguasai waktu Anda, maka Facebook, Instagram, atau platform lain akan melakukannya.”
“Hal ini memicu pertarungan yang sangat sengit untuk memperebutkan perhatian manusia,” tambahnya.
Para followers mengikuti jejak selebgram mengunjungi sejumlah tempat wisata yang dikenal lewat tagar #instagramfamous. Mereka merusak tempat menakjubkan itu dengan meninggalkan sampah dan menghancurkan habitat alami.
Foto: instagram.com/publiclandshateyou
Dari #superbloom ke #poppynightmare
Usai musim dingin disertai hujan lebat, musim semi akhirnya muncul di California Selatan, AS. Momen yang tepat untuk melihat mekarnya bunga liar, namun sekitar 50.000 orang berbondong-bondong datang dan asyik berfoto. Mereka memetik, menginjak-injak bunga poppy, dan menghancurkan dengan meletakkan poster "bunga ini akan tumbuh lagi". Tidak perlu banyak merusak tempat-tempat keindahan alam.
Foto: Reuters/L. Nicholson
Ketika wisata alam menjadi viral
Dulunya menjadi tempat nongkrong warga setempat, namun kini spot yang menghadap ke Sungai Colorado dekat Grand Canyon, AS telah menjadi salah satu tempat paling instagramable. Terkenal di Instagram, membuat Horsehoe Bend dikunjungi jutaan turis setiap tahun. Area parkir kini sedang diperluas untuk mengakomodasi kerumunan wisatawan yang menyebabkan kemacetan lalu lintas di tempat terpencil.
Foto: imago/blickwinkel/E. Teister
Konsekuensi yang tidak diinginkan
Tak lama setelah fotografer Johannes Holzer memposting keindahan danau Barmsee di Jerman, foto tersebut langsung viral di Instagram dan mendorong banyak orang mengunjungi tempat itu. Dalam sebuah wawancara dengan radio Jerman Bayrischer Rundfunk, Holzer mengatakan jalan menuju danau saat ini terlihat seperti telah diinjak-injak oleh tentara. Kawasan danau juga dipenuhi sampah dan puntung rokok.
Sebuah kota kecil yang dikunjungi jutaan pengunjung
Sebuah desa kecil di Austria yang berpenduduk 700 orang viral di Instagram karena keindahannya. Desa ini menjadi terkenal dan didatangi 10.000 pengunjung per hari. Penduduk setempat mengeluhkan wisatawan yang berjalan ke rumah mereka untuk menemukan sudut terbaik untuk foto-foto. Mereka meninggalkan sampah, membuat film dengan drone yang menakuti burung, dan menghancurkan kedamaian dan ketenangan.
Playa Jardín di pulau Tenerife, Spanyol adalah tempat yang populer di kalangan fotografer yang membangun menara kecil dengan batu yang dikumpulkan dari pantai. Desain mereka mungkin menghasilkan bidikan yang sempurna, namun menara tersebut sebenarnya merusak ekosistem lokal. Laba-laba, serangga, dan kadal yang hidup di bawah batu itu kehilangan tempat berlindung.
Foto: Imago Images/McPHOTO/W. Boyungs
Jangan tinggalkan jejak
Organisme tanaman yang penting bagi kesehatan tanah akan tercabut ketika posisi batu-batu tersebut diubah. Hal itu lantas menyebabkan para pencinta lingkungan membongkar formasi batuan awal tahun ini dan memposting caption di Instagram dengan tagar #pasasinhuella, yang berarti "tidak meninggalkan jejak." Hanya beberapa hari setelah kampanye, Instagrammers sudah mulai membangun kembali menara batu.
Foto: Imago Images/robertharding/N. Farrin
"Popcorn" bukan untuk dibawa pulang
Alga mati di Pulau Canary, Spanyol ini menyerupai cemilan popcorn. Keunikannya memiliki daya tarik tersendiri di media sosial Instagram, sehingga membuat banyak orang berkunjung dan membawa ganggang pulang sebagai kenang-kenangan. Akibat ulah mereka, diperkirakan 10 kilogram "popcorn" menghilang setiap bulan. Sebagai tanggapan, Proyek Clean Ocean telah mulai berbagi foto seperti ini di Instagram.
Foto: Clean Ocean Project
Penduduk Islandia membalas
Lebih dari 10 juta gambar di Instagram, Islandia menjelma sebagai tujuan yang sangat populer. Untuk mendapatkan foto yang sempurna, banyak orang berkendara dan merusak pedesaan. Mereka duduk di gletser, berjalan di lumut, dan menerbangkan drone. Dewan turis Visit Iceland kini telah meluncurkan beberapa inisiatif yang mempromosikan contoh perilaku bertanggung jawab para wisatawan.
Foto: picture-alliance/E. Rhodes
Sikap main hakim sendiri
Akun Instagram Public Lands Hate You bertujuan untuk mempermalukan perilaku yang tidak bertanggung jawab. Akun itu memposting ulang foto orang-orang yang melanggar aturan, memicu sejumlah brand untuk memutuskan hubungan dengan beberapa influencer dan bahkan menyebabkan penyelidikan dari layanan taman nasional AS. Tetapi akun ini juga menuai kritik karena menyebut orang tanpa persetujuan.(ha/vlz)
Foto: instagram.com/publiclandshateyou
9 foto1 | 9
Dopamin: Mesin di balik scroll tanpa henti
Para ilmuwan telah lama memahami bahwa pengalaman yang sangat memberi penghargaan (rewarding) akan mengaktifkan sistem penghargaan di otak. Video berdurasi pendek sangat efektif untuk memanfaatkan sistem tersebut.
Anna Lembke, profesor madya psikiatri di Stanford University School of Medicine sekaligus penulis buku Dopamine Nation, mengatakan kepada DW bahwa SFV menggabungkan beberapa karakteristik yang membuatnya sangat menarik.
“Gambar bergerak sendiri sudah seperti catnip bagi otak mamalia,” katanya.
“Video berdurasi pendek merupakan bentuk yang lebih kuat, sehingga lebih membuat ketagihan dan memicu fenomena video chaining, mirip dengan chain-smoking, di mana setelah kita mulai, sangat sulit untuk berhenti meskipun kita ingin berhenti.”
Stimulasi berlebihan pada sistem penghargaan otak melalui pemicu yang sangat menyenangkan namun tidak alami, seperti perjudian atau makan berlebihan, menyebabkan lonjakan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berperan dalam rasa senang dan penghargaan.
Untuk melindungi diri dari rangsangan yang berlebihan, otak mengurangi kepekaannya terhadap dopamin, zat kimia yang berperan dalam rasa senang dan penghargaan. Akibatnya, paparan yang terus-menerus dapat membuat seseorang membutuhkan rangsangan yang lebih banyak atau lebih kuat untuk merasakan tingkat kesenangan yang sama.
“Kita membutuhkan lebih banyak video seiring waktu, bukan untuk mendapatkan sensasi tinggi, tetapi sekadar agar merasa normal,” ujar Lembke.
“Dan kita kehilangan kemampuan untuk menikmati penghargaan yang lebih sederhana, seperti menyaksikan matahari terbenam, makan bersama teman, atau membaca buku yang bagus.”
Menurutnya, sifat tanpa akhir dari feed media sosial modern secara bertahap dapat mengubah cara sistem penghargaan otak meresponsnya.
“Gulir tanpa akhir menyebabkan desensitisasi terhadap penghargaan, yaitu semakin sedikit dopamin yang dilepaskan sebagai respons terhadap rangsangan yang sama. Akibatnya, kita membutuhkan lebih banyak video dengan konten yang semakin ekstrem untuk memperoleh efek yang sama.”
Hasilnya adalah sebuah paradoks yang akrab bagi banyak pengguna: terus mencari video berikutnya yang dianggap menarik, meskipun pengalaman menontonnya sendiri sudah tidak lagi memberikan kesenangan yang berarti.
Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Akan Dibatasi
01:38
This browser does not support the video element.
Saat algoritma mengenal kita lebih baik
Walaupun infinite scroll sering menjadi pusat perhatian publik, Ben Rein, seorang ahli saraf, komunikator sains, dan penulis buku Why Brains Need Friends, berpendapat bahwa kekuatan utama platform justru terletak pada kemampuannya untuk menyesuaikan konten untuk setiap individu.
“Infinite scroll dan unsur kebaruan memang penting, tetapi keduanya hanyalah mekanisme penyampaian. Personalisasilah mesin penggeraknya,” kata Rein kepada DW.
Ia menggambarkan feed TikTok sebagai “sebuah sistem yang menjalankan ribuan eksperimen kecil terhadap diri Anda, belajar lebih cepat daripada Anda sendiri tentang apa yang membuat Anda terus menonton.”
Menurut Rein, personalisasi menjadi semakin kuat ketika dikombinasikan dengan ketidakpastian yang dijelaskan oleh Lembke.
“Kombinasi inilah yang membuatnya begitu menarik sekaligus dapat diterapkan oleh hampir setiap pengguna media sosial.”
Lembke melihat dinamika yang serupa.
“Algoritma berkembang menjadi narkoba yang paling sempurna bagi setiap individu secara real time melalui interaksi kita dengan platform, sehingga pengalaman tersebut terasa alami dan hidup.”
Ia menambahkan bahwa unsur kebaruan membantu mengatasi kebosanan akibat toleransi.
“Dalam kondisi toleransi, seseorang membutuhkan rangsangan yang lebih kuat dari waktu ke waktu untuk mendapatkan efek yang sama.”
“Sementara itu, ketidakpastian mengaktifkan bagian otak yang berfungsi untuk mencari harta atau makanan, yaitu mekanisme evolusioner yang membuat manusia terus bertahan dalam lingkungan dengan sumber daya yang langka dan tidak pasti. Karena itulah, ketika hadiah yang jarang itu akhirnya ditemukan, rasanya jauh lebih memuaskan.”
Kekhawatiran dampak media sosial pada kesehatan mental dan keamanan digital mendorong sejumlah negara mengambil langkah baru. Negara‑negara ini mulai menerapkan berbagai kebijakan pembatasan akses media sosial anak.
Foto: Jonathan Raa/NurPhoto/picture alliance
Australia
Australia melarang anak di bawah 16 tahun memiliki akun media sosial melalui aturan yang mulai berlaku pada 10 Desember 2025. Aturan ini mewajibkan platform digital mencegah pembuatan atau penggunaan akun oleh pengguna di bawah usia tersebut, dengan ancaman denda bagi perusahaan yang tidak patuh.
Foto: Str/AFP/Getty Images
Indonesia
Pemerintah Indonesia menetapkan aturan yang membatasi akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun. Menteri Komunikasi dan Digital menyebut Indonesia sebagai negara non‑Barat pertama yang menerapkan kebijakan tersebut. Regulasi ini mulai berlaku pada 28 Maret 2026 dan melibatkan peran orang tua serta sekolah dalam mengawasi penggunaan media sosial anak.
Foto: picture-alliance/AP Photo/A. Ibrahim
Malaysia
Malaysia bersiap memutuskan kebijakan final untuk melarang akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun pada November mendatang. Kebijakan tersebut bertujuan memperkuat perlindungan anak dari perundungan siber, penipuan, dan eksploitasi seksual. Mulai Januari 2026, Malaysia juga mewajibkan platform dan layanan pesan instan dengan lebih dari 8 juta pengguna untuk memiliki lisensi resmi.
Foto: Imago/Richard Wareham
India
India mempertimbangkan larangan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun, terinspirasi Australia dan rekomendasi Economic Survey. Negara bagian Andhra Pradesh dan Goa aktif mengkaji aturan ini. Kekhawatiran muncul terkait kecanduan digital dan dampak kesehatan mental, serta kasus bunuh diri tiga anak di Ghaziabad. RUU baru juga mewajibkan platform untuk mencegah anak di bawah umur membuat akun.
Sejak 2021, Cina menerapkan aturan ketat bagi pengguna internet di bawah 18 tahun. Anak dan remaja wajib menggunakan verifikasi identitas serta menghadapi pembatasan waktu untuk layanan daring tertentu, termasuk gim online yang dibatasi hingga tiga jam per minggu. Pada 2023, regulator juga mengusulkan “mode remaja” di ponsel yang membatasi durasi internet harian sesuai kelompok usia.
Foto: Anna Kurth/AFP/Getty Images
Jepang
Jepang belum melarang penggunaan media sosial bagi anak secara nasional. Namun, pemerintah mewajibkan operator menyediakan fitur penyaring konten bagi pengguna di bawah 18 tahun dan mendorong edukasi penggunaan internet yang aman untuk melindungi anak dari konten berbahaya.
Foto: Kazuhiro Nogi/AFP/Getty Images
Jerman
Kanselir Friedrich Merz mendukung kenaikan batas usia minimum untuk platform seperti Instagram dan TikTok, mengingat remaja yang menatap layar lebih dari lima jam sehari berisiko mengalami masalah sosial dan kepribadian. Dalam podcast “Machtwechsel”, ia menyoroti usulan CDU menetapkan usia minimum 16 tahun dengan verifikasi usia, serta dukungan SPD untuk larangan bagi anak di bawah 14 tahun.
Foto: dts-Agentur/picture alliance
Uni Eropa
Norwegia, Yunani, Inggris, Denmark, Italia, Portugal, Austria, dan Belanda tengah membahas berbagai bentuk pembatasan. Prancis mempertimbangkan larangan bagi pengguna di bawah 15 tahun, sementara Spanyol mengusulkan batas 16 tahun. Uni Eropa sendiri mendukung gagasan itu, dan pada 2025 Parlemen Eropa bahkan merekomendasikan usia minimum 16 tahun untuk penggunaan media sosial di seluruh kawasan.
Foto: Jakub Porzycki/NurPhoto/picture alliance
Amerika Serikat
Negara bagian Florida di Amerika Serikat melarang anak di bawah 14 tahun memiliki akun media sosial melalui undang-undang yang berlaku sejak 1 Januari 2025. Remaja usia 14-15 tahun masih dapat mengakses platform, tetapi harus mendapat izin orang tua.
Foto: Annabelle Gordon/REUTERS
Brasil
Brasil membatasi penggunaan ponsel di sekolah melalui undang-undang yang ditandatangani pada Januari 2025. Aturan ini melarang siswa menggunakan perangkat elektronik selama pelajaran, istirahat, maupun di lingkungan sekolah. Ponsel hanya boleh digunakan untuk keperluan pendidikan, kondisi darurat, atau kebutuhan aksesibilitas.
Foto: Gustavo Basso/DW
10 foto1 | 10
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Dari 42 studi yang dianalisis oleh tim Universitas Bayreuth, beberapa pola yang sama terus muncul.
Di antaranya adalah meningkatnya kesulitan memusatkan perhatian, menurunnya kemampuan memori kerja, meningkatnya kecemasan dan depresi, melemahnya kemampuan mengendalikan diri, serta munculnya pola perilaku yang menyerupai kecanduan.
Namun demikian, tim peneliti menegaskan bahwa bukti yang ada masih terbatas.
“Masih belum ada bukti yang cukup untuk secara meyakinkan menyatakan bahwa platform video berdurasi pendek menyebabkan ‘brainrot’ atau efek dopamin yang ekstrem,” kata penulis utama penelitian, Marlene Ebster, kepada DW.
Alih-alih merekomendasikan larangan menyeluruh, para penulis menyarankan agar anak-anak dan remaja dibantu memahami bagaimana sistem rekomendasi bekerja serta bagaimana desain platform memengaruhi perilaku mereka.
Menurut Rein, tahap berikutnya dalam perkembangan platform kemungkinan adalah personalisasi yang lebih mendalam.
“Seiring semakin canggihnya model rekomendasi, dan terutama ketika AI mampu menghasilkan atau menyesuaikan konten secara real time untuk setiap individu, jarak antara 'apa yang Anda sukai’ dan ‘apa yang ditampilkan kepada Anda' akan terus menyempit.”
Perkembangan kecerdasan buatan juga diperkirakan akan memainkan peran yang semakin besar.
“Kita bahkan belum mendekati puncak rekayasa perhatian manusia,” kata Raskin.
“Kini kita memasuki era AI 2.0, yaitu AI generatif. Teknologi ini mampu menciptakan konten sepenuhnya baru dari nol.”
Ia memperingatkan bahwa “kemampuan AI generatif untuk memaksimalkan perhatian manusia, mulai dari media sintetis hingga hubungan sintetis yang sangat dipersonalisasi, akan jauh melampaui seluruh bentuk rekayasa psikologis yang pernah kita lihat sebelumnya.”
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris