1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Scroll Media Sosial Terus Meski Bosan? Ini Alasannya

23 Juni 2026

Video pendek di media sosial memicu sistem penghargaan otak sehingga pengguna sulit berhenti menonton. Peneliti menyebut ini bagian dari perlombaan teknologi merebut perhatian manusia.

Seorang perempuan berpenampilan elegan dengan kuku yang telah dimanikur memegang sebuah ponsel pintar.
Persaingan antarplatform digambarkan sebagai "pertarungan tanpa ampun untuk memperebutkan perhatian manusia"Foto: Pascal Deloche/Godong/picture alliance

Bagi banyak orang, hari dimulai dengan satu gerakan sederhana: menggeser layar (swipe). Sebelum bangun dari tempat tidur, kita mungkin membuka TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts. Beberapa video berubah menjadi puluhan video. Beberapa menit berubah menjadi satu jam. Lalu, di hari-hari berikutnya, kita kembali untuk melakukan hal yang sama.

Para peneliti dari Universitas Bayreuth di Jerman meneliti fenomena ini, khususnya pada anak-anak dan remaja.

Tinjauan penelitian yang diterbitkan dalam jurnal European Child and Adolescent Psychiatry tersebut menganalisis 42 studi yang melibatkan hampir 30.000 partisipan, sebagian besar merupakan remaja dan dewasa muda.

Yang menarik, para penulis meneliti aspek yang sering terabaikan dalam perdebatan publik, yaitu mekanisme kerja platform itu sendiri.

Jauh berbeda dari sekadar televisi di layar kecil

Para peneliti mengidentifikasi tiga karakteristik utama yang dimiliki platform video berdurasi pendek (short-form video/SFV): personalisasi algoritma, ketidakpastian akibat gulir tanpa akhir (infinite scroll), dan kebaruan akibat perpindahan video yang sangat cepat.

Menurut mereka, ketiga fitur ini menciptakan lingkungan media yang berbeda dari televisi, video daring konvensional, maupun media sosial generasi sebelumnya.

Platform video pendek bekerja dengan cara yang berbeda. Algoritma terus-menerus memilih konten untuk pengguna, pengguna jarang perlu mengambil keputusan sendiri, dan pada dasarnya tidak ada titik berhenti yang alami.

“TikTok pada dasarnya berbeda dari televisi,” kata Aza Raskin, salah satu pendiri Centre for Humane Technology, kepada DW.

“Di balik layar TikTok terdapat sebuah superkomputer raksasa yang diarahkan langsung ke otak Anda. Sistem itu dilatih menggunakan perilaku tiga miliar manusia lainnya.”

Menurut Raskin, “ekonomi perhatian pada dasarnya adalah perlombaan menuju bagian paling primitif dari otak manusia.”

“Jika TikTok tidak berhasil menguasai waktu Anda, maka Facebook, Instagram, atau platform lain akan melakukannya.”

“Hal ini memicu pertarungan yang sangat sengit untuk memperebutkan perhatian manusia,” tambahnya.

Dopamin: Mesin di balik scroll tanpa henti

Para ilmuwan telah lama memahami bahwa pengalaman yang sangat memberi penghargaan (rewarding) akan mengaktifkan sistem penghargaan di otak. Video berdurasi pendek sangat efektif untuk memanfaatkan sistem tersebut.

Anna Lembke, profesor madya psikiatri di Stanford University School of Medicine sekaligus penulis buku Dopamine Nation, mengatakan kepada DW bahwa SFV menggabungkan beberapa karakteristik yang membuatnya sangat menarik.

“Gambar bergerak sendiri sudah seperti catnip bagi otak mamalia,” katanya.

“Video berdurasi pendek merupakan bentuk yang lebih kuat, sehingga lebih membuat ketagihan dan memicu fenomena video chaining, mirip dengan chain-smoking, di mana setelah kita mulai, sangat sulit untuk berhenti meskipun kita ingin berhenti.”

Stimulasi berlebihan pada sistem penghargaan otak melalui pemicu yang sangat menyenangkan namun tidak alami, seperti perjudian atau makan berlebihan, menyebabkan lonjakan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berperan dalam rasa senang dan penghargaan.

Untuk melindungi diri dari rangsangan yang berlebihan, otak mengurangi kepekaannya terhadap dopamin, zat kimia yang berperan dalam rasa senang dan penghargaan. Akibatnya, paparan yang terus-menerus dapat membuat seseorang membutuhkan rangsangan yang lebih banyak atau lebih kuat untuk merasakan tingkat kesenangan yang sama.

“Kita membutuhkan lebih banyak video seiring waktu, bukan untuk mendapatkan sensasi tinggi, tetapi sekadar agar merasa normal,” ujar Lembke.

“Dan kita kehilangan kemampuan untuk menikmati penghargaan yang lebih sederhana, seperti menyaksikan matahari terbenam, makan bersama teman, atau membaca buku yang bagus.”

Menurutnya, sifat tanpa akhir dari feed media sosial modern secara bertahap dapat mengubah cara sistem penghargaan otak meresponsnya.

“Gulir tanpa akhir menyebabkan desensitisasi terhadap penghargaan, yaitu semakin sedikit dopamin yang dilepaskan sebagai respons terhadap rangsangan yang sama. Akibatnya, kita membutuhkan lebih banyak video dengan konten yang semakin ekstrem untuk memperoleh efek yang sama.”

Hasilnya adalah sebuah paradoks yang akrab bagi banyak pengguna: terus mencari video berikutnya yang dianggap menarik, meskipun pengalaman menontonnya sendiri sudah tidak lagi memberikan kesenangan yang berarti.

Akses Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Akan Dibatasi

01:38

This browser does not support the video element.

Saat algoritma mengenal kita lebih baik

Walaupun infinite scroll sering menjadi pusat perhatian publik, Ben Rein, seorang ahli saraf, komunikator sains, dan penulis buku Why Brains Need Friends, berpendapat bahwa kekuatan utama platform justru terletak pada kemampuannya untuk menyesuaikan konten untuk setiap individu.

“Infinite scroll dan unsur kebaruan memang penting, tetapi keduanya hanyalah mekanisme penyampaian. Personalisasilah mesin penggeraknya,” kata Rein kepada DW.

Ia menggambarkan feed TikTok sebagai “sebuah sistem yang menjalankan ribuan eksperimen kecil terhadap diri Anda, belajar lebih cepat daripada Anda sendiri tentang apa yang membuat Anda terus menonton.”

Menurut Rein, personalisasi menjadi semakin kuat ketika dikombinasikan dengan ketidakpastian yang dijelaskan oleh Lembke.

“Kombinasi inilah yang membuatnya begitu menarik sekaligus dapat diterapkan oleh hampir setiap pengguna media sosial.”

Lembke melihat dinamika yang serupa.

“Algoritma berkembang menjadi narkoba yang paling sempurna bagi setiap individu secara real time melalui interaksi kita dengan platform, sehingga pengalaman tersebut terasa alami dan hidup.”

Ia menambahkan bahwa unsur kebaruan membantu mengatasi kebosanan akibat toleransi.

“Dalam kondisi toleransi, seseorang membutuhkan rangsangan yang lebih kuat dari waktu ke waktu untuk mendapatkan efek yang sama.”

“Sementara itu, ketidakpastian mengaktifkan bagian otak yang berfungsi untuk mencari harta atau makanan, yaitu mekanisme evolusioner yang membuat manusia terus bertahan dalam lingkungan dengan sumber daya yang langka dan tidak pasti. Karena itulah, ketika hadiah yang jarang itu akhirnya ditemukan, rasanya jauh lebih memuaskan.”

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Dari 42 studi yang dianalisis oleh tim Universitas Bayreuth, beberapa pola yang sama terus muncul.

Di antaranya adalah meningkatnya kesulitan memusatkan perhatian, menurunnya kemampuan memori kerja, meningkatnya kecemasan dan depresi, melemahnya kemampuan mengendalikan diri, serta munculnya pola perilaku yang menyerupai kecanduan.

Namun demikian, tim peneliti menegaskan bahwa bukti yang ada masih terbatas.

“Masih belum ada bukti yang cukup untuk secara meyakinkan menyatakan bahwa platform video berdurasi pendek menyebabkan ‘brainrot’ atau efek dopamin yang ekstrem,” kata penulis utama penelitian, Marlene Ebster, kepada DW.

Alih-alih merekomendasikan larangan menyeluruh, para penulis menyarankan agar anak-anak dan remaja dibantu memahami bagaimana sistem rekomendasi bekerja serta bagaimana desain platform memengaruhi perilaku mereka.

Menurut Rein, tahap berikutnya dalam perkembangan platform kemungkinan adalah personalisasi yang lebih mendalam.

“Seiring semakin canggihnya model rekomendasi, dan terutama ketika AI mampu menghasilkan atau menyesuaikan konten secara real time untuk setiap individu, jarak antara 'apa yang Anda sukai’ dan ‘apa yang ditampilkan kepada Anda' akan terus menyempit.”

Perkembangan kecerdasan buatan juga diperkirakan akan memainkan peran yang semakin besar.

“Kita bahkan belum mendekati puncak rekayasa perhatian manusia,” kata Raskin.

“Kini kita memasuki era AI 2.0, yaitu AI generatif. Teknologi ini mampu menciptakan konten sepenuhnya baru dari nol.”

Ia memperingatkan bahwa “kemampuan AI generatif untuk memaksimalkan perhatian manusia, mulai dari media sintetis hingga hubungan sintetis yang sangat dipersonalisasi, akan jauh melampaui seluruh bentuk rekayasa psikologis yang pernah kita lihat sebelumnya.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait