Tagar #SEAblings: Sekadar Solidaritas atau Benih Identitas?
27 Februari 2026
Tagar #SEAblings merebak di tengah polemik konser band Korea Selatan (Korsel) di Malaysia pada awal Februari 2026. Perbincangan bermula dari keluhan di forum daring Korea dan platform X mengenai penggunaan kamera profesional oleh sejumlah warga Korsel selama konser yang dinilai tidak sesuai dengan aturan di Malaysia.
Diskusi, yang awalnya terbatas di komunitas penggemar, sempat mereda setelah ada klarifikasi, permintaan maaf, serta penghapusan konten yang dipersoalkan.
Namun, pada 4 Februari 2026, percakapan kembali memanas setelah beredar unggahan dari akun anonim yang memuat komentar bernada rasis dan diskriminatif terhadap warganet Asia Tenggara. Unggahan tersebut bahkan mempertanyakan kelayakan mereka menikmati musik K-Pop. Dari situ, percikan berubah jadi bara.
Seiring dinamika tersebut, istilah "SEAblings", akronim dari Southeast Asian Siblings, digunakan oleh warganet Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam sebagai penanda solidaritas. Percakapan yang semula berfokus pada isu internal komunitas fandom kemudian meluas menjadi perbincangan lintas negara.
Untuk melihat pola eskalasi dan konteks percakapan tersebut, tim DW Indonesia bertanya tentang fenomena ini kepada Drone Emprit, lembaga yang menggunakan pendekatan Social Network Analysis (SNA).
Pola eskalasi: Organik dan meluas
Analis lembaga pemantau media sosial Drone Emprit, Nova Mujahid, mengatakan fenomena seperti ini biasanya tidak berkembang lintas negara. Namun dalam kasus #SEAblings, percakapan terekam di sejumlah negara Asia Tenggara, bahkan menjangkau Polandia.
"Kalau dari hasil analisis kami, kelihatannya memang organik, tidak terstruktur, sangat sporadis, melibatkan banyak aktor," kata Nova Mujahid.
Menurut Nova, percakapan terkait #SEAblings telah meluas ke berbagai isu. Topik yang dibahas tidak lagi terbatas pada Korea Selatan atau komunitas K-Pop.
"Kalau lihat akun-akun yang terlibat dalam percakapan, itu kan kelihatan kalau akun-akunnya bukan hanya akun-akun terkait fandom tertentu. Artinya ini percakapannya sudah lebih luas, tidak hanya melibatkan K-Pop," paparnya.
Nova menambahkan, meluasnya percakapan tersebut berkaitan dengan isu rasisme. "Semua sekat akan runtuh dan semua akan berbicara," lanjut Nova.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa percakapan berkembang dari isu teknis konser menjadi diskursus yang lebih umum.
Rasisme jadi pemicu kemarahan kolektif
Dalam laporan Drone Emprit yang diterima DW Indonesia, disimpulkan bahwa rasisme menjadi pemicu utama eskalasi konflik. Publik melihat adanya rasisme sistematis dari sebagian netizen Korsel terhadap masyarakat Asia Tenggara, yang memicu kemarahan kolektif.
"Kemarahan publik dipicu oleh munculnya komentar-komentar bernada rasis yang menyinggung fisik, warna kulit, dan status sosial-ekonomi masyarakat Asia Tenggara secara umum dan menargetkan individu spesifik," bunyi laporan tersebut.
Dalam laporannya, Drone Emprit menganalisis diskusi digital dari 1-23 Februari 2026. Ditemukan bahwa konflik yang awalnya terbatas di forum K-Pop kemudian meluas dengan cepat dan melibatkan pengguna di berbagai platform media sosial. Intensitas percakapan bahkan telah menyerang individu yang tidak berkaitan dengan pemicu awal.
"Sehingga berpotensi mengaburkan batas antara melawan rasisme dengan melakukan perundungan massal secara digital."
Ini berarti, solidaritas yang muncul bersamaan dengan tagar #SEAblings berjalan beriringan dengan risiko eskalasi konflik yang lebih luas di ranah digital.
Identitas kolektif yang menguat
Identitas kolektif di Asia Tenggara menurut dosen Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Atma Jaya, Andina Dwifatma, sebenarnya sudah terbentuk, salah satunya melalui organisasi formal seperti ASEAN. Namun, identitas tidak selalu terbangun dari kepentingan ekonomi atau aliansi politik.
"Justru yang menarik dari fenomena digital seperti ini adalah 'identitas' #SEAblings yang muncul secara bottom-up lewat pengalaman emosional yang dialami bersama," kata Andina Dwifatma kepada DW Indonesia.
Menurut Andina, dalam beberapa hari, rasa solidaritas tersebut terlihat meluas dan diekspresikan lewat animasi, meme, tarian, hingga lagu yang menjadi anthem #SEAblings.
"Semua dilakukan secara spontan, anonim, tanpa perlu rapat-rapat diplomatik segala. Hal ini menunjukkan politik tidak hanya terjadi di meja-meja kementerian, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari," paparnya.
Andina menekankan bahwa identitas bersifat situasional dan dinamis. Identitas kolektif dapat muncul ketika ada pengalaman bersama yang dirasakan sebagai ancaman atau ketidakadilan.
Perlawanan simbolis atas dominasi budaya
Andina menilai sejak awal polemik konser di Malaysia terjadi, sebagian K-Netz telah melakukan kekerasan simbolis.
"Menghina penampilan fisik orang Asia Tenggara yang katanya jelek atau menghina orang Asia Tenggara miskin karena nongkrongnya di sawah," jelas Andina.
Sebagai respons, warganet Asia Tenggara melakukan perlawanan simbolis, antara lain dengan mengunggah data terkait operasi plastik di Korsel untuk mengkritik standar kecantikan yang dianggap problematik.
"Semua ini simbol perlawanan yang sangat menarik. Soalnya, warganet Asia Tenggara bisa menunjukkan bahwa menyukai produk budaya pop itu tidak sama dengan menerima seluruh standar kultural negara produsen," ungkap Andina.
Menurut Andina, masyarakat dapat menyukai lagu K-Pop dan menonton drama Korea, tetapi tetap menolak standar kecantikan atau kesejahteraan yang dibakukan industri.
Andina menilai fenomena #SEAblings menunjukkan kemampuan audiens untuk membedakan antara produk budaya dan realitas sosiokultural negara produsen. Dalam konteks tersebut, terdapat proses yang dia sebut sebagai reclaiming dignity.
Warganet Asia Tenggara, tambah Andina, menyadari bahwa mereka merupakan konsumen besar produk budaya pop Korea. Namun, hal itu tidak berarti posisi sosiokultural mereka lebih rendah.
"Warganet Asia Tenggara menegaskan identitas mereka bukan cuma 'penggemar Korea', tetapi juga masyarakat dengan gaya dan budaya sendiri yang tidak lebih rendah atau lebih tinggi," pungkas Andina.
Editor: Tonggie Siregar