1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KesehatanEropa

Seberapa Serius Eropa Perangi Pencemaran "Kimia Abadi"?

6 Februari 2026

Inggris berniat batasi pencemaran PFAS alias "kimia abadi" yang juga tengah diusulkan Uni Eropa. Riset mengungkap, tingginya tingkat pencemaran PFAS memerlukan biaya pembersihan melebihi 1,7 triliun Euro.

Foto ilustrasi air minum Eropa
PFAS ditemukan telah mencemari air minum di EropaFoto: ANP/Hollandse Hoogte/Jeffrey Groeneweg/IMAGO

Pemerintah Inggris pada Selasa (03/02) mengumumkan langkah untuk menangani pencemaran PFAS dengan meluncurkan rencana aksi guna "memahami dari mana bahan kimia ini berasal, bagaimana penyebarannya, serta bagaimana mengurangi paparan terhadap manusia dan lingkungan".

Rencana tersebut mencakup pemantauan sungai, danau, dan laut; dukungan terhadap transisi menjauhi penggunaan PFAS; serta konsultasi publik mengenai batas kandungan PFAS dalam air minum.

Sebagian kalangan menyebut langkah ini "memberi harapan". Namun, kritik datang dari kelompok lingkungan yang menilai rencana itu belum memadai.

"Rencana ini terlalu hampa untuk bisa menangkal salah satu ancaman pencemaran paling serius bagi alam dan kesehatan publik," kata Chloe Alexander, penanggung jawab kebijakan bahan kimia di Wildlife and Countryside Link, dalam sebuah pernyataan. Dia menyebut kerangka tersebut "sangat mengecewakan."

Rencana Inggris muncul di tengah meningkatnya upaya sejumlah negara untuk membatasi dampak merusak kimia abadi. Awal Januari 2026, Uni Eropa mulai memberlakukan batas kadar PFAS dalam air minum, yang mewajibkan negara anggota melakukan pemantauan sistematis dan pelaporan kepada Komisi Eropa.

Uni Eropa juga tengah mengkaji larangan luas terhadap PFAS, sebagaimana diusulkan Jerman, Belanda, Denmark, Norwegia, dan Swedia.

"Tidak ada penghapusan bertahap yang mengikat, tidak ada tenggat waktu untuk menghentikan penggunaan sehari-hari yang sebenarnya sudah memiliki alternatif terjangkau," kata Alexander menilai rencana Inggris. "Juga tidak ada komitmen untuk menyamai usulan Uni Eropa tentang larangan luas atas penggunaan dan produksi seluruh PFAS."

Environmental crime: PFAS chemicals in Germany's tap water

26:04

This browser does not support the video element.

Apa sebenarnya PFAS?

PFAS mencakup lebih dari 10.000 bahan kimia sintetis yang dikenal sebagai Per- dan Polyfluoroalkyl Substances. Sebagian besar diproduksi untuk industri otomotif, kertas, logam, kimia, dan plastik, serta ditemukan hampir di seluruh benda sehari-hari, dari permukaan plastik dan pelapis kotak pizza hingga pakaian luar ruang.

Perkaranya, residu PFAS kini ditemukan hampir di seluruh penjuru bumi, termasuk wilayah terisolasi. Zat ini tidak dapat terurai secara alami dan menyebabkan pencemaran permanen pada air, tanah, udara, dan pangan.

Hampir setiap orang mengandung PFAS dalam darahnya. Penelitian mengaitkan paparan sejumlah PFAS dengan gangguan sistem imun, dampak perkembangan, penurunan kesuburan, serta peningkatan risiko kanker tertentu, meski kekuatan bukti berbeda-beda untuk tiap senyawa. 

Biaya mahal pencemaran PFAS

Kerusakan akibat PFAS diperkirakan akan menelan biaya ratusan miliar euro bagi Uni Eropa dalam beberapa tahun ke depan, menurut laporan Komisi Eropa.

Dalam skenario bisnis seperti biasa, jika produksi dan penggunaan tetap tinggi, pencemaran dari hanya empat jenis PFAS akan membebani warga Uni Eropa sekitar 40 miliar Euro per tahun dalam biaya kesehatan. Angka itu belum mencakup kerusakan ekosistem atau penurunan keanekaragaman hayati.

Pembersihan tanah dan air yang tercemar oleh empat PFAS utama tersebut diperkirakan menelan biaya €1,7 triliun.

Pendekatan paling hemat biaya adalah menghapus penggunaan dan produksi PFAS secara bertahap mulai 2030 dan menghentikannya sepenuhnya pada 2040. Langkah ini, menurut laporan tersebut, dapat menurunkan biaya kesehatan hingga nol dalam jangka panjang.

Alternatif untuk sejumlah PFAS memang sudah tersedia, tetapi masih jauh dari mencakup seluruh jenisnya.

Penghentian bertahap hingga larangan total diperkirakan dapat menekan total biaya menjadi sekitar €330 miliar.

Petaka di ladang gandum

Produk gandum di berbagai negara Eropa ditemukan tercemar bahan kimia abadi yang berpotensi berbahaya, menurut laporan terbaru Pesticide Action Network (PAN) Europe, jaringan LSM yang mendorong regulasi pestisida lebih ketat.

Meneliti Kualitas Air Tanah dengan Mencari Amfipoda

04:05

This browser does not support the video element.

Dari 66 produk gandum, termasuk sereal sarapan, permen, pasta, croissant, roti, dan tepung, yang diuji dari 16 negara Eropa, PAN menemukan 54 di antaranya mengandung kadar tinggi asam trifluoroasetat (TFA).

Zat ini diduga masuk ke rantai pangan melalui pestisida pertanian dan dikaitkan dengan potensi risiko kesehatan, termasuk kemungkinan dampak pada perkembangan janin. TFA sangat mudah larut dalam air sehingga cepat menyebar melalui hujan ke makanan dan air limbah.

Jumlah bahan kimia yang terurai menjadi TFA terus meningkat, menurut Badan Lingkungan Federal Jerman (UBA).

Hasil PAN menunjukkan konsentrasi TFA dalam produk gandum rata-rata lebih dari 100 kali lebih tinggi dibandingkan air keran. Kontaminasi paling tinggi ditemukan pada gandum konvensional, lebih dari dua kali lipat dibanding produk organik.

Jerman dorong pengurangan PFAS

TFA telah terdeteksi di perairan Jerman selama bertahun-tahun. UBA menyatakan bahwa selain berasal dari fasilitas industri yang menggunakan kimia abadi, zat ini juga merupakan produk sampingan dari degradasi berbagai pestisida. Pendingin udara dan sistem refrigerasi juga dapat terurai menjadi TFA.

"Di Jerman, masih ada 27 bahan aktif PFAS yang dapat melepaskan TFA dan masih diizinkan dalam pestisida," kata Peter Clausing, toksikolog PAN Jerman. "Studi kami menegaskan urgensi pelarangan segera pestisida PFAS di Jerman dan di seluruh Uni Eropa untuk menghentikan sumber pencemaran yang signifikan ini."

Artikel ini terbit pertama kali dalam Bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rizki Nugraha

Editor: Yuniman Farid

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait