Seorang dokter muda Indonesia mendirikan asuransi kesehatan yang dibayar dengan sampah. Dengan konsep tersebut, Gamal Albinsaid membantu menuntaskan dua masalah kronis di Indonesia.
Foto: Gamal Albinsaid
Iklan
Gamal Albinsaid bukan sembarang orang.
Dokter muda Indonesia ini mendirikan asuransi kesehatan mikro, Garbage Clinical Insurance (GCI), yang tidak cuma memberikan layanan kesehatan kepada mereka yang tidak mampu, tetapi juga membangun kesadaran mengelola sampah.
Caranya pun tergolong mudah. Calon pasien tinggal membawa sampah senilai Rp 10.000 per bulan, yang kemudian dijadikan kompos atau didaur ulang. Pendapatan dari sampah itulah yang kemudian membiayai layanan kesehatan dan obat-obatan.
"Kami mengubah presepsi masyarakat dan mengubah kebiasan masyarakat terhadap sampah," ujarnya dalam sebuah video. "Asuransi sampah meningkatkan nilai sampah secara signifikan, sehingga masyarakat lebih menghargai sampah dan mengelola sampah tersebut."
Satu Solusi untuk Dua Masalah
Sampah Bertukar Asuransi Kesehatan
Gamal Albinsaid menawarkan asuransi kesehatan mikro yang dibayar dengan sampah. Kiprahnya itu mendapat berbagai penghargaan internasional. Buat DW, Gamal termasuk 'local hero' yang semakin jarang ditemui.
Foto: Gamal Albinsaid
Pengabdian Dokter Muda
Ide mendirikan Garbage Clinical Insurance didapat Gamal Albinsaid ketika masih berkuliah di jurusan kedokteran Universitas Brawijaya, Malang. "Tujuan kami adalah meningkatkan anggaran kesehatan di setiap rumah tangga," ujarnya.
Foto: Getty Images/AFP/A. Rochman
Dari Limbah Menjadi Komoditi
Sampah kemudian dipilih sebagai alat tukar. Karena sifatnya yang berlimpah dan gratis, sampah tidak membebani keuangan keluarga miskin. "Kami mengubah persepsi masyarakat terhadap sampah," kata Gamal. "Asuransi kesehatan (GCI) membuat masyarakat lebih menghargai sampah dan mengelola sampah tersebut," tuturnya.
Foto: Gamal Albinsaid
Diolah dan Didaur Ulang
Setiap anggota memberikan sampah seberat kira-kira tujuh kilogram per bulan dengan nilai sekitar Rp. 10.000. GCI kemudian mengolah sampah organik menjadi kompos, sementara sampah plastik dijual untuk didaur ulang. Pendapatan dari penjualan sampah tidak cuma cukup membayar tenaga medis, tetapi juga membeli obat-obatan buat pasien.
Foto: Gamal Albinsaid
Untuk Kaum Miskin
Terutama penduduk berpendapatan minim menghargai layanan kesehatan yang ditawarkan Gamal Albinsaid. "Kalau saya bayar pakai sampah, saya tidak mengeluarkan uang. Jadi program ini membantu anggaran kesehatan saya," ujar salah seorang pasien.
Foto: Gamal Albinsaid
Sedayung Dua Pulau
Dengan programnya itu, Gamal Albinsaid tidak cuma membantu menuntaskan masalah mahalnya layanan kesehatan di Indonesia, tetapi juga masalah sampah. Kini GCI sudah hadir di lima kota dengan lebih dari 3500 anggota. Gamal berniat menularkan gagasannya itu ke luar negeri.
Foto: Gamal Albinsaid
Sendiri Tanpa Donor
Prestasi terbesar Gamal Albinsaid adalah membuat asuransi mikro GCI bertahan hidup dengan keuangan sendiri, tanpa suntikan dana dari donor besar. "Saya beruntung karena dikelilingi orang-orang yang mau berkorban," ujarnya.
Foto: Gamal Albinsaid
Penghargaan Internasional
Kiprah Gamal dan Garbage Clinical Insurance tidak terlewatkan oleh dunia internasional. Tahun 2014 silam ia misalnya bertemu Pangeran Charles buat menerima penghargaan The HRH Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur dari Kerajaan Inggris.
Foto: Gamal Albinsaid
7 foto1 | 7
Sampah adalah masalah lain di Indonesia. Setiap tahunnya sekitar 3,2 juta ton sampah yang dihasilkan penduduk di pesisir mendarat di laut. Jumlahnya mencapai 10 persen dari total sampah yang ditumpahkan ke samudera bumi, tulis Wall Street Journal.
"Tujuan kami sederhana, yakni bagaimana anggaran kesehatan di setiap rumah tangga bisa meningkat," tuturnya. Dan sampah menjanjikan pemasukan tambahan yang bisa dipakai untuk membayar layanan kesehatan.
"Program sampah untuk kesehatan ini sangat membantu, karena saya harus berobat setiap dua pekan. Saya punya tekanan darah tinggi," ujar Ani Purwanti, seorang ibu rumah tangga yang telah menjadi member GCI. "Kalau saya bayar pakai sampah, saya tidak mengeluarkan uang. Jadi program ini membantu anggaran kesehatan saya."
Ekspansi ke Luar Negeri
Negara Sumber Sampah Plastik di Laut
Puluhan juta ton sampah plastik mengotori samudera dan mengancam kehidupan fauna laut. Celakanya Indonesia termasuk deretan negara yang paling gemar membuang sampah plastik ke laut
Foto: Fotolia/sablin
5. Sri Lanka - 1,6 Juta Ton
Sebenarnya jika dilihat dari jumlah sampah plastik per tahun, Sri Lanka termasuk di urutan terbawah dengan cuma 1,8 juta ton. Tapi 84% di antaranya tidak diolah dan akhirnya mencemari laut. Tercatat setiap penduduk pesisir Sri Lanka bertanggungjawab atas 109 kilogram sampah plastik setiap tahunnya.
Foto: picture alliance/AP Photo
4. Filipina - 1,8 Juta Ton
Sedikitnya 2,2 juta ton sampah plastik diproduksi Filipina setiap tahun, 83 persen di antaranya tidak diolah alias mendarat di laut. Secara keseluruhan setiap penduduk pesisir Filipina membuang 22,6 kilogram sampah plastik ke laut setiap tahunnya.
Foto: picture-alliance/dpa
3. Vietnam - 1,8 Juta Ton
Dari dua juta ton sampah plastik yang diproduksi Vietnam, 1,8 juta ton alias 88 persen mencemari air laut. Artinya setiap penduduk pesisir Vietnam membuang 32,9 kilogram sampah plastik ke laut per tahun - termasuk yang paling tinggi di dunia.
Foto: DW/Manfred Götzke
2. Indonesia - 3,2 Juta Ton
Dihitung dari prosentase jumlah sampah plastik yang tidak diolah, Indonesia termasuk yang paling tinggi di dunia. Sebanyak 87 persen dari 3,8 juta ton sampah plastik yang dibuang setiap tahun mendarat di laut. Artinya setiap penduduk pesisir Indonesia bertanggungjawab atas 17,2 kilogram sampah plastik yang mengapung dan meracuni satwa laut.
Foto: JEWEL SAMAD/AFP/Getty Images
1. Cina - 8,8 Juta Ton
Hasil studi University of Georgia menempatkan Cina sebagai negara konsumen plastik terbesar di dunia. Dari rata.rata 11, 5 juta ton sampah plastik per tahun, sebanyak 78% diantaranya mendarat di lautan lepas. Jika dihitung setiap penduduk di wilayah pesisir Cina membuang 33,6 kilogram plastik ke laut per tahunnya.
Foto: STR/AFP/Getty Images
5 foto1 | 5
Senja di Bantar Gebang
Pemulung biasanya tidak mengenal kata pensiun. Jikapun ada, mereka tidak berhenti melainkan mewariskan pekerjaannya kepada anak-anaknya. Sebagian lain terpaksa mengais melewatii usia senja lantaran kondisi keuangan
Foto: DW
Minim Pengakuan
Muhaemin, 67, sudah mengais sampah di Bantar Gebang sejak 35 tahun. Ketika penglihatannya memburuk, ia memutuskan berhenti bekerja. Muhaemin dan isterinya tidak menerima uang kompensasi dari pemerintah kota. Keduanya dipersulit ketika hendak mengurus KTP lokal. Sebab itu ia masih membawa KTP dari Indramayu, kampung yang sudah ditinggalkannya sejak tiga dekade lalu.
Foto: DW/R. Nugraha
Pemberhentian Terakhir
Lebih dari 6000 ton sampah yang diangkut oleh 600 truk mendarat di Bantar Gebang setiap hari. Menjadikan tempat pembuangan akhir di Bekasi itu terbesar se Indonesia. 5000 pemulung mengais nafkah dan hidup dari sampah buangan penduduk. Kendati tidak diakui pemerintah lokal, keberadaan mereka tidak diusik.
Foto: DW
Turun Temurun
Muhaemin hidup di sebuah gubug berdinding rotan yang ditopang kayu bambu. Putra-puterinya hidup di gubug serupa berdampingan. Pria tua itu tergolong beruntung karena tidak lagi harus mengais sampah. Muhaemin mewariskan pekerjaannya itu kepada sang anak.
Foto: DW
Sepanjang Hari
Dayini, 57, menyortir sampah plastik buat dijual kepada penadah. Ia dan sang suami menempati sepetak tanah di atas tumpukan sampah untuk melakukan pekerjaan harian. Setiap hari keduanya mampu menjual lima keranjang sampah plastik yang bernilai kira-kira Rp. 30.000
Foto: DW
Ala Kadarnya
Pemulung biasanya mengenakan sepatu karet agar tidak terpapar zat-zat beracun selama bekerja di timbunan sampah. Tapi sebagian lain memilih cara yang lebih sederhana. Dayini misalnya memakai sepatu yang ia temukan di sampah. Penyakit bukan kekhawatiran terbesarnya. Ia sendiri bangga belum pernah sakit parah selama mengais di Bantar Gebang
Foto: DW
Ketergantungan
Rasja, 68, suami Dayini. Ia mendapatkan uang tambahan dengan menjahit karung buat dipakai para pemulung. Ia pernah bersumpah tidak akan meminjam uang dari penadah. Tapi kelahiran cucu pertama memaksanya berubah pikiran. Fenomena semacam ini menjamur di Bantar Gebang. Para penadah menjerat pemulung ke dalam ketergantungan melalui pinjaman berbunga tinggi.
Foto: DW
Kemiskinan
Rasja dan Dayini hidup beberapa ratus meter dari timbunan sampah, tanpa air bersih dan sanitasi yang memadai. Perlengkapan dapur yang mereka gunakan kebanyakan berasal dari sampah. Gambaran serupa sering ditemui di rumah-rumah pemulung di Bantar Gebang
Foto: DW
Kehidupan yang Lebih Baik
Rasja dan Dayini berharap nasib yang lebih baik jika sudah tidak lagi memulung. Keduanya berniat pulang ke kampung halamannya di Indramayu untuk menikmati sisa usia.
Foto: DW
8 foto1 | 8
Menurut data Bank Dunia, sekitar 6,3 juta penduduk Indonesia tidak memiliki akses kesehatan. Sementara data yang dimiliki GCI, lebih dari 60 persen penduduk tidak punya asuransi kesehatan. Adapun puskesmas yang disediakan pemerintah hingga kini masih berkutat dengan minimnya tenaga medis.
Perjalanan Gamal membesarkan asuransi kesehatan mikro tergolong cepat. Berawal dari kampus dan menyebar di Indonesia, kini ia bersiap untuk ekspansi ke luar negeri. GCI sejauh ini tercatat sudah memiliki lima klinik dan menangani lebih dari 3500 pasien.
Kiprahnya itu juga mengundang pengakuan dari dunia internasional. 2014 silam ia bertemu Pangeran Charles saat menerima penghargaan The HRH Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur dari Kerajaan Inggris.
"Intinya adalah bagaimana mengerahkan semua sumber daya demi mencapai tujuan," tandas Gamal.
Masalah Sampah Plastik
Rata-rata kantung plastik digunakan hanya 25 menit. Tetapi untuk hancur dan terurai di alam dibutuhkan hingga 500 tahun. Ini jadi masalah serius.
Foto: picture-alliance/dpa
Sampah dari Darat ke Laut
Bagaimana kantong plastik, botol dan pengemas lain sampai ke lautan? 80 persen sampah itu berasal dari daratan. Tempat penampungan sampah yang terbuka seperti di Inggris dan Belanda menyebabkan sampah bisa terbawa angin. Lewat sungai, sampah kemudian sampai ke laut.
Foto: Fotolia/fottoo
Ratusan Ton Sampah Plastik di Laut
Bagi banyak orang yang berlibur di tepi pantai, skenario sampah di tempat wisata ini tentu tidak asing lagi. Sesuatu menyentuh kaki, tetapi bukan ikan langka melainkan sobekan kantung plastik.
Foto: picture-alliance/dpa
Sampah Plastik di Laut Terus Bertambah
100 juta hingga 150 juta ton sampah yang ditemukan di laut adalah sampah plastik. Jumlahnya terus bertambah, sekitar 6,5 juta ton per tahunnya. Menurut keterangan program lingkungan PBB, sekitar 13.000 partikel plastik bisa ditemukan di setiap kilometer persegi areal laut.
Foto: MIKE CLARKE/AFP/Getty Images
Plastik Sulit Terurai
Ini sebagian dari sampah yang ditemukan di laut. Kebanyakan terbuat dari plastik. Masalahnya, hingga plastik terurai kembali, diperlukan waktu hingga 500 tahun.
Foto: Fotolia/sablin
Laut Menderita
Masalah paling besar ditimbulkan kantung plastik dan bola-bola plastik berukuran kecil, yang sering terdapat pada produk untuk peeling seperti sabun mandi. Karena bola-bola itu begitu kecil hingga tidak tersaring instalasi pemurnian air.
Foto: picture alliance/WILDLIFE
Kantong Plastik Jadi Kompos?
Kantong dari plastik organik pada awalnya bertujuan untuk mengurangi masalah sampah palstik. Namun, plastik organik ini ada yang mengandung lebih dari 60 persen minyak bumi dan tidak bisa diolah menjadi kompos maupun didaur ulang.
Foto: picture-alliance/ZB
"Uang Jaminan" Bagi Botol Plastik
Di Jerman, salah satu upaya mengurangi sampah plastik adalah dengan menerapkan aturan jaminan bagi botol kemasan minuman. Pembeli harus membayar sejumlah uang untuk kemasannya. Uang jaminan itu akan dikembalikan lagi oleh penjual, jika si pembeli mengembalikan botol bekasnya.