1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sejumlah Negara Ancam Boikot ESC 2026, Jika Israel Tampil

17 September 2025

Eurovision Song Contest (ESC) selama ini dimaksudkan sebagai ajang non-politik, namun keikutsertaan Israel menjadi sorotan akibat perang yang berkepanjangan di Gaza.

Meski diharapkan jadi ajang pertukaran budaya yang penuh gempita, politik selalu hadir dalam Eurovision Song Contest. (Foto ESC 2024 di Malmmö)
Meski diharapkan jadi ajang pertukaran budaya yang penuh gempita, politik selalu hadir dalam Eurovision Song Contest. (Foto ESC 2024 di Malmmö)Foto: Corinne Cumming/EBU

Setelah Irlandia, Belanda turut mengancam akan memboikot Eurovision Song Contest 2026 jika Israel tetap diizinkan tampil dalam kontes tersebut. Stasiun penyiaran publik Belanda, AVROTROS menyatakan, mereka "tidak dapat lagi membenarkan partisipasi Israel mengingat situasi yang terjadi saat ini, penderitaan manusia yang berkepanjangan diGaza."

Sikap Belanda memperkuat posisi Irlandia yang sebelumnya menyatakan niatan serupa, sementara Slovenia sejak awal September berniat mundur dari ESC jika Israel ikut serta. Spanyol dan Islandia juga sedang mempertimbangkan untuk tidak mengikuti kontes nyanyi yang dijadwalkan berlangsung di Wina pada 12–16 Mei 2026 mendatang. 

Keputusan akhir keikutsertaan Israel akan diumumkan pada bulan Desember.

Dana Internasional, asal Israel, berhasil memenangkan ESC 2017Foto: DB pool/dpa/picture alliance

Bagaimana Israel bisa berpartisipasi dalam ESC?

Israel mengikuti ESC untuk pertama kalinya pada tahun 1973, yang pada saat itu masih bernama "Grand Prix d'Eurovision de la Chanson”. Sebagai anggota Uni Penyiaran Eropa (EBU), Israel termasuk peserta tetap meski bukan negara Eropa, sama halnya dengan Armenia, Azerbaijan, dan Australia, yang diterima karena komunitas penggemar yang cukup besar. Inilah sebabnya mengapa ajang ini kemudian dinamai "Eurovision” dan bukan "European Song Contest”.

Sejarah partisipasi Israel tak lepas dari ketegangan politik. Ketika Ilanit tampil sebagai perwakilan Israel untuk pertama kalinya di tahun 1973, pengamanan sangat ketat diberlakukan, mengingat beberapa bulan sebelumnya terjadi "Tragedi München” di mana sebelas atlet Israel dibunuh oleh kelompok teroris Palestina. Ilanit bahkan dikabarkan mengenakan rompi antipeluru saat tampil.

Pengamanan ketat untuk kandidat asal Israel

Tahun 2024, penyanyi Eden Golan juga tampil dengan pengamanan ketat. Sejumlah negara peserta sempat mendesak agar Israel dikeluarkan dari kompetisi. Masalahnya bukan hanya karena perang di Gaza, tetapi juga karena judul lagu yang dibawakan Golan yakni "October Rain”, yang menurut pengelola EBU mengingatkan akan penyebab perang Gaza: serangan Hamas 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 240 orang disandera.  Setelah lirik lagunya diubah, Golan pun diizinkan untuk tampil.

Eden Golan di pertunjukkan final ESC 2024Foto: Tobias Schwarz/AFP/Getty Images

Didenda karena spanduk "Palestina"

Isu politik di ESC bukan hal baru. Pada final ESC 2019 di Tel Aviv, grup Islandia Hatari memicu kontroversi dengan mengangkat spanduk bertuliskan "Palestina” di depan kamera. Akibatnya, stasiun TV Islandia dikenai denda 5.000 euro. Di malam yang sama, Madonna yang tampil sebagai bintang tamu menampilkan dua penari yang masing-masing membawa bendera Israel dan Palestina berjalan berdampingan. Madonna menyebutnya sebagai "pesan damai dan persatuan”. Namun, pihak EBU tidak menyambut aksi tersebut dengan antusias.

Dalam penyelenggaraan di Malmö (2024) dan Basel (2025), aksi protes terhadap kehadiran Israel kembali terjadi, baik dalam bentuk demonstrasi di luar gedung maupun cemoohan di dalam acara. 

Madonna saat konser di Brasil, 4 Mei 2024Foto: Silvia Izquierdo/AP Photo/picture alliance

Murni acara budaya?

Perdebatan lama pun kembali tersulut: apakah ajang budaya ESC bisa benar-benar bebas dari politik di tengah meningkatnya krisis global? Perdebatan ini kian sulit diredam.

Meskipun EBU secara resmi menyatakan, kontes ini adalah acara budaya murni yang tidak memiliki ruang untuk urusan politis, semakin banyak lagu yang menyuarakan sikap terhadap isu-isu seperti perang, hak asasi manusia, pemberdayaan perempuan, dan keberagaman.

Sebagai tuan rumah ESC 2026, stasiun penyiaran Austria, ORF, mendukung partisipasi Israel, sejalan dengan posisi EBU yang menekankan bahwa para artis tidak bertanggung jawab atas kontroversi politik negara mereka. Fokus ESC, menurut EBU, tetap pada musik, budaya, dan pesan universal tentang persatuan melalui musik.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline 

Editor: Agus Setiawan