Eurovision Song Contest (ESC) selama ini dimaksudkan sebagai ajang non-politik, namun keikutsertaan Israel menjadi sorotan akibat perang yang berkepanjangan di Gaza.
Meski diharapkan jadi ajang pertukaran budaya yang penuh gempita, politik selalu hadir dalam Eurovision Song Contest. (Foto ESC 2024 di Malmmö)Foto: Corinne Cumming/EBU
Iklan
Setelah Irlandia, Belanda turut mengancam akan memboikot Eurovision Song Contest 2026 jika Israel tetap diizinkan tampil dalam kontes tersebut. Stasiun penyiaran publik Belanda, AVROTROS menyatakan, mereka "tidak dapat lagi membenarkan partisipasi Israel mengingat situasi yang terjadi saat ini, penderitaan manusia yang berkepanjangan diGaza."
Sikap Belanda memperkuat posisi Irlandia yang sebelumnya menyatakan niatan serupa, sementara Slovenia sejak awal September berniat mundur dari ESC jika Israel ikut serta. Spanyol dan Islandia juga sedang mempertimbangkan untuk tidak mengikuti kontes nyanyi yang dijadwalkan berlangsung di Wina pada 12–16 Mei 2026 mendatang.
Keputusan akhir keikutsertaan Israel akan diumumkan pada bulan Desember.
Dana Internasional, asal Israel, berhasil memenangkan ESC 2017Foto: DB pool/dpa/picture alliance
Bagaimana Israel bisa berpartisipasi dalam ESC?
Israel mengikuti ESC untuk pertama kalinya pada tahun 1973, yang pada saat itu masih bernama "Grand Prix d'Eurovision de la Chanson”. Sebagai anggota Uni Penyiaran Eropa (EBU), Israel termasuk peserta tetap meski bukan negara Eropa, sama halnya dengan Armenia, Azerbaijan, dan Australia, yang diterima karena komunitas penggemar yang cukup besar. Inilah sebabnya mengapa ajang ini kemudian dinamai "Eurovision” dan bukan "European Song Contest”.
Iklan
Sejarah partisipasi Israel tak lepas dari ketegangan politik. Ketika Ilanit tampil sebagai perwakilan Israel untuk pertama kalinya di tahun 1973, pengamanan sangat ketat diberlakukan, mengingat beberapa bulan sebelumnya terjadi "Tragedi München” di mana sebelas atlet Israel dibunuh oleh kelompok teroris Palestina. Ilanit bahkan dikabarkan mengenakan rompi antipeluru saat tampil.
Ketika Olimpiade Bersimbah Darah: Tragedi München 1972
Olimpiade 1972 di München dibuka dengan meriah. Lalu teroris Black September menyandera delegasi Israel. Polisi Jerman Barat yang tidak berpengalaman mencoba misi pembebasan yang gagal total, 11 sandera Israel tewas.
Foto: Klaus-Dieter Heirler/picture-alliance/dpa
Upacara pembukaan yang meriah
Kota München ingin menampilkan dirinya kepada dunia sebagai tuan rumah Olimpiade yang ramah dan penuh warna-warni. Penyelenggara berharap bisa mengubah citra Jerman yang tercoreng sejak Nazi menggelar Olimpiade 1936 di Berlin. Polisi lokal sengaja berpakaian sipil dan tidak dipersenjatai. Selama 10 hari, München merayakan festival damai dengan tamu dari seluruh dunia.
Foto: picture-alliance/dpa
Serangan fajar
Pada dini hari 5 September, delapan anggota kelompok teroris Palestina "Black September" menerobos masuk ke sebuah apartemen tim Israel di Desa Olimpiade. Mereka menembak mati pelatih gulat Moshe Weinberg dan melukai serius atlet angkat besi Josef Romano. Dia kehabisan darah sampai mati, sementara sembilan sandera lainnya diikat di ruangan yang sama.
Foto: dapd
Negosiasi gagal
Para teroris menuntut pembebasan lebih dari 200 tahanan dari penjara Israel, dan berjanji akan membebaskan para sandera jika tuntutannya terpenuhi. Menteri Dalam Negeri Jerman Hans-Dietrich Genscher (ketiga dari kiri) dan pejabat lainnya bernegosiasi dengan pemimpin teroris, yang menyebut dirinya Issa. Genscher menawarkan diri untuk menggantikan para sandera, tapi ditolak.
Foto: picture alliance / dpa
Tidak ada tawar-menawar dengan teroris
PM Israel Golda Meir menolak negosiasi yang disebutnya sebagai "pemerasan yang paling buruk." Dia mengatakan: "Jika kita menyerah, maka tidak ada lagi orang Israel di dunia" yang hidupnya aman. Israel menawarkan mengirim pasukan khususnya ke Jerman untuk membebaskan para sandera, tetapi hal ini ditolak oleh pemerintah Jerman Barat.
Foto: Hugues Vassal/akg-images/picture alliance
Acara olimpiade ditangguhkan
Meskipun ada kasus pembunuhan dan penyanderaan, acara olimpiade masih tetap berlangsung, dengan pengunjung terus memadati Taman Olimpiade. Setelah orang Israel mengadakan demonstrasi dan menuntut Olimpiade dihentikan, penyelenggara pada sore hari menghentikan acara.
Foto: Horst Ossinger/picture alliance
Misi penyelamatan tertangkap siaran live
Polisi negara bagian Bayern menyiapkan penyerbuan ke aparteman tempat para sandera disekap, tapi mereka tertangkap tayangan live televisi yang juga ditonton para teroris. Rencana pembebasan sandera pun dibatalkan.
Foto: Horst Ossinger/dpa/picture alliance
Pura-pura memenuhi tuntutan penyandera
Ultimatum para teroris sempat diperpanjang beberapa kali. Akhirnya disepakati bahwa mereka akan dibawa ke bandara militer terdekat dengan dua helikopter, dan dari sana diterbangkan ke Kairo bersama para sandera. Namun para negosiator Jerman sebenarnya hanya ingin menjebak para teroris dengan janji itu.
Foto: dpa/picture alliance
Rencana yang kacau
Sebuah pesawat Boeing menunggu di Bandara Fürstenfeldbruck. Petugas kepolisian menyamar sebagai kru dan menunggu kedatangan rombongan. Tetapi petugas tidak terlatih dan tidak punya cukup senjata. Akhirnya mereka membatalkan misi atas keputusan sendiri. Beberapa petugas polisi lain di bandara juga tidak tahu bahwa ada delapan penyandera, sebelumnya diyakini hanya ada lima.
Foto: Heinz Gebhardt/IMAGO
Semua sandera terbunuh
Ketika dua teroris memeriksa pesawat Boeing, ada polisi melepaskan tembakan. Terjadi baku tembak selama berjam-jam. Teroris yangf lain meledakkan salah satu helikopter dengan granat tangan, sebelum menembak mati tahanan yang tersisa di helikopter kedua. Pada akhirnya, 15 orang tewas: Seorang polisi, lima teroris dan sembilan sandera.
Foto: dpa/picture alliance
'The Games must go on'
Pada 6 September diadakan upacara peringatan bagi para korban di Stadion Olimpiade. Di sana Presiden IOC Avery Brundage mengumumkan bahwa Olimpiade tidak akan tunduk pada teror. "Pertandingan harus diteruskan," katanya.
Foto: Heidtmann/picture alliance/dpa
Teroris ditukar sandera di Zagreb
Oktober 1972, sebuah pesawat Lufthansa dari Damaskus menuju Frankfurt dibajak dan mendarat di Zagreb. Pembajak menuntut pembebasan ketiga teroris Black September. Jerman akhirnya membawa ketiga teroris ke Yugoslavia dan mereka ikut terbang ke Tripoli. Para sandera dan awak pesawat kemudian dibebaskan dan teroris Black September mendapat perlindungan pimpinan Libia, Muammar Gaddafi. (hp/yp)
Foto: Klaus-Dieter Heirler/picture-alliance/dpa
11 foto1 | 11
Pengamanan ketat untuk kandidat asal Israel
Tahun 2024, penyanyi Eden Golan juga tampil dengan pengamanan ketat. Sejumlah negara peserta sempat mendesak agar Israel dikeluarkan dari kompetisi. Masalahnya bukan hanya karena perang di Gaza, tetapi juga karena judul lagu yang dibawakan Golan yakni "October Rain”, yang menurut pengelola EBU mengingatkan akan penyebab perang Gaza: serangan Hamas 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyebabkan 240 orang disandera. Setelah lirik lagunya diubah, Golan pun diizinkan untuk tampil.
Eden Golan di pertunjukkan final ESC 2024Foto: Tobias Schwarz/AFP/Getty Images
Didenda karena spanduk "Palestina"
Isu politik di ESC bukan hal baru. Pada final ESC 2019 di Tel Aviv, grup Islandia Hatari memicu kontroversi dengan mengangkat spanduk bertuliskan "Palestina” di depan kamera. Akibatnya, stasiun TV Islandia dikenai denda 5.000 euro. Di malam yang sama, Madonna yang tampil sebagai bintang tamu menampilkan dua penari yang masing-masing membawa bendera Israel dan Palestina berjalan berdampingan. Madonna menyebutnya sebagai "pesan damai dan persatuan”. Namun, pihak EBU tidak menyambut aksi tersebut dengan antusias.
Dalam penyelenggaraan di Malmö (2024) dan Basel (2025), aksi protes terhadap kehadiran Israel kembali terjadi, baik dalam bentuk demonstrasi di luar gedung maupun cemoohan di dalam acara.
Madonna saat konser di Brasil, 4 Mei 2024Foto: Silvia Izquierdo/AP Photo/picture alliance
Murni acara budaya?
Perdebatan lama pun kembali tersulut: apakah ajang budaya ESC bisa benar-benar bebas dari politik di tengah meningkatnya krisis global? Perdebatan ini kian sulit diredam.
Meskipun EBU secara resmi menyatakan, kontes ini adalah acara budaya murni yang tidak memiliki ruang untuk urusan politis, semakin banyak lagu yang menyuarakan sikap terhadap isu-isu seperti perang, hak asasi manusia, pemberdayaan perempuan, dan keberagaman.
Sebagai tuan rumah ESC 2026, stasiun penyiaran Austria, ORF, mendukung partisipasi Israel, sejalan dengan posisi EBU yang menekankan bahwa para artis tidak bertanggung jawab atas kontroversi politik negara mereka. Fokus ESC, menurut EBU, tetap pada musik, budaya, dan pesan universal tentang persatuan melalui musik.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman