1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
SosialIndonesia

Sejumlah Pertanyaan tentang Selingkuh

Luh Ayu Saraswati6 September 2022

Gara-gara media sosial jadi selingkuh? Apa betul pemicunya medsos? Apa betul pula manusia berselingkuh karena kita memang tidak bisa hidup secara monogami? Berikut perspektif Luh Ayu Saraswati.

Foto ilustrasi satu pasangan di atas tempat tidur
Foto: Colourbox/E.Wodicka

Bukan rahasia lagi kalau budaya selingkuh sudah mengental di Indonesia. Jika mau jujur, pasti ada sanak saudara, teman, bahkan diri sendiri pun pernah mengalami perselingkuhan. Apa betul manusia berselingkuh karena kita memang tidak bisa hidup secara monogami?

Apakah ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki ketika berselingkuh? Bagaimana halnya dengan perkembangan zaman dan internet? Apakah ada pengaruhnya terhadap perselingkuhan? Mari kita kaji masalah perselingkuhan ini lebih lanjut.

Internet: Media sosial atau media selingkuh?

Whatsapp(WA), Blackberry Messenger(BBM), Facebook, Twitter, dan Linkedin pun bisa berubah fungsi, yang awalnya adalah media sosial, berubah menjadi media selingkuh. Pacar lama zaman SMA tiba-tiba muncul di Facebook. Awalnya iseng-iseng berkomentar, menge-like foto- foto si dia, lama-lama ngopi-ngopi, makan siang, akhirnya makan siang plus-plus atau bobo siang bareng.

Walaupun internet dan media sosial tidak selalu mengarah pada perselingkuhan, namun teknologi tersebut memang mempermudah komunikasi antara dua kekasih. Foto- foto seronok pun dengan mudahnya dapat dikirim melalui internet. Dan janji wakuncar pun dengan mudah dapat dibuat melalui medsos, gratis pula dan relatif aman tanpa takut ketahuan suami/istri di rumah, selama password disimpan dengan apik.

Foto: Privat

Tak perlu tutup akun

Jika Anda tidak ingin pasangan bermain gila, jangan dulu tutup atau paksa suami/istri menutup akun medsosnya. Kebanyakan para pasangan suami-istri berselingkuh karena faktor jenuh dan tidak puas (baik ekonomi, emosional, seksual, dsb.) dengan pasangan masing-masing.

Setelah bertahun-tahun menikah, suami-istri mulai jenuh dan tidak berhubungan seks lagi, walaupun masih tinggal serumah. Kemudian masing-masing memiliki pacar baru. Bahkan terkadang, keduanya tahu sama tahu. Ada juga pasangan yang suaminya pisah ranjang, dan memilih tidur di apartemen milik pacar baru. Ketika akhir minggu tiba, suami pulang kembali ke rumah, dan berjalan-jalan dengan istri dan anak-anaknya yang mulai remaja, seperti layaknya keluarga bahagia lainnya.

Dari luar, keluarga ini nampak bahagia, dan mungkin memang bahagia dengan pacar masing-masing, namun bukan kebahagiaan keluarga ideal jadul seperti Pak Sukri dan Bu Sukri (Sinetron Rumah Masa Depan). Namun sebenarnya yang membuat pasangan ini awet dan langgeng adalah masing-masing mempunyai selingkuhan.

Jadi daripada menutup akun Facebook, lebih baik melakukan hal-hal yang menyenangkan seperti wakuncar, jalan-jalan keliling dunia, memberikan surprise, atau memperdalam hubungan suami/istri dengan mengikuti couple atau tantra workshop, misalnya, jika Anda memang ingin selalu saling setia.

Perempuan vs laki-laki

Di Indonesia, kata-kata “perempuan simpanan” sudah bukan hal yang baru lagi. Dulu, memang laki-laki lebih banyak berselingkuh dibandingkan perempuan. Memang agama mengizinkan laki-laki untuk memiliki empat istri, sehingga si laki-laki tidak bisa dianggap berselingkuh kalau memiliki empat istri. Tetapi kalau dipikir-pikir, sebelum si perempuan diangkat istri, bukankah si suami wakuncar, alias ada hati dengan si perempuan tersebut terlebih dahulu?

Zaman sekarang, walaupun perempuan tetap tidak bisa mengangkat empat suami, perempuan pun juga berselingkuh. Kalau zaman dulu biasanya istri muda atau perempuan simpanan mendapat fasilitas rumah atau dukungan finansial dari si laki-laki, zaman sekarang, kebanyakan perempuan berselingkuh karena suka sama suka, bukan karena faktor finansial. Biasanya jam makan siang (maksi) menjadi jam maksiat untuk bertemu di hotel untuk bercinta dengan kekasih gelap. Setelah selesai, kedua belah pihak kembali bekerja, dan pulang ke rumah suami/istri masing-masing. Tidak mesti ada embel-embel hadiah, tidak mesti ada tuntutan untuk membiayai atau menikahi (walaupun siri) si perempuan simpanan.

Kalaupun kini terkadang masih ada unsur finansial dalam perselingkuhan, hal ini tidak sama seperti zaman dulu. Ini disebabkan adanya peran patriarkis (budaya yang mengagungkan peran laki-laki) di dunia kerja. Misalnya, pekerja perempuan yang sering dilihat sebagai objek seksual kerap kali digunakan oleh perusahaan atau bos mereka untuk menggolkan suatu proyek. Mereka dijadikan umpan, disodorkan sebagai hadiah kepada bos-bos perusahan lain, untuk ditiduri, agar proyek tersebut dapat berjalan dengan lancar.

Ketika proyek berhasil, pekerja perempuan tersebut pun mendapatkan bonus yang tidak kecil. Cukuplah untuk membeli beberapa tas Louis Vuitton asli. Tentunya hal ini menjadi suatu masalah, ketika pekerja perempuan mendapat tekanan untuk tidur dengan bos, sementara pekerja laki-laki dapat memfokuskan energi mereka untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan semata-mata.

Manusia: Makhluk monogamis?

Apakah memang benar manusia memang tidak bisa setia dengan satu orang saja? Angela Willey, dalam bukunya, Undoing Monogamy: The Politics of Science and the Possibilities of Biology, mengajukan pandangan bahwa pertanyaan “apakah manusia makhluk yang pada dasarnya monogamis atau non-monogamis?” adalah pertanyaan yang keliru.

Menurut beliau, monogami tidak terlepas dari masalah biologis dan kultural. Jika dilihat melalui segi kultural, Indonesia adalah masyarakat yang konformis. Artinya, ketika merek tas tangan tertentu menjadi trendi, banyak orang yang mengikuti trend ini, untuk dapat diterima di lingkungannya. Sama halnya seperti saat teman sepergaulan atau teman sekantor memiliki selingkuh, kitapun ikut-ikutan untuk berselingkuh. Jadi kalau Anda dan pasangan Anda tidak ingin untuk ikut-ikutan berselingkuh, ada baiknya Anda mulai menjauh dari teman-teman yang ahli berselingkuh.

Selain itu, wacana monogamis muncul sebagai cerminan kekuasaan yang merasuki proses pembentukan ilmu pengetahuan. Maksudnya, jika si peneliti sudah memiliki norma bahwa monogami adalah hal yang natural, maka hasil riset merekapun menjadi bias. Walhasil, hingga saat ini belum ada riset yang dapat benar-benar membuktikan apakah manusia memang makhluk monogamis atau bukan. Kalaupun suatu saat dapat dibuktikan bahwa manusia adalah makluk non-monogamis, hal ini akan hanya menjadi alasan belaka untuk tidak setia.

Kuncinya: mencintai diri sendiri dulu

Dalam membina hubungan romantika, yang paling utama adalah kedua belah pihak dapat berkomunikasi dan bernegosiasi dengan pasangan masing-masing untuk memahami apa kebutuhan masing-masing dan batas-batas apa yang bisa dijadikan pagar agar kedua belah pihak dapat merasa senang dalam hubungan mereka. Tidak semua pasangan ingin monogamis, ada juga yang menginginkan hubungan polyamory (memiliki kekasih lebih dari satu). Dan selama keduanya setuju dengan hal tersebut, tidak perlu ada masalah di kemudian hari.

Terlepas dari masalah manusia itu mahkluk monogamis atau bukan, yang perlu disadari adalah: ketika seseorang berselingkuh untuk menyenangkan diri sendiri, itu artinya, orang tersebut tidak memiliki kebahagiaan dari dalam (inner happiness).

Mereka selalu mencari kesenangan melalui stimulasi dari luar. Kalau si A tidak bisa membikin dirinya bahagia, dia akan pindah ke B, lalu ke C, dan selanjutnya. Tidak pernah berhenti. Jadi, resep ampuh untuk tidak berselingkuh adalah mencintai diri sendiri dan selalu memiliki kepuasaan batin (contentment) dalam sehari-hari. Jadi kalau pasangan Anda nampak selalu tidak pernah puas dengan dirinya sendiri, berhati-hatilah! Cinta itu indah, tidak perlu dibikin buram! Setuju?

Penulis:

L. Ayu Saraswati, seorang penulis, staf pengajar, dan profesor di kajian Wanita di Universitas Hawaii. Bukunya yang berjudul Seeing Beauty Sensing Race in Transnational Indonesia mendapat penghargaan dari National Women's Studies Association sebagai buku terbaik di bidang feminisme transnasional tahun 2013.

*Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.