Sekitar 200 Juta Dollar Bagi Somalia
24 April 2009
Ini adalah keputusan yang diambil dalam Konferensi Negara Donor Somalia di Brussel, Kamis lalu (23/04). Konferensi itu dihadiri oleh 43 negara donor Somalia atas undangan Sekjen PBB Ban Ki Moon.
Somalia dapat dilihat sebagai contoh negara yang gagal. Sejak awal 90-an struktur di negeri itu tidak lagi berfungsi. Sejumlah besar milisi yang berseteru kemudian mengisi kekosongan itu. Sejak bertahun-tahun warga Somalia harus hidup dalam kekacauan. Jean Ping, Presiden Komisi Uni Afrika mengutarakan, betapa tragisnya melihat negara dihancurkan selama 20 tahun ini dan Somalia berubah menjadi negeri tanpa pemerintahan dan undang-undang.
Pasukan perdamaian Uni Afrika memang ditempatkan di Somalia. Namun perlengkapan pasukan sangat minim dan terlalu kecil untuk dapat mendukung pemerintah transisi secara efektif. Pemerintahan transisi Somalia tak disangkal lagi telah melakukan awal baru, tetapi pengaruhnya sangat terbatas dan sering menjadi target serangan kelompok perlawanan.
Tidak hanya menumpas gejala
Pemerintahan ini juga tidak akan mampu menindak perompak di perairan Tanduk Afrika yang membajak kapal asing dan menuntut uang tebusan. Terutama aksi bajak laut Somalia itu yang menjadi sorotan negatif di dunia sejak bertahun-tahun ini. Namun, dalam hal ini orang harus melihat persoalan itu dalam kaitan yang lebih luas. Demikian tuntut Presiden Komisi UE José Manuel Barroso:
„Jika kita hanya memerangi gejalannya, yaitu perompakan, dan tidak menangani akar permasalahan, yakni ambruknya sebuah negara dan kemiskinan, maka kita akan gagal."
Presiden Sharif Sheikh Ahmed dinilai dapat wujudkan awal baru
Masyarakat internasional kini sepakat untuk menyelesaikan akar permasalahan. Dukungan akan diberikan kepada pasukan perdamaian Uni Afrika dan angkatan bersenjata Somalia. Selain itu, Somalia akan mendapat bantuan untuk membangun struktur negaranya. Konferensi Negara Donor di Brussel sepakat untuk mengucurkan dana bantuan sebesar 213 juta Euro. 60 juta dari jumlah itu akan diberikan Uni Eropa.
Presiden Somalia Sharif Sheikh Ahmed dinilai dapat mewujudkan awal baru di negerinya. Di Brussel ia mengakui, posisinya menghadapi serangan perlawanan masih tetap sangat buruk. Tetapi dia juga menegaskan, setelah sekian tahun Somalia kini kembali punya peluang:
„Ini adalah kesempatan yang sangat langka untuk menolong warga Somalia. Mereka tidak tahan lagi menghadapi semua konflik dan pertikaian internal. Dan kami akan berupaya sekuat tenaga untuk membawa perdamaian ke negeri ini."
Sekjen PBB: Masyarakat internasional harus optimis
Sekjen PBB Ban Ki Moon mendukung sikap optimis presiden Somalia dan menyebut dua contoh dari Afrika, sebuah benua yang dilihat banyak orang sebagai pusat konflik abadi:
„Orang tertentu mungkin melihat Somalia sebagai simbol tidak adanya harapan dan ketiadaan hukum. Tapi sikap yang sama tidak ditunjukkan sebelumnya dalam kasus Sierra Leone dan Liberia. Perubahan itu mungkin, tetapi tentu tidak dalam satu hari. Perubahan perlu kepemimpinan yang tegas dan kemitraan internasional."
Tak seorang pun menyangkal sulitnya permasalahan di Somalia. Namun beberapa peserta konferensi berbicara tentang peluang terpenting untuk awal yang baru di Somalia yang sebelumnya tidak pernah terlihat.
Christoph Hasselbach/Christa Saloh
Editor: Hendra Pasuhuk