Iran menolak proposal damai AS, memperketat aturan di Selat Hormuz, dan mengancam kapal negara pendukung sanksi. Donald Trump menyebut rencana Iran itu "sama sekali tidak dapat diterima".
Selat Hormuz kembali jadi sorotan setelah Iran memperketat aturan bagi kapal yang melintas di jalur energi vital dunia itu.Foto: REUTERS
Iklan
Iran menolak proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang karena dianggap berisi "tuntutan berlebihan" dari Presiden AS Donald Trump, menurut media pemerintah Iran.
Press TV pada Minggu (10/05) menyebut proposal Washington sebagai “upaya untuk memaksa menyerah.” Menurut media tersebut, menerima proposal itu sama saja dengan Iran tunduk pada "tuntutan berlebihan" Trump.
Sebagai balasan, Iran mengajukan proposal tandingan yang telah ditolak Trump dan disebutnya "benar-benar tidak bisa diterima." Proposal Iran mencakup penghentian perang di semua front, pembayaran reparasi perang oleh AS, pengakuan penuh atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz, pencabutan sanksi AS, serta pengembalian aset Iran yang disita.
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, al-Thani mengatakan penggunaan Selat Hormuz sebagai "pressure tool" hanya akan memperdalam krisis di kawasan Teluk, menurut Kementerian Luar Negeri Qatar.
Doha mengatakan al-Thani juga menegaskan bahwa upaya mediasi untuk mengakhiri perang perlu direspons semua pihak.
Konflik AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 berkembang cepat. Serangan militer, krisis kepemimpinan di Teheran, hingga ancaman terhadap energi dan pangan global menunjukkan dampaknya yang meluas.
Foto: US Centcom via X/REUTERS
Serangan yang memicu perang
Eskalasi dimulai pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke target strategis di Iran. Serangan ini menandai perubahan dari ketegangan menjadi konflik terbuka, dengan risiko meluas ke kawasan Timur Tengah.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Balasan Iran dan ancaman regional
Iran merespons dengan meningkatkan kesiapan militer dan melancarkan serangan balasan. Ketegangan cepat meluas, terutama di kawasan Teluk yang menjadi jalur vital perdagangan dan energi global.
Foto: Atta Kenare/AFP/Getty Images
Kematian Ali Khamenei
Situasi semakin genting setelah media pemerintah Iran melaporkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu ketidakpastian besar terhadap stabilitas politik Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Foto: Office of the Iranian Supreme Leader/AP Photo/picture alliance
Diperdebatkan secara hukum
Serangan AS dan Israel ke Iran menuai kritik dari pakar hukum internasional. Sekjen PBB Antonio Guterres menyebutnya sebagai “ancaman serius” terhadap perdamaian global, merujuk pada Piagam PBB yang melarang serangan terhadap negara lain. Di sisi lain, respons Iran juga dipersoalkan, terutama ketika serangan menyasar wilayah sipil atau negara lain.
Foto: Hamad I Mohammed/REUTERS
Suksesi kekuasaan di tengah perang
Mojtaba Khamenei, putra dari Ali Khamenei, ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Penunjukan ini dinilai sebagai tanda rezim Iran memilih jalur konfrontatif.
Foto: Morteza Nikoubazl/NurPhoto/picture alliance
Dampak ke energi global
Konflik ini mengguncang pasar energi global. Negara-negara penghasil minyak di kawasan Teluk menghadapi tekanan, sementara dunia mengantisipasi gangguan pasokan dan lonjakan harga energi.
Foto: Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency/IMAGO
Blokade Selat Hormuz
Iran memblokade Selat Hormuz, jalur strategis bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Langkah ini memperparah krisis energi global dan meningkatkan tensi militer di kawasan.
Foto: REUTERS
Ancaman krisis pangan global
Dampak konflik tidak hanya terasa di sektor energi. Gangguan rantai pasok dan kenaikan harga energi berisiko memicu krisis pangan global, terutama di negara-negara berkembang.
Foto: DW
Indonesia tawarkan mediasi, Iran menolak
Presiden Prabowo Subianto menawarkan Indonesia sebagai mediator konflik AS-Iran. Namun Dubes Iran, Mohammad Boroujerdi, menegaskan Teheran tidak akan bernegosiasi dengan AS, meski mengapresiasi niat baik Indonesia. Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan tidak ada jaminan AS akan mematuhi kesepakatan, sehingga mediasi dinilai bukan solusi dalam situasi saat ini.
Foto: BPMI Setpres/Kris
Bagaimana sikap Uni Eropa?
Jerman menegaskan tidak akan terlibat langsung dalam perang karena tidak ada mandat dari PBB, Uni Eropa, atau NATO. Di sisi lain, negara-negara Eropa belum memiliki sikap bersama. Sebagian mendukung secara terbatas, sementara lainnya memilih menjaga jarak dan fokus pada dampak konflik.
Foto: Michael Kappeler/Pool/dts Nachrichtenagentur/IMAGO
10 foto1 | 10
Iran ancam mempersulit kapal negara pendukung sanksi AS
Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan kepada kantor berita resmi IRNA bahwa Iran telah menerapkan "sistem hukum dan keamanan baru" di selat tersebut. Dengan sistem itu, setiap kapal yang melintas wajib berkoordinasi dengan Iran.
Akraminia mengatakan aturan tersebut "sudah mulai berlaku" dan akan membawa "keuntungan ekonomi, keamanan, dan politik" bagi Republik Islam Iran.
Pernyataan itu muncul setelah Amerika Serikat dan Bahrain menyusun rancangan resolusi PBB yang menyerukan Iran menghentikan segala pembatasan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Iklan
Laba Aramco melonjak di tengah krisis
Perusahaan minyak Arab Saudi Aramco melaporkan lonjakan laba sebesar 25,5% pada kuartal pertama 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan itu dipicu lonjakan harga minyak dan gas di tengah perang antara AS, Israel, dan Iran.
Dalam pernyataannya kepada bursa saham Saudi, Aramco mengatakan laba bersih kuartalan naik menjadi 120,13 miliar riyal Saudi (sekitar Rp521 triliun), dari sebelumnya 95,68 miliar riyal Saudi (sekitar Rp415 triliun) pada kuartal pertama 2025.
Dengan gencatan senjata yang masih rapuh dan Iran membatasi lalu lintas hidrokarbon melalui Selat Hormuz, Aramco menyebut kenaikan pendapatan terutama didorong oleh harga dan volume penjualan produk olahan dan kimia yang lebih tinggi, serta kenaikan volume dan harga minyak mentah.