Pasar minyak bersiap menghadapi lonjakan harga yang tajam setelah serangan AS terhadap Iran dan pembalasan Teheran. Peran Iran penting, tapi posisi strategisnya membuat pasar tetap waspada.
Selat Hormuz, yang dianggap sebagai titik krusial terpenting untuk pasokan minyak di dunia, menjadi sorotan di tengah situasi IranFoto: Sepahnews/ZUMA/IMAGO
Iklan
Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran serta respons agresif Teheran telah mengguncang pasar minyak. Banyak analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak tajam.
Gangguan berkepanjangan terhadap lalu lintas di selat tersebut, yang dilalui seperlima produksi minyak dunia, dapat membuat harga minyak menembus ambang US$100 (sekitar Rp1,68 juta) per barel. Kondisi itu berpotensi merugikan ekonomi global dan mendorong kenaikan harga yang sulit dikendalikan.
Harga minyak sebenarnya telah naik ke level tertinggi dalam beberapa bulan menjelang perang terbaru di kawasan kaya minyak itu, karena para pedagang mencemaskan dampak kemungkinan serangan militer terhadap Iran. Minyak mentah Brent naik ke sekitar US$73 (sekitar Rp1,22 juta) per barel pada 27 Februari. Kelompok negara produsen minyak OPEC+ pada Minggu (01/03) sepakat meningkatkan produksi mulai April guna menenangkan pasar.
"Jika konflik berkepanjangan dan terutama jika memengaruhi pasokan minyak secara nyata, baik akibat gangguan pasokan Iran maupun upaya Iran untuk memblokir Selat Hormuz, hal itu dapat menyebabkan harga minyak melonjak, mungkin hingga sekitar US$100 per barel (sekitar Rp1,22 juta),” kata William Jackson, kepala ekonom pasar negara berkembang di Capital Economics, dalam catatan kepada klien.
Trump Umumkan "Operasi Tempur Besar" terhadap Iran
00:33
This browser does not support the video element.
Berapa banyak minyak yang diproduksi Iran?
Iran memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak per hari (bph), menjadikannya produsen minyak terbesar keempat di dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Iran juga termasuk salah satu produsen gas alam terbesar di dunia.
Iklan
Iran memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, mencakup sekitar seperempat cadangan minyak di Timur Tengah dan 12% cadangan global, menurut US Energy Information Administration (EIA). Namun, produksinya tetap terbatas akibat bertahun-tahun kurangnya investasi dan sanksi internasional.
Ekonomi Iran relatif lebih terdiversifikasi dibandingkan banyak negara Timur Tengah lain yang bergantung pada minyak, tetapi ekspor energi tetap menjadi sumber pendapatan penting bagi pemerintah. Pada 2023, perusahaan minyak Iran meraih sekitar US$53 miliar (sekitar Rp890,4 triliun) pendapatan bersih dari ekspor minyak, menurut perkiraan EIA.
Lika-Liku Kesepakatan Nuklir Iran
Donald Trump telah secara resmi menarik AS dari perjanjian nuklir internasional dengan Iran. Pemerintah AS terdahulu telah dengan susah payah menegosiasikannya selama bertahun-tahun dengan lima mitra internasional.
Foto: picture-alliance/epa/D. Calma
Yang menjadi masalah
Fasilitas nuklir Iran Bushehr adalah salah satu dari lima fasilitas yang dikenal oleh pengamat internasional. Israel, Amerika Serikat dan negara-negara sekutu telah sepakat bahwa usaha Iran memperkaya uranium - untuk keperluan energi domestik, menurut para pejabat di Teheran - dapat menjadi ancaman bagi kawasan jika hal itu berujung pada pengembangan senjata nuklir.
Foto: picture-alliance/dpa
Akhir dari masalah
Pada 2006, lima negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB (AS, Cina, Rusia, Prancis, Inggris) dan Jerman (P5+1) memulai proses negosiasi yang melelahkan dengan Iran yang akhirnya mencapai kesepakatan pada 14 Juli 2015. Negara-negara tersebut sepakat memberikan kelonggaran sanksi pada Iran. Sebagai gantinya, pengayaan uranium Iran harus terus dipantau.
Foto: picture alliance / landov
Rakyat Iran setuju
Di Teheran dan kota-kota lain di Iran, warga merayakan apa yang mereka yakini sebagai akhir dari isolasi ekonomi bertahun-tahun yang memberi efek serius pada kesehatan dan gizi masyarakat karena kurangnya akses ke pasokan medis dan makanan untuk warga biasa. Banyak juga yang melihat perjanjian itu sebagai bukti bahwa Presiden Hassan Rouhani berusaha untuk membuka Iran ke dunia dengan cara lain.
Foto: picture alliance/AA/F. Bahrami
Peran IAEA
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) ditugaskan untuk memantau kepatuhan Iran kepada kesepakatan itu. Direktur Jenderal IAEA Yukiya Amano (kiri) pergi ke Teheran untuk bertemu dengan Rouhani pada bulan Desember 2016, hampir satu setengah tahun setelah kesepakatan itu ditandatangani. Dalam laporan yang disampaikan setiap tiga bulan, IAEA berulang kali menyertifikasi kepatuhan Iran.
Foto: picture alliance/AA/Iranian Presidency
Sang oponen
Setelah delapan tahun dengan Barack Obama, PM Israel Benjamin Netanyahu menemukan sosok presiden AS yang ia inginkan dalam Donald Trump. Meski Trump tidak memiliki pengalaman dalam diplomasi dan ilmu nuklir, ia menyebut perjanjian internasional tersebut sebagai "kesepakatan terburuk yang pernah dinegosiasikan." Hal ini juga menjadi pokok kampanye pemilunya di 2016.
Foto: Reuters/R. Zvulun
Siapa yang masih ada?
Meskipun ada sertifikasi IAEA dan protes dari Kemlu AS, Trump tetap menarik AS dari perjanjian pada 8 Mei. Pihak-pihak lain telah berjanji untuk tetap berada dalam kesepakatan. Diplomat top Uni Eropa, Federica Mogherini (kiri), sudah melakukan pembicaraan dengan para menteri luar negeri dari (ki-ka) Iran, Prancis, Jerman dan Inggris.
Sejumlah besar minyak mentah yang diproduksi di kawasan tersebut oleh negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, serta dikonsumsi secara global, mengalir melalui selat ini.
Iran berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut. Namun, Teheran tidak pernah melakukannya karena berisiko memicu respons internasional yang cepat dan dapat mencegahnya mengekspor minyaknya sendiri.
Di tengah perang yang sedang berlangsung, lalu lintas melalui Selat Hormuz praktis terhenti setelah sejumlah perusahaan pelayaran dan pedagang energi menangguhkan pengiriman melalui jalur itu karena alasan keamanan dan peringatan dari otoritas.
Hal ini mengancam terhambatnya 15 juta barel per hari minyak mentah, sekitar 30% perdagangan minyak laut global, untuk mencapai pasar. Bahkan jika infrastruktur alternatif digunakan untuk menghindari jalur tersebut, dampaknya akan berupa kehilangan pasokan 8-10 juta bph, menurut Rystad Energy.
"Baik selat ditutup secara paksa maupun menjadi tidak dapat diakses karena penghindaran risiko, dampaknya terhadap arus pasokan pada dasarnya sama,” tulis Jorge Leon, wakil presiden senior dan kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, dalam catatan kepada klien. "Kecuali sinyal deeskalasi muncul dengan cepat, kami memperkirakan penyesuaian harga minyak yang signifikan pada awal pekan.”
Iran telah berhasil menemukan cara untuk menghindari sanksi Barat dan menjual minyaknya kepada pembeli di AsiaFoto: Indonesian Maritime Security Agency/AP Photo/picture alliance
Bagaimana respons OPEC+?
OPEC+, aliansi antara OPEC yang dipimpin Arab Saudi dan sejumlah produsen minyak lain termasuk Rusia, pada Minggu (01/03) mengumumkan peningkatan kuota produksi yang lebih besar dari perkiraan.
"Kelompok tersebut pada akhirnya meningkatkan produksi melebihi ekspektasi awal, tetapi tidak sampai pada peningkatan yang signifikan,” kata Leon. "Jika arus melalui Teluk dibatasi, tambahan produksi hanya akan memberikan kelegaan terbatas dalam waktu dekat, sehingga akses ke jalur ekspor menjadi jauh lebih penting dibanding target produksi utama.”
Arab Saudi telah meningkatkan ekspor minyak mentahnya dalam beberapa pekan terakhir, yang menurut analis merupakan upaya menciptakan penyangga jangka pendek menjelang serangan AS dan Israel. Arab Saudi mengirim sekitar 7,3 juta bph dalam 24 hari pertama bulan Februari, tertinggi sejak April 2023, menurut data pelacakan kapal tanker yang dihimpun Bloomberg. Arab Saudi juga meningkatkan ekspor minyak pada Juni tahun lalu, saat AS menyerang fasilitas nuklir Iran.
Iran juga meningkatkan ekspor minyaknya menjelang negosiasi dengan AS, lapor Bloomberg.
"Meski demikian, penyangga semacam itu pada dasarnya terbatas dan dirancang untuk meredam guncangan jangka pendek, bukan untuk mengimbangi gangguan struktural yang berkelanjutan,” kata pakar Rystad Energy tersebut.
Bagaimana Perang Putin Memengaruhi Ekonomi Dunia
Efek perang Rusia terhadap Ukraina dirasakan di seluruh dunia. Harga makanan dan bahan bakar meningkat di mana-mana. Di beberapa negara kerusuhan pecah akibat naiknya harga barang kebutuhan utama.
Foto: Dong Jianghui/dpa/XinHua/picture alliance
Belanja Semakin Mahal di Jerman
Konsumen di Jerman merasakan kenaikan biaya hidup. Konsekuensi dari perang di Ukraina dan sanksi terhadap Rusia mulai terasa. Pada bulan Maret, tingkat inflasi Jerman mencapai level tertinggi sejak 1981. Pemerintah Jerman ingin segera mengembargo batubara Rusia, tetapi masih memperdebatkan pelarangan impor gas dan minyak dari Rusia.
Foto: Moritz Frankenberg/dpa/picture alliance
Antrian Mengisi Bahan Bakar di Kenya
Antrian panjang mobil di SPBU Nairobi. Di Kenya, warga juga merasakan dampak perang di Ukraina. Bahan bakar kian mahal, dan pasokannya terbatas, belum lagi krisis pangan. Duta Besar Kenya untuk PBB Martin Kimani dalam sidang Dewan Keamanan menyatakan keprihatinannya, dan membandingkan situasi di Ukraina timur dengan perubahan yang terjadi di Afrika setelah berakhirnya era kolonial.
Foto: SIMON MAINA/AFP via Getty Images
Siapa Amankan Suplai Gandum ke Turki?
Rusia adalah produsen gandum terbesar di dunia. Karena larangan ekspor dari Rusia, harga roti sekarang naik di banyak tempat, termasuk di Turki. Sanksi internasional telah mengganggu rantai pasokan. Ukraina juga merupakan salah satu dari lima pengekspor gandum terbesar di dunia, tetapi perang dengan Rusia membuat mereka tidak dapat mengirimkan barang dari pelabuhannya di Laut Hitam.
Foto: Burak Kara/Getty Images
Harga Gandum Melonjak di Irak
Seorang pekerja tengah menumpuk karung-karung tepung tergu di pasar Jamila, pasar grosir terpopuler di Baghdad. Harga gandum telah meroket di Irak sejak Rusia menginvasi Ukraina, karena kedua negara tersebut menyumbang setidaknya 30% dari perdagangan gandum dunia. Irak tetap netral sejauh ini, tetapi poster-poster pro-Putin sekarang telah dilarang di negara itu.
Foto: Ameer Al Mohammedaw/dpa/picture alliance
Unjuk Rasa di Peru
Para demonstran bentrok dengan polisi di ibukota Peru, Lima. Mereka memprotes kenaikan harga pangan, satu di antara rangkaian kenaikan harga. Krisis semakin diperburuk dengan adanya perang di Ukraina. Presiden Peru, Pedro Castillo memberlakukan jam malam dan keadaan darurat untuk sementara. Tapi jika peraturan tersebut dicabut, protes akan terus berlanjut.
Foto: ERNESTO BENAVIDES/AFP via Getty Images
Keadaan Darurat di Sri Lanka
Di Sri Lanka, warga turun ke jalan untuk mengekspresikan kemarahan mereka. Beberapa hari lalu, ada yang mencoba menyerbu kediaman pribadi Presiden Gotabaya Rajapaksa. Memuncaknya protes terhadap kenaikan biaya hidup, kekurangan bahan bakar, dan pemadaman listrik, mendorong presiden mengumumkan keadaan darurat nasional, sekaligus meminta bantuan pengadaan sumber daya dari India dan Cina.
Warga di Skotlandia juga memprotes kenaikan harga makanan dan energi. Di seluruh Inggris, serikat pekerja telah mengorganisir demonstrasi untuk memprotes kenaikan biaya hidup. Brexit telah mengakibatkan kenaikan harga di banyak area kehidupan, dan perang di Ukraina makin memperburuk keadaan.
Foto: Jeff J Mitchell/Getty Images
Harga Ikan Goreng di Inggris Melonjak
Warga Inggris punya alasan untuk khawatir terkait hidangan nasional tercinta mereka "fish and chips". Sekitar 380 juta porsi goreng ikan dan kentang dikonsumsi di Inggris setiap tahun. Tetapi sanksi keras saat ini, berarti harga ikan putih dari Rusia, minyak goreng dan energi, semuanya melonjak naik. Pada Februari 2022, tingkat inflasi Inggris mencapai 6,2%.
Foto: ADRIAN DENNIS/AFP via Getty Images
Peluang Ekonomi bagi Nigeria?
Seorang pedagang di Ibafo, Nigeria, tengah mengemas tepung untuk dijual kembali. Nigeria telah lama ingin mengurangi ketergantungannya pada makanan impor, dan membuat ekonominya lebih tangguh lagi. Orang terkaya di Nigeria Aliko Dangot, baru-baru ini membuka pabrik pupuk terbesar di negara itu, dan berharap memiliki banyak pembeli. Apakah itu sebuah peluang? (kp/as)
Foto: PIUS UTOMI EKPEI/AFP via Getty Images
9 foto1 | 9
Bagaimana dampaknya terhadap ekonomi global?
Dampak terhadap ekonomi global sangat bergantung pada seberapa tinggi harga minyak akan naik. Minyak mentah merupakan komoditas utama, sehingga kenaikan harganya mendorong kenaikan harga barang lainnya.
"Sebagai aturan umum, kenaikan harga minyak sebesar 5% secara tahunan biasanya menambah sekitar 0,1 poin persentase pada inflasi rata-rata di ekonomi utama,” kata Jackson. "Kenaikan Brent -- tolok ukur global utama untuk harga minyak -- hingga US$100 (sekitar Rp1,68 juta) per barel dapat menambah 0,6–0,7 poin persentase terhadap inflasi global.”
Inflasi yang lebih tinggi dapat menekan kepercayaan dan belanja konsumen. Bank sentral juga dapat menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, yang pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris.