1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
EkonomiAsia

Perang Iran: Ancaman Selat Hormuz Picu Kenaikan Harga Minyak

2 Maret 2026

Pasar minyak bersiap menghadapi lonjakan harga yang tajam setelah serangan AS terhadap Iran dan pembalasan Teheran. Peran Iran penting, tapi posisi strategisnya membuat pasar tetap waspada.

Selat Hormuz, Teluk Persia, Iran: Target yang terkena serangan selama latihan militer di Teluk Persia, bagian selatan Iran
Selat Hormuz, yang dianggap sebagai titik krusial terpenting untuk pasokan minyak di dunia, menjadi sorotan di tengah situasi IranFoto: Sepahnews/ZUMA/IMAGO

Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran serta respons agresif Teheran telah mengguncang pasar minyak. Banyak analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak tajam.

Meski Iran hanya menyumbang sekitar 3-4% produksi minyak global, kedekatannya dengan Selat Hormuz yang dianggap sebagai titik rawan minyak paling penting di dunia, mendorong para analis untuk menaikkan proyeksi harga minyak ke depan.

Gangguan berkepanjangan terhadap lalu lintas di selat tersebut, yang dilalui seperlima produksi minyak dunia, dapat membuat harga minyak menembus ambang US$100 (sekitar Rp1,68 juta) per barel. Kondisi itu berpotensi merugikan ekonomi global dan mendorong kenaikan harga yang sulit dikendalikan.

Harga minyak sebenarnya telah naik ke level tertinggi dalam beberapa bulan menjelang perang terbaru di kawasan kaya minyak itu, karena para pedagang mencemaskan dampak kemungkinan serangan militer terhadap Iran. Minyak mentah Brent naik ke sekitar US$73 (sekitar Rp1,22 juta) per barel pada 27 Februari. Kelompok negara produsen minyak OPEC+ pada Minggu (01/03) sepakat meningkatkan produksi mulai April guna menenangkan pasar.

"Jika konflik berkepanjangan dan terutama jika memengaruhi pasokan minyak secara nyata, baik akibat gangguan pasokan Iran maupun upaya Iran untuk memblokir Selat Hormuz, hal itu dapat menyebabkan harga minyak melonjak, mungkin hingga sekitar US$100 per barel (sekitar Rp1,22 juta),” kata William Jackson, kepala ekonom pasar negara berkembang di Capital Economics, dalam catatan kepada klien.

Trump Umumkan "Operasi Tempur Besar" terhadap Iran

00:33

This browser does not support the video element.

Berapa banyak minyak yang diproduksi Iran?

Iran memproduksi sekitar 3,3 juta barel minyak per hari (bph), menjadikannya produsen minyak terbesar keempat di dalam Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC). Iran juga termasuk salah satu produsen gas alam terbesar di dunia.

Iran memiliki salah satu cadangan minyak terbesar di dunia, mencakup sekitar seperempat cadangan minyak di Timur Tengah dan 12% cadangan global, menurut US Energy Information Administration (EIA). Namun, produksinya tetap terbatas akibat bertahun-tahun kurangnya investasi dan sanksi internasional.

Iran menemukan cara untuk menghindari sanksi Barat dan kini menjual 90% ekspor minyaknya ke Cina. Berkat permintaan dari Cina, Iran meningkatkan produksi minyak mentahnya sekitar 1 juta bph dari 2020 hingga 2023.

Ekonomi Iran relatif lebih terdiversifikasi dibandingkan banyak negara Timur Tengah lain yang bergantung pada minyak, tetapi ekspor energi tetap menjadi sumber pendapatan penting bagi pemerintah. Pada 2023, perusahaan minyak Iran meraih sekitar US$53 miliar (sekitar Rp890,4 triliun) pendapatan bersih dari ekspor minyak, menurut perkiraan EIA.

Mengapa Selat Hormuz menjadi sorotan?

Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur ini terletak di antara Iran dan Oman.

Sejumlah besar minyak mentah yang diproduksi di kawasan tersebut oleh negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, serta dikonsumsi secara global, mengalir melalui selat ini.

Iran berulang kali mengancam akan menutup selat tersebut. Namun, Teheran tidak pernah melakukannya karena berisiko memicu respons internasional yang cepat dan dapat mencegahnya mengekspor minyaknya sendiri.

Di tengah perang yang sedang berlangsung, lalu lintas melalui Selat Hormuz praktis terhenti setelah sejumlah perusahaan pelayaran dan pedagang energi menangguhkan pengiriman melalui jalur itu karena alasan keamanan dan peringatan dari otoritas.

Hal ini mengancam terhambatnya 15 juta barel per hari minyak mentah, sekitar 30% perdagangan minyak laut global, untuk mencapai pasar. Bahkan jika infrastruktur alternatif digunakan untuk menghindari jalur tersebut, dampaknya akan berupa kehilangan pasokan 8-10 juta bph, menurut Rystad Energy.

"Baik selat ditutup secara paksa maupun menjadi tidak dapat diakses karena penghindaran risiko, dampaknya terhadap arus pasokan pada dasarnya sama,” tulis Jorge Leon, wakil presiden senior dan kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, dalam catatan kepada klien. "Kecuali sinyal deeskalasi muncul dengan cepat, kami memperkirakan penyesuaian harga minyak yang signifikan pada awal pekan.”

Iran telah berhasil menemukan cara untuk menghindari sanksi Barat dan menjual minyaknya kepada pembeli di AsiaFoto: Indonesian Maritime Security Agency/AP Photo/picture alliance

Bagaimana respons OPEC+?

OPEC+, aliansi antara OPEC yang dipimpin Arab Saudi dan sejumlah produsen minyak lain termasuk Rusia, pada Minggu (01/03) mengumumkan peningkatan kuota produksi yang lebih besar dari perkiraan.

"Kelompok tersebut pada akhirnya meningkatkan produksi melebihi ekspektasi awal, tetapi tidak sampai pada peningkatan yang signifikan,” kata Leon. "Jika arus melalui Teluk dibatasi, tambahan produksi hanya akan memberikan kelegaan terbatas dalam waktu dekat, sehingga akses ke jalur ekspor menjadi jauh lebih penting dibanding target produksi utama.”

Arab Saudi telah meningkatkan ekspor minyak mentahnya dalam beberapa pekan terakhir, yang menurut analis merupakan upaya menciptakan penyangga jangka pendek menjelang serangan AS dan Israel. Arab Saudi mengirim sekitar 7,3 juta bph dalam 24 hari pertama bulan Februari, tertinggi sejak April 2023, menurut data pelacakan kapal tanker yang dihimpun Bloomberg. Arab Saudi juga meningkatkan ekspor minyak pada Juni tahun lalu, saat AS menyerang fasilitas nuklir Iran.

Iran juga meningkatkan ekspor minyaknya menjelang negosiasi dengan AS, lapor Bloomberg.

"Meski demikian, penyangga semacam itu pada dasarnya terbatas dan dirancang untuk meredam guncangan jangka pendek, bukan untuk mengimbangi gangguan struktural yang berkelanjutan,” kata pakar Rystad Energy tersebut.

Bagaimana dampaknya terhadap ekonomi global?

Dampak terhadap ekonomi global sangat bergantung pada seberapa tinggi harga minyak akan naik. Minyak mentah merupakan komoditas utama, sehingga kenaikan harganya mendorong kenaikan harga barang lainnya.

"Sebagai aturan umum, kenaikan harga minyak sebesar 5% secara tahunan biasanya menambah sekitar 0,1 poin persentase pada inflasi rata-rata di ekonomi utama,” kata Jackson. "Kenaikan Brent -- tolok ukur global utama untuk harga minyak -- hingga US$100 (sekitar Rp1,68 juta) per barel dapat menambah 0,6–0,7 poin persentase terhadap inflasi global.”

Inflasi yang lebih tinggi dapat menekan kepercayaan dan belanja konsumen. Bank sentral juga dapat menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi, yang pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Inggris.

Diadaptasi oleh Fika Ramadhani

Editor Melisa Lolindu

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait