1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikIran

Seluruh Sekolah di Iran Ditutup, Nasib Pelajar Dipertanyakan

23 April 2026

Akibat perang, seluruh sekolah di Iran melakukan proses pembelajaran melalui siaran televisi dan jaringan intranet lokal. Bagaimana nasib pelajar yang tidak memiliki laptop atau ponsel pintar di daerah tertinggal?

Puing-puing di ruang kelas di Sekolah Shahid Mahallati setelah serangan udara
Banyak gedung sekolah di kota-kota padat penduduk telah hancur selama seranganFoto: Shadati/Xinhua/IMAGO

"Tidak ada kelas tatap muka di seluruh sekolah sampai pemberitahuan selanjut," bunyi pernyataan Kementerian Pendidikan Iran pekan lalu. Mulai 21 April, pembelajaran dilakukan secara daring melalui platform khusus dan program televisi pemerintah "Iran TV School." Kebijakan ini berlaku secara nasional untuk semua jenis sekolah dan semua jenjang pendidikan. Perubahan ini akan terus berlangsung hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.

Saat ini, Iran berada dalam ketidakpastian menjelang kemungkinan dilanjutkannya kembali serangan udara. Setelah gencatan senjata yang rentan selama enam pekan, situasi masih tetap tegang.

Menurut Kepala Organisasi Renovasi, Pengembangan, dan Perlengkapan Sekolah, lebih dari 640 bangunan pendidikan di 17 provinsi rusak akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Sekitar 250 di antaranya rusak berat dan perlu direnovasi total, 15 sekolah lainnya dinyatakan tidak dapat diperbaiki dan harus dibangun ulang.

Puluhan Orang Tewas akibat Serangan Udara di Iran

01:41

This browser does not support the video element.

Beralih ke jaringan internet lokal

NetBlocks, lembaga pemantau internet yang berbasis di London, melaporkan bahwa menjelang 21 April, Iran mengalami pemadaman internet nasional terpanjang yang pernah tercatat. Hingga saat ini, sebagian besar di Iran masih terputus dari internet global.

Sebagian besar lalu lintas internet kini dialihkan ke intranet atau jaringan lokal yang sangat dibatasi dan hanya memungkinkan akses ke situs-situs web dalam negeri. Bahkan sebelum pemadaman, akses internet di Iran sudah disensor ketat. Banyak platform media sosial diblokir, sehingga pengguna terpaksa mengandalkan VPN untuk mengaksesnya. 

"Pemblokiran internet di Iran kemungkinan besar tidak akan pernah sepenuhnya dicabut," ujar Amir Rashidi, pakar keamanan siber sekaligus Direktur Digital Rights & Security di Miaan Group, sebuah organisasi HAM berbasis di AS yang memperjuangkan kebebasan digital dan keadilan sosial di Iran, Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Pembatasan internet yang terus berlanjut menyusul protes di IranFoto: Fatemeh Bahrami/Anadolu Agency/IMAGO

"Gagasan yang sudah lama dikembangkan otoritas Iran adalah membangun semacam intranet yang sepenuhnya terpisah dari internet global. Ini tentang kontrol negara yang menyeluruh di ruang digital," tambahnya.

Dengan cara ini, pemerintah dapat mencegah masyarakat saling berkomunikasi, mengorganisasi protes, atau menyebarkan gambar demonstrasi. Di sisi lain, beberapa layanan digital tetap bisa digunakan melalui intranet, seperti aplikasi pesan makanan atau layanan transportasi daring.

Beban tambahan bagi siswa di daerah tertinggal

Peralihan ke pembelajaran virtual melalui intranet menjadi tantangan besar, terutama bagi siswa dari keluarga kurang mampu dan wilayah tertinggal,

"kami sebenarnya sudah menerapkan pembelajaran virtual saat pandemi COVID-19 dengan aplikasi dan platfotm yang beroperasi di jaringan internet lokal," jelas Rashidi. "Masalahnya, di beberapa wilayah seperti Sistan dan Baluchistan, hampir tidak ada koneksi internet karena minim infrastruktur. Sebagian besar orang di Iran mengakses internet lewat ponsel. Namun di wilayah ini, jumlah ponsel pintar lebih sedikit, apalagi perangkat seperti laptop yang dibutuhkan siswa," tambahnya.

Selama pandemi, berbagai organisasi dari dalam dan luar negeri sempat menggalang dana atau menyediakan perangkat bekas pakai bagi pihak yang membutuhkan.

Namun, sejumlah aktivis menilai, meningkatnza pengangguran, kesulitan ekonomi, dan inflasi sejak pecahnya perang telah menyebabkan penurunan drastis dalam bantuan lokal.

Di tengah keterbatasan akses internet di beberapa daerah, sebagian pembelajaran dialihkan ke program televisi "Iran TV School." Menurut Fars, kantor berita semi-resmi di Iran, jadwal pembelajaran pun diatur layaknya siaran TV, misalnya pelajaran matematika untuk tingkat SMP tayang pukul 14.00, sementara untuk tingkat SMA dengan mata kuliah fisika menyusul pada pukul 18.00.

Di parlemen Iran, diskusi sedang berlangsung tentang cara memperluas jaringan informasi nasional secara cepat, meningkatkan kapasitas jaringan (bandwidth) untuk institusi pendidikan, dan mengembangkan materi pembelajaran yang berstandar.

Alireza Manadi Sefidan, ketua Komite Parlemen untuk Pendidikan dan Penelitian, telah menyerukan adanya tambahan investasi guna memperbaiki kondisi pembelajaran jarak jauh berskala nasional, baik di sekolah maupun universitas.

Sementara itu, jaringan lokal nasional semakin menjadi tulang punggung infrastruktur kehidupan masyarakat. Namun di saat yang sama, dengan dibatasinya akses internet, sebagian besar populasi mendapati diri mereka terputus dari dunia luar.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Iryanda Mardanuz

Editor: Muhammad Hanafi