Manusia kerap memaksakan proses reproduksi segala sesuatu sampai bumi harus diaborsi berkali-kali. Sembilan Kartini Kendeng berjuang keras menjaga rahim bumi. Ikuti refleksi Dewi Candraningrum berikut ini.
Foto: picture-alliance/NurPhoto
Iklan
Pada Selasa 12 April 2016, di depan istana, sembilan perempuan Rembang dipimpin oleh Sukinah (kemudian Karsupi, Sutini, Surani, Murtini, Giyem, Ngadinah, Rifambarwati, Deni Y.) menyemen kedua kakinya sebagai tindakan protes pada pemerintahan Jokowi-Kalla atas pendirian pabrik Semen di Pegunungan Kendeng Rembang.
Sejak tahun 2014, puluhan perempuan Watu Putih mendirikan tenda untuk melawan penghancuran lebih jauh biodiversitas, tangkapan air, dan kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watu Putih Rembang. Sampai sekarang dukungan untuk mereka berlipat ganda secara lokal dan nasional.
Akal ekologis yang mereka ajarkan ‘tak mengizinkan jarak' antara manusia dan alam - yang menolak subordinasi dan eksterioritas - yaitu keterpisahan antara manusia dan alam. CAT Watu Putih adalah ibu bagi mereka. Kepercayaan ini mengandaikan sebuah tindakan yang mereplika perilaku Bumi. Karena masing-masing manusia berada dalam jaring ecomimesis. Act of feet-cementing is act of speaking.
Kawasan CAT Watu Putih Pegunungan Kendeng Rembang merupakan kawasan lindung geologis karena karakternya yang khas dan spesifik. Peraturan perundangan yang melindungi CAT Watu Putih Rembang adalah sebagai berikut:
1) Peraturan Daerah Rembang Nomor 14 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Rembang 2011-2031.
2) Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2011 yang menetapkan kawasan sebagai CAT yang adalah suatu wilayah yang dibatasi hidrogeologis tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung.
Aksi Para Kartini Kendeng
9 perempuan Kendeng Rembang, Jawa Tengah berjuang keras menolak pembangunan pabrik semen di kampung halamannya. Setelah berkali-kali unjuk rasa di wilayahnya, mereka ke Jakarta dan mengecor kaki dengan semen.
Foto: picture-alliance/NurPhoto
Dari Kendeng ke Jakarta
Sembilan perempuan Rembang ini mengecor kakinya sebagai protes terhadap rencana pembangunan pabrik semen milik PT Semen Indonesia di lahan pertanian mereka di Pegunungan Kendeng, Rembang, Jawa Tengah.
Foto: picture-alliance/NurPhoto
Demi lingkungan dan kehidupan masyarakat lokal
Dipimpin Sukinah, mereka menyemen kedua kakinya pada Selasa 12 April 2016, di depan istana. Mereka mengecor kaki di kotak kayu ukuran 100 x 40 sentimeter. Sejak 2014 puluhan perempuan Watu Putih mendirikan tenda untuk melawan penghancuran lebih jauh biodiversitas, tangkapan air, dan kawasan Cekungan Air Tanah (CAT) Watu Putih Rembang.
Foto: picture-alliance/NurPhoto
Perjuangan sejak lama
Tahun 2014, mereka juga pernah melaporkan kepada Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) atas tindakan kekerasan dan persoalan yang mereka alami, akibat keberadaan perusahaan semen di wilayah tersebut.
Foto: picture-alliance/NurPhoto
Melawan pabrik semen
Setelh terpasung semen selama dua hari, sembilan perempuan dari Kendeng mengakhiri aksi dengan membongkar semen yang sejak Selasa siang telah membelenggu kaki mereka, setelah aksi mereka dipastikan mendapat perhatian Presiden. Kawasan CAT Watu Putih Pegunungan Kendeng Rembang merupakan kawasan lindung geologis karena karakternya yang khas dan spesifik.
Foto: picture-alliance/NurPhoto
Gugat kerusakan lingkungan
Para Kartini ini merupakan para petani perempuan dari wilayah sepanjang pegunungan Kendeng yaitu Rembang, Pati, dan Grobogan, Jawa Tengah. Warga Kendeng menggugat pendirian pabrik semen di wilayah mereka karena dituding merusak lingkungan.
Foto: picture-alliance/dpa/D.Husni
5 foto1 | 5
Meskipun begitu, pelanggaran atas kawasan ini dilakukan oleh pemerintah sendiri dengan menerbitkan izin semen. Perihal ini menarasikan bagaimana tindakan ini merupakan narasi anthroposen, dimana manusia menjadi biang dari semua manajemen ekologi yang kemudian tak baik, karena sifatnya yang merusak dan eksploitatif.
Saat ini, manusia hidup dalam sebuah era dimana manusia adalah pusat semesta. Keperkasaan manusia mengambil porsinya bagaimana ia mampu menumbuhkan segala sesuatu di dalam laboratorium-laboratorium, bagaimana ia mengubah proses kimia dalam lautan, dan bagaimana ia bahkan meluruskan atau mengubur sungai-sungai atas nama produktivitas lahan.
Geolog menyebutnya sebagai Anthroposen, sejak Pleistosen dan terakhir Holosen. Antroposen mengakui peran sentral manusia sebagai pengubah kekuatan geofisika planet bumi dan kemudian akan mendefinisikan takdir planet ini pada tahun-tahun mendatang. Empat puluh persen lebih dataran planet ini dikuasai manusia untuk menumbuhkan makanan bagi manusia.
Manusia mengubah iklim
Tiga perempat air juga telah dikontrol manusia. Saat-saat ini, saat-saat paling mengenaskan bagi planet ini sampai ia tak mampu melakukan regenerasi bagi dirinya sendiri. Manusia telah mampu mengubah iklim.
Manusia telah mendeklarasikan sebuah era, Anthroposen, era dimana nasib dan takdir planet bumi dan seisinya ada sepenuhnya di tangannya. Perihal ini adalah narasi ‘antropologi' bumi. Tetapi dalam praktoknya ia adalah narasi ‘andrologi'. Dimana perempuan yang terkandung dalam narasi dewi-dewi dalam Sanskrit tak sungguh-sungguh dapat menyuarakan dirinya. Bhumi, dalam Sanskrit adalah nama seorang dewi.
Foto: Dewi Candraningrum
Mengembalikan narasi rahim Bhumi
Sembilan Kartini Rembang sedang mengembalikan narasi rahim Bhumi dalam penyelamatan lingkungan. Tindakan menyemen kaki ini merupakan protes keras. Aleta Baun dan ratusan perempuan Mollo juga melakukan protes dengan berani, dengan menenun di atas Gunung Mutis. Ketika Bhumi dihancurkan, biofoni, simfoni alam akan semakin hening, semakin sepi.
Karena binatang-binatang dipunahkan, dilenyapkan. Sementara keanekaragaman hayati dikalahkan oleh tujuan pembangunan jangka pendek. Meminjam Rachel Carson: “Musim Semi yang Sepi” (The Silent Spring) di tahun 1960-an menarasikan bagaimana ‘Barat' menghadapi masalah berat dengan sepinya alam dari suara cicit binatang akibat penggunaan masif pestisida yang kemudian membuat lebah dan burung dan binatang lain punah.
Manusia memaksakan proses reproduksi segala sesuatu sampai Bhumi harus diaborsi berkali-kali. Dan karenanya Bhumi seperti perempuan yang tak cukup. Ia terlentang di laboratorium manusia. Manusia menanam beberapa rahim dalam perutnya. Tubuhnya kurus. Matanya pucat. Sembilan Kartini sekarat.
Penulis:
Dewi Candraningrum, pemimpin redaksi Jurnal Perempuan
**Setiap tulisan yang dimuat dalam #DWNesia menjadi tanggung jawab penulis.
Lima Ancaman bagi Kehidupan di Bumi
Bukanlah perubahan iklim atau jatuhnya meteor raksasa yang menjadi ancaman dapat memusnahkan mahluk hidup di planet bumi, melainkan manusia. Demikian menurut ulasan di theconversation.com
Foto: picture-alliance/PIXSELL/Puklavec
1. Perang Nuklir
Jika negara-negara adidaya atom berperang, ratusan juta orang secara langsung akan menjadi korban keganasan senjata ini. Namun ancaman sebenarnya adalah dampak dari perang nuklir tersebut yang dikenal dengan sebutan “musim dingin nuklir“. Suhu dingin dan kekeringan akan mendera bumi selama ratusan tahun, menyebabkan ancaman kelaparan global.
Foto: Getty Images/AFP
2. Bioteknologi
Pandemi alami telah menelan lebih banyak korban jiwa dibandingkan perang. Namun pandemi alami bukanlah dianggap sebagai ancaman eksistensi manusia. Sayangnya, sekarang kita mampu membuat satu penyakit menjadi lebih ganas. Salah satu contoh adalah virus Ectromelia. Virus yang menyebabkan cacar pada tikus ini berhasil dikembangkan sehingga menjadi lebih ganas dan dapat pula menyerang manusia.
Foto: imago/Science Photo Library
3. Kecerdasan
Kecerdasan atau kepintaran memiliki kekuatan dasyat. Dan kecerdasan memang diperlukan untuk mencapai satu tujuan. Tetapi masalahnya adalah jika individu atau kelompok yang memiliki kekuasaan menggunakan kecerdasan secara cerdik untuk mencapai tujuan yang berujung pada bencana di pihak lain. Tidak ada alasan untuk berkata bahwa kecerdasan akan membuat orang berperilaku baik dan bermoral.
Foto: Fotolia/DOC RABE Media
4. Nanoteknologi
Teknologi ini, yang mampu memanipulasi materi pada skala atomik atau molekular, sebenarnya tidak berbahaya, bahkan sangat bermanfaat. Masalahnya adalah, seperti bioteknologi, teknologi ini dapat disalahgunakan. Risiko yang paling jelas adalah bahwa teknologi ini dapat digunakan untuk memproduksi senjata secara cepat dan murah.
Foto: picture-alliance/dpa
5. Sesuatu yang tidak diketahui
Kemungkinan lain yang dapat membinasakan kehidupan di bumi adalah sesuatu yang mematikan dan mengintai di luar sana, tapi tidak kita kenal sebelumnya. Hanya karena ada kemungkinan bahaya yang tidak diketahui, bukan berarti bahwa kita tidak perlu untuk berusaha mencari tahu bentuk ancaman ini.
Foto: Fotolia/andreiuc88
Perubahan Iklim dan Meteor
Perubahan iklim atau meteor raksasa dianggap bukan ancaman bagi kehidupan. Memang mengkhawatirkan, namun perubahan iklim diperkirakan tidak akan membuat planet bumi tidak bisa dihuni. Meteor raksasa mungkin saja menerjang bumi, tapi kemungkinannya sangat kecil. Kedua Faktor alam ini kemungkinannya jauh lebih kecil dibandingkan ancaman perang nuklir, yang telah mengintai selama 70 tahun.