1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sengketa Atom Iran Berlanjut

23 Agustus 2006

Jawaban resmi Iran terhadap ultimatum PBB yang disampaikan tanggal 22 Agustus lalu, tetap merupakan taktik mengulur waktu.

Gambar satelit dari reaktor nuklir di Natanz, Iran
Gambar satelit dari reaktor nuklir di Natanz, IranFoto: AP

Harian kiri liberal Inggris The Guardian berkomentar: Iran kini berada di atas angin.

"Presiden Iran dari kelompok garis keras, Mahmud Ahmadinejad, melancarkan serangan simpatik yang bersemangat, yang menarik perhatian sekaligus meningkatkan popularitasnya di dalam negeri. Sikapnya yang konsekuen anti-Amerika, mencerminkan kembali hubungan yang buruk antara Iran dan AS di masa lalu. Pernyataan mengenai “kesombongan global“, merupakan ungkapan singkat, untuk menanggapi wacana dari Washington dan pemerintahan neo-konservativ, mengenai pergantian rezim di Teheran."

Sementara harian Rusia Kommersant yang terbit di Moskow berkomentar: Niat Iran menjadi negara adi daya atom hanya dapat dicegah dengan cara menggulingkan rezim pemerintahannya.

"Pertanyaan mengenai apakah Iran akan diterima menjadi anggota kelompok negara adidaya atom, kini sudah tidak menarik lagi. Satu-satunya cara untuk mencegah Iran hingga tahun 2025 mendatang menguasai teknologi nuklir, adalah dengan menghancurkan sistem politiknya atau menghancurkan seluruh negara itu."

Mengenai sengketa atom Iran itu, harian Italia Corriere della Sera yang terbit di Milan berkomentar:

"Iran kembali tidak memberikan jawaban yang jelas. Teheran tidak menolak secara tegas, akan tetapi mengajukan serangkaian usulan balik. Akan tetapi, kelihatanya pada saat ini Amerika juga tidak terlalu tergesa-gesa. Baik dutabesar AS di PBB maupun Presiden George W.Bush, tidak menghendaki konfliknya mencuat sebagai permusuhan pribadi antara pemerintahan neo-konservativ di Washington dengan penguasa di Teheran."

Sedangkan harian Swiss Tages-Anzeiger yang terbit di Zürich menulis komentar berjudul: Iran melakukan tawar menawar seperti di pasar tradisional.

"Teheran kini tidak bersikap konfrontatif, dan menyatakan tetap bersedia berunding. Terlihat, ketergantungan internasional pada minyak menjadi kekuatan terbesar Iran. Jika Dewan Keamanan tetap menuruti tuntutan Presiden Bush, untuk menjatuhkan sanksi terhadap Iran, dampaknya dapat sebaliknya dari yang diinginkan. Sebab, semakin ketat tekanan dari luar, posisi rezim di Teheran juga akan semakin kuat."

Sementara harian Perancis Sud-Ouest yang terbit di Bordeaux berkomentar: Pemerintah Iran memperkuat posisinya.

"Mitra perundingan Iran kini tidak lagi melancarkan tekanan. Juga ancaman George W. Bush untuk melancarkan serangan militer ke Iran, diketahui hanyalah gertak sambal. Sebab AS kini terjerumus semakin dalam di Irak, sehingga membatasi ruang geraknya. Di sisi lain, muncul kekuatan adi daya baru, yakni China yang mulai menetapkan haluan baru dari tatanan global. Saat ini Beijing adalah penentang utama sanksi terhadap Teheran."