1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sengketa Atom Iran dan Krisis di Irak

11 Maret 2006

Diserahkannya sengketa program nuklir Iran kepada DK PBB disoroti media-media internasional tidak dengan pandangan yang serupa.

Instalasi atom di Isfahan, Iran
Instalasi atom di Isfahan, IranFoto: AP

Harian Spanyol El Pais yang terbit di Madrid berkomentar:

"Mengerahkan DK berarti satu keadaan kritis tambahan dalam konflik antara barat dan rezim di Iran. Selama tiga tahun ini, jalur diplomasi tak membuahkan hasil. Dengan demikian, di Dewan Keamanan ada kesamaan sikap yang mempersulit keadaan. Yaitu bahwa banyak pemerintahan yang berpendapat, Iran diperlakukan lebih buruk daripada Pakistan, Israel atau India. Sanksi hanya akan dijatuhkan, jika rezim teokratis mengabaikan semua peringatan DK. Namun orang tak bisa menutup kemungkinan berkembangnya eskalasi. Karenanya, krisis ini berbahaya terutama karena Teheran, karena kebohongan dan manuvernya yang berubah-ubah, telah kehilangan kredibilitasnya di mata barat."

Harian Italia La Repubblica yang terbit di Roma menulis dengan nada getir:

"Dalam atmosfir surealis Déja vu, pengulangan sebuah film tragis, yang sudah kita saksikan satu kali, pemerintahan Bush, Eropa dan PBB saat ini secara terang-terangan menerapkan skenario perang Iran terhadap Irak. Ini menyangkut sebuah pertunjukan yang sudah dikenali orang dengan baik. Yaitu bahwa solusinya sepertinya tidak terhindarkan dan bisa diperkirakan. Perang pribadi yang diperbaharui, kali ini terhadap Iran. Di Washington baru saja beredar skenario serangan global, yang pada saat bersamaan diarahkan kepada instalasi nuklir di Iran dan Korea Utara, dan disahkan lewat instruksi rahasia dari Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld."

Menyangkut soal Irak, yang kini dilanda gelombang kekerasan, harian Inggris Independen yang terbit di London berkomentar:

"Invasi yang dilancarkan ke Irak sudah merupakan kesalahan besar, jauh sebelum kekerasan meningkat di negara itu. Cara yang digunakan Amerika untuk menceburkan dirinya dalam perang ini, banyak mengakibatkan kerugian bagi Amerika. Dan hal itu didukung oleh PM Inggris Tony Blair. Tidak ada pembenaran moral bagi perang ini. Perang yang memperbesar fundamentalisme di dunia Islam dan memberi amunisi bagi para teroris. Invasi ke Irak tidak menghasilkan keamanan bagi dunia, melainkan sebaliknya. Itulah yang harus kita pikirkan menjelang tiga tahun berlangsungnya perang Irak."

Harian Denmark Politiken yang terbit di Kopenhagen juga mengomentari situasi Irak yang kini terus dilanda kekerasan:

"Dengan invasinya yang dimulai tiga tahun lalu, AS membebaskan Irak, yang saat itu tidak diperkirakan oleh para pemimpinnya dan kini hampir tidak dapat dikontrol. perundingan mengenai pemerintahan bersama kini merupakan jalan terakhir sebelum perang saudara pecah antara kelompok-kelompok etnis dan relijius. Penilaian ini berasal dari duta besar AS di Irak dan cocok betul dengan kondisi negeri yang luluh lantak oleh perang itu. Amerika memikul tanggung jawab yang luar biasa besar atas perbuatannya di Irak."