1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sengketa Hasil Pemilu Iran

15 Juni 2009

Kemenangan telak Ahmadinejad di Iran menghapus harapan kalangan oposisi. Terutama kelompok muda dan kaum perempuan kota berharap ada perubahan.

Mengenai pemilu di Iran, harian Perancis Liberation menulis:

Perbedaan besar dalam perolehan suara antara Presiden Ahmadinejad dan penantang utamanya Mir Hossein Mousavi menimbulkan dugaan kuat tentang adanya manipulasi.. Rejim Iran bereaksi keras terhadap aksi protes yang berujung pada kerusuhan. Aparat keamanan menahan banyak pendukung Mousavi. Jika pemerintah terus melakukan represi untuk menindas sedini mungkin harapan-harapan kaum muda, ini perkembangan berbahaya. Makin banyak kaum muda Iran yang sekarang berani bersuara dan menunjukkan bahwa mereka ingin perubahan.

Harian Perancis lainnya Le Figaro mengomentari kemenangan Ahmadinejad sebagai berikut:

Kemenangan Ahmadinejad dan aksi protes penuh emosi menunjukan adanya pertarungan keras di Iran. Selama kampanye, Ahmadenejad sudah menyiapkan lahan pertarungan ini. Ia menyebut lawan-lawan politiknya sebagai ‚kaki tangan negara-negara Barat' dan sebagai politisi korup. Seandainya Ahmadinejad kalah, ini bisa dilihat sebagai suatu awal baru bagi politik peredaan ketegangan yang dicanangkan pemerintah Amerika Serikat. Tapi sekarang, Barat harus berunding dengan sebuah rejim yang makin kaku, karena sedang menghadapi protes keras di dalam negeri.

Harian Italia La Repubblica menulis:

Delapan tahun pemerintahan presiden sebelumnya yang berhaluan reformis, Mohammad Khatami, telah mengubah masyarakat Iran. Tapi semua itu masih belum cukup untuk merombak rejim yang ada, dan membuat institusi-institusi menjadi lebih demokratis. Munculnya Mousavi kembali mengobarkan harapan perubahan. Namun kubu reformis kembali tidak mampu menandingi kubu konservatif. Inilah drama yang dihadapi oleh kaum muda dan perempuan di Iran, yang sedang berjuang untuk demokrasi.

Harian Belanda de Volkskrant menyoroti posisi pimpinan spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Harian ini menulis:

Masih belum jelas, apa makna pemilu ini bagi Iran sendiri. Bagi negara-negara Barat, terpilihnya kembali Ahmadinejad tidak mengubah situasi. Tentu saja Mousavi akan lebih menguntungkan, sebab ia ingin berkonsultasi dengan Barat. Namun pada akhirnya, yang menentukan politik luar negeri dan politik atom Iran adalah pimpinan spiritual Ayatollah Ali Khamenei. Bukan presiden Iran.

Harian Jerman Westdeutsche Zeitung menulis:

Sebagian besar generasi muda perkotaan merasa ditipu dengan hasil pemilu ini. Bukan itu saja, mereka juga merasa kehilangan masa depan. Inilah generasi muda yang sudah menikmati sedikit kebebasan selama masa kampanye, dan tidak ingin melepaskannya lagi. Penindasan oleh rejim yang berkuasa akan membuat mereka makin menentang pemerintah. Untuk jangka panjang, situasi ini lebih berbahaya bagi penguasa di Iran, daripada sanksi luar negeri yang tidak berguna.

SL/HP/dpa/afp