1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sengketa Nuklir Iran Berlanjut

4 Agustus 2005

Presiden baru Iran Mahmoud Ahmadinejad mengimbau agar dunia menjadi kawasan bebas senjata nuklir. Namun, ia tidak menyinggung soal sengketa program nuklir Iran. Benarkah sikap Iran telah melunak dalam hal ini?

Pembicaraan sengketa nuklir Iran - Uni Eropa
Pembicaraan sengketa nuklir Iran - Uni EropaFoto: AP

Harian Hungaria berhaluan kiri Nepszabadsag menilai, sengketa nulir Iran adalah permainan ganda yang strategis:

"Memang Uni Eropa merasa terancam oleh ambisi nuklir Iran, tetapi bagi Rusia dan Cina program ini sangat menguntungkan, baik dari segi politis maupun ekonomi. Program nuklir Iran adalah duri dalam daging bagi Amerika Serikat. Bila India dan Cina membantu dalam penyelesaian masalah ini, dalam banyak hal mereka dapat menuntut kelonggaran dari pemerintah Amerika Serikat. Ini juga berlaku bagi Uni Eropa, yang dalam sengketa nuklir Iran bertindak seolah mempunyai kekuatan politik yang setara dengan negara adidaya.“

Harian konservatif Perancis Le Figaro mengomentari perundingan antara Iran dan kelompok tiga negara Uni Eropa yang sudah berlangsung dua tahun lebih:

"Perancis, Inggris dan Jerman dengan dukungan penuh Uni Eropa dan Amerika Serikat, memberikan konsesi di bidang politik, ekonomi dan perdagangan kepada Iran. Mereka berharap dapat menggerakkan Iran untuk menghentikan ambisi nuklirnya. Tetapi, walau semua kelonggaran telah diterima Iran, negara ini tetap berkeras untuk melanjutkan proses pengayaan uranium. Padahal delapan bulan lalu program ini sempat dibekukan sebagai bukti, bahwa Uni Eropa dapat mempercayai Iran. Bila kita lihat perkembangan terakhirnya, kecil kemungkinan kesepakatan dapat tercapai di meja perundingan.“

Sementara harian konservatif The Times yang terbit di London menulis:

“Tampaknya badai diplomasi akan menghantam perundingan nuklir Iran. Dua pemain baru muncul: Presiden baru Iran yang ultra-konservatif danDuta Besar Amerika Serikat untuk PBB yang terkenal mendukung haluan keras dalam isu nukir Iran. Pihak ketiga adalah sekelompok negara Uni Eropa yang frustasi, dan mengancam akan menghentikan perundingan dengan Iran. Inggris, Perancis dan Jerman berusaha keras membuat paket penawaran baru bagi Iran, untuk membujuk negara ini menghentikan program nuklirnya. Kesannya, seperti tawar menawar di pasar malam. Dan sebenarnya semua pihak mengetahui hal tersebut. Pertanyaannya tinggal, apa yang sebenarnya diinginkan Iran? Amerika Serikat sepatutnya curiga, Iran menyimpan niat buruk. Meskipun demikian, AS bersedia memberi kesempatan kepada Uni Eropa untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Uni Eropa sudah menyiapkan penawaran yang menarik bagi Iran. Dapatkah hal ini mencegah badai diplomasi?“

Sementara harian Italia La Stampa yang terbit di Turin berkomentar:

"Menjatuhkan sanksi PBB karena pelanjutan program nuklir Iran atau intervensi politik dalam negeri dengan mendukung oposisi Iran? Saat ini, Presiden Amerika Serikat George W. Bush berada di simpang jalan menghadapi masalah sengketa nuklir Iran. Pertanyaannya sekarang, apa yang harus kita lakukan dengan Teheran? Pengukuhan Mahmoud Ahmadinejad sebagai pimpinan baru Republik Islam Iran, menghadapkan Gedung Putih pada suatu keputusan untuk menyudutkan Ahmadinejad. Tetapi mungkin saja Amerika akan memilih jalan tengah dan melancarkan strategi ganda. Di satu pihak mengaktifkan Dewan Keamanan PBB dan di lain pihak memberi dukungan penuh pada pihak oposisi di Iran.“