Sengketa Nuklir Iran
1 Agustus 2005
Pemerintah Iran mengumumkan, akan memulai kembali aktivitas program nuklirnya, bila Uni Eropa tidak mengajukan rancangan penyelesaian isu nuklir Iran sampai awal Agustus.
Harian Inggris The Independent yang berhaluan kiri mengomentari pernyataan sepihak pemerintah Iran mengenai program nuklirnya:
“Pernyataan Iran yang akan kembali memulai aktivitas nuklirnya mengejutkan pihak Uni Eropa. Mungkin pemerintah Iran hanya ingin menekan Uni Eropa untuk memenuhi janji pemberian bantuan di bidang ekonomi dan politik bagi Iran. Tetapi ada kemungkinan Iran berencana menggunakan program nuklirnya untuk mengembangkan senjata nuklir dengan dalih peningkatan keamanan negaranya.
Minggu ini presiden terpilih Mahmud Ahmadinedschad akan memulai masa jabatannya. Para diplomat mengkhawatirkan, pernyataan tentang dilanjutkannya aktivitas nuklir menandai haluan baru dalam politik nuklir Iran yang lebih keras. Tugas dunia Internasional sekarang adalah meyakinkan Teheran, bahwa masyarakat dunia tidak menginginkan Iran berkembang menjadi negara kekuatan atom.“
Sementara harian Perancis berhaluan konservatif Le Figaro berkomentar:
"Dalam proses perundingan pengawasan program nuklirnya, Iran berusaha menjauhkan Uni Eropa dari Amerika Serikat. Sampai saat ini taktik tersebut tidak membuahkan hasil. Bahkan, Februari lalu Presiden Amerika Serikat George W. Bush menyatakan akan mendukung sikap Uni Eropa dalam mengadapi isu nuklir Iran. Beberapa waktu kemudian Amerika Serikat menghentikan aksi boikot keanggotan Iran dalam Organisasi Perdagangan Dunia WTO. Sekarang Iran lah yang harus menentukan sikap. Uni Eropa hendak membuka jalan bagi Iran untuk memasuki kancah politik dan ekonomi dunia dengan syarat penghentian aktivitas nuklir berat Iran yang dapat digunakan untuk mengembangkan senjata atom. Bila Iran menolak, nasib negara ini akan serupa dengan Irak: Iran akan dituntut mempertanggungjawabkan program nuklirnya di depan Dewan Keamanan PBB. Dan, mungkin negara ini menghadapi ancaman sanksi serta aksi militer dunia internasional.“
Harian Jerman Süddeutsche Zeitung menyampaikan komentar senada:
"Keputusan sepihak Iran berisiko tinggi, karena mungkin kelompok Uni Eropa sekarang akan mengikuti sikap keras Amerika Serikat, yang ingin isu nuklir Iran dirundingkan dalam Dewan Kemanan PBB. Beberapa hari yang lalu, Kelompok Uni Eropa yang terdiri dari Perancis, Jerman dan Inggris telah meminta Malaysia, yang mempunyai hubungan diplomatik baik dengan Iran untuk menjadi penengah. Dan, dari kalangan pakar Uni Eropa terdengar, bahwa ada kemungkinan mereka akan mengajukan pelaksanaa sidang khusus Badan Atom dan Energi Internasional (IAEA) di Wina hari Senin.“
Sementara harian Italia La Repubblica menulis:
“Pernyataan Teheran yang akan memulai kembali program pengolahan uran membangkitkan ketegangan antara Iran dan Uni Eropa. Pengamat Internasional yang berusaha mengartikan arah haluan yang akan ditempuh presiden terpilih Iran, kini mendapat jawaban yang sangat jelas Hampir bersamaan dengan peneguhan Mahmud Ahmadinedschad sebagai presiden baru Iran, pemerintah mengumunkan akan mengaktifkan kembali reaktor yang memungkinkan negara ini menghasilkan energi tenaga nuklir. Iran seolah menantang dunia barat dengan aksi ini. Timbul kekhawatiran, di balik pernyataan pengunaan riset tenaga nuklir untuk keperluan sipil semata, sebenarnya Iran merencanakan untuk membangun senjata nuklir. Karena, untuk apa Iran yang begitu kaya akan minyak bumi, melakukan investasi besar-besaran di sektor energi nuklir?“