Sengketa nuklir Iran
13 Mei 2005Juru runding utama Iran Hassan Ruhani menegaskan, negaranya tidak akan menghormarti perjanjian non-proliferasi bila Iran dihalangi menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai. Ruhani dengan pernyataan itu memberikan reaksi atas tekanan UE yang dengan tajam memperingatkan Iran yang hendak memulai lagi pemrosesan uranium.
Harian Jerman Tagesspiegel yang terbit di Berlin menuntut sikap keras UE terhadap politik nuklir Iran:
Posisi Eropa selama ini , Iran hanya harus dibujuk dengan tawaran yang bagus, dan mereka akan mengalah. Pandangan AS bahwa Iran harus diancam dengan serius, tidak didukung oleh Eropa. Bulan Maret lalu Bush mengalah, dan menyatakan kesediaannya, untuk mendengarkan usulan Iran bagi penghentian program nuklirnya. Kini para mullah di Iran berpikir, mereka punya peluang lebih besar untuk mempermainkan Eropa. Oleh karena itu, troika UE ,yaitu Jerman,Perancis dan Inggris, harus bersikap tegas. Artinya, bila Iran melanggar perjanjian, kasusnya dibawa ke sidang khusus IAEO dan dari sana diteruskan ke DK- PBB. Eropa harus bersikap keras, kalau tidak mau disebut tidak berdaya.
Suratkabar Perancis La Croix juga punya pandangan sama, bahwa negara-negara barat harus bersatu menghadapi Iran:
Sejak Kamis lalu Teheran memilih jalan konfrontasi. Tetapi rupanya Iran telah belajar dari krisis di Irak. Sementara Saddam Hussein mengeluarkan ancaman, meski ia tidak memiliki senjata pemusnah massal, Presiden Iran Khatami sebaliknya mengakui melakukan pengayaan uranium, namun menegaskan, hanya untuk tujuan damai. Namun umpan itu tidak berhasil. Perubahan sikap Iran menuntut tindakan bersama Eropa dan AS. Mereka dapat membawa kasus itu ke IAEO atau ke DK- PBB, guna menekan Teheran.
Koran Perancis Le Figaro , memandang, gagalnya UE untuk membujuk Iran menghentikan pemrosesan uranium , sebagai pukulan bagi Eropa:
Krisis Iran bagaimana pun merupakan pukulan mundur bagi diplomasi Eropa. Bagi Badan Energi Nuklir Internasional IAEO , maupun troika-UE pengakitivan kembali program nuklir Iran,berarti dihentikannya perundingan. Presiden Bush setelah lama ragu , mendukung upaya troika UE . Namun sebenarnya Washington tetap yakin, niat Iran membangun instalasi nuklir untuk tujuan damai, hanya alasan untuk dapat membangun bom nuklir. Bila pemerintah AS bertindak sendiri, kasus itu sudah lama dibawa ke DK-PBB. Kini Troika UE terpaksa harus mengikuti sikap AS dan membawa kasus nuklir Iran ke DK-PBB, yang dapat menjatuhkan sanksi, bila China dan Rusia,dua negara yang puya kepentingan di Iran, tidak memvetonya.
Suratkabar Washington Post mengenai perkembangan terakhir dalam konflik nuklir, memberitakan, Iran bersedia melanjutkan perundingan dengan Perancis, Inggris dan Jerman, sebelum mengambil keputusan definitif untuk dimulainya lagi program nuklirnya. Harian itu mengutip keterangan seorang diplomat Iran Washington Post juga mengabarkan, d ibukota AS pekan depan akan dimulai persiapan untuk kemungkinan digelarnya sidang darurat khusus Badan energi Nuklir Internasional IAEO.