1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Seniman “Pemberontak”- Penulis Persepolis Tutup Usia

5 Juni 2026

Lewat "Persepolis", ia telah menyentuh hati jutaan pembaca di seluruh dunia: Kini penulis komik dan pembuat film Iran-Prancis, Marjane Satrapi, meninggal dunia pada usia 56 tahun.

Penulis Marjane Satrapi
Marjane Satrapi became world famous for her graphic novel 'Persepolis'Foto: Gino Domenico/AP Photo/picture alliance

Seniman kelahiran Iran ini menyajikan kesaksian yang sangat personal mengenai Revolusi Islam Iran.  Marjane Satrapi yang dikenal di seluruh dunia melalui novel grafis dan filmnya, Persepolis, meninggal dunia pada usia 56 tahun, demikian dilaporkan oleh kantor berita AFP. 

"Marjane Satrapi meninggal dunia karena duka yang mendalam setelah lebih dari satu tahun kepergian Mattias Ripa, suami dan cinta sejatinya,” ungkap pihak keluarga dalam sebuah pernyataan yang dikirimkan kepada AFP.

Ripa, yang merupakan seorang produser, aktor, dan penulis skenario asal Swedia, meninggal dunia pada tanggal 8 April 2025.

Sepeninggal suaminya, Satrapi mendirikan Mattias and Marjane Ripa-Satrapi Cinema Foundation untuk mendukung mahasiswa asing yang ingin datang ke Paris untuk belajar sinematografi. Ia juga mendokumentasikan dukanya melalui sebuah unggahan di Instagram: "Karena saya telah kehilangan cinta sejati saya."

Persepolis, karya monumental bergenre novel grafis 

Penulis, ilustrator, dan sineas kelahiran Iran ini mulai dikenal luas berkat karya sastra autobiografinya yang monumental, Persepolis.

Novel grafis yang sangat diakui tersebut menceritakan kehidupan masa kecil Satrapi di Teheran. Sebagai remaja, ia berjuang menghadapi berbagai pembatasan yang diberlakukan oleh kepemimpinan Islam Iran yang baru pascarevolusi 1979. Orang tuanya kemudian mengirim Satrapi ke Eropa, tempat di mana ia memulai kehidupannya di pengasingan.

Pertama kali diterbitkan sebagai seri dalam bahasa Prancis mulai tahun 2000, "Persepolis" kemudian diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasaFoto: Mary Evans/IMAGO

Melalui ilustrasi hitam putih yang tegas dan gaya penceritaan yang lugas serta sering kali bernada satir, Persepolis berhasil memperkenalkan konteks politik dan sosial Iran kepada banyak pembaca di dunia Barat. Karya ini juga membuktikan bahwa novel grafis dapat menjadi medium untuk berekspresi sastra secara serius.

Remaja pemberontak di lingkungan Teheran yang Islami 

Lahir pada tanggal 22 November 1969 di Rasht, Iran, dan dibesarkan di ibu kota, Satrapi tumbuh di tengah keluarga yang aktif secara politik, yang turut membentuk pandangan hidupnya di usia muda. Masa kecilnya diwarnai oleh latar belakang Revolusi Islam 1979 serta berdirinya Republik Islam setelahnya. Pengalaman-pengalaman inilah yang kelak menjadi fondasi utama bagi karyanya yang paling tersohor.

Karena telah mengenal pemikiran politik Barat sejak usia sangat muda, Satrapi didorong oleh orang tuanya untuk memiliki tekad yang kuat dan berani memperjuangkan hak-haknya. Namun, seiring dengan semakin ketatnya pembatasan sosial di bawah rezim Islam Iran, keluarganya mulai mengkhawatirkan keselamatannya. Terlebih lagi, ia kerap mengabaikan aturan kesopanan dan mendengarkan musik-musik yang dilarang. Orang tuanya pun mengirim Satrapi ke Wina pada saat ia berusia 14 tahun.

Kepindahan dan pergulatan yang ia alami di luar negeri, seperti alienasi, kebingungan budaya, hingga kepulangannya ke Teheran, menjadi tema-tema sentral di dalam Persepolis.

Pertama kali diterbitkan sebagai serial dalam bahasa Prancis pada tahun 2000, Persepolis kemudian dibukukan menjadi satu jilid dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa. Karya ini juga berhasil memenangkan berbagai penghargaan sastra dan komik bergengsi.

Selain Persepolis, buku-buku karyanya yang lain meliputi Embroideries dan Chicken with Plums, yang keduanya mengupas sejarah kehidupan pribadi dan keluarga.

Dalam Woman, Life, Freedom (2024), ia berkolaborasi dengan lebih dari 20 aktivis, seniman, jurnalis, dan akademisi untuk menggambarkan perjuangan hak-hak perempuan di Iran. Karya ini menjadi bentuk penghormatan atas perlawanan rakyat Iran pada tahun 2022. Karyanya ini dipicu oleh kasus pembunuhan Jina Mahsa Amini, seorang perempuan Kurdi-Iran berusia 22 tahun. Ini terjadi saat ia berada di dalam tahanan dengan tuduhan melanggar aturan berpakaian bagi perempuan.

Selain diakui lewat novel-novel grafisnya, Satrapi juga mendapat penghargaan sebagai sineas. Pada tahun 2007, ia menyutradarai adaptasi film animasi Persepolis bersama Vincent Paronnaud. Film tersebut tayang perdana di Festival Film Internasional Cannes dan berhasil memenangkan Penghargaan Juri (Jury Prize), serta kemudian meraih nominasi Academy Award (Piala Oscar) untuk kategori Film Animasi Terbaik.

Versi film 'Persepolis' memenangkan penghargaan Grand Jury di Cannes pada tahun 2007Foto: Valery Hache/AFP

Satrapi juga terus berkarya di dunia perfilman dengan menyutradarai adaptasi Chicken with Plums pada tahun 2011, dan dilanjutkan dengan The Voices (2014), sebuah film komedi gelap (dark comedy) berbahasa Inggris yang dibintangi oleh Ryan Reynolds. Karya-karya filmnya menampilkan perpaduan antara kreativitas visual dan intensitas emosional yang juga menjadi ciri khas karya sastranya.

Penghargaan Berlinale bagi Film Iran

01:49

This browser does not support the video element.

Suara bagi kebebasan berekspresi 

Satrapi menghabiskan sebagian besar masa dewasanya di Eropa; ia tiba di Prancis pada tahun 1994 dan memperoleh kewarganegaraan Prancis pada tahun 2006. Ia sering kali merefleksikan persoalan mengenai pengasingan, identitas, serta kesalahpahaman yang kerap timbul di antara ragam budaya.

Sepanjang kariernya, Satrapi konsisten menyuarakan dukungannya terhadap kebebasan berekspresi dan melontarkan kritik tajam terhadap otoritarianisme.

Karya-karyanya menolak narasi politik yang dangkal. Meskipun ia sangat kritis terhadap rezim Iran, ia juga menentang pandangan Barat yang sekadar mereduksi atau memberikan stereotipe terhadap masyarakat Iran. "Saya orang Iran," ungkapnya yang sering kali dilontarkan dalam berbagai wawancara maupun karyanya, "tetapi identitas tersebut mencakup keberagaman."

"Hal pertama yang saya pelajari adalah Anda tidak bisa menghakimi seluruh bangsa hanya dari pemerintahannya."

Ia juga mengkritik pemerintah Prancis dengan menolak penghargaan Legion of Honor (Legiun Kehormatan) dari Prancis pada tahun 2025. Penolakan tersebut didasari oleh apa yang ia gambarkan sebagai "kemunafikan" negara itu dalam berhubungan dengan Iran.

Melalui catatan yang intim mengenai pengalaman pribadinya, Satrapi mewariskan karya yang telah mengubah cara dalam menyampaikan kisah-kisah tentang revolusi dan pengasingan. Berbagai kisahnya akan terus menginspirasi generasi mendatang.

"Kita bisa menjadi ‘pengeras suara', itu saja," ucapnya dalam sebuah wawancara dengan The Guardian. "Jika kita berpikir bahwa kita ini adalah sesuatu selain dari ‘pengeras suara', lebih baik kita diam saja — ini adalah masalah kepatutan."

 

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Algadri Muhammad

Editor: Ayu Purwaningsih