1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
TerorismeGlobal

Senjata Biologis dan AI: Ancaman Lama dengan Teknologi Baru

2 November 2026

Senjata biologis dilarang berdasarkan hukum internasional. Namun, perkembangan bioteknologi dan kecerdasan buatan (AI) memunculkan kekhawatiran baru.

Antraks di bawah mikroskop. Tampak seperti belatung berwarna merah muda dan ungu yang tersebar di atas lingkaran putih menyerupai bulan.
Antraks merupakan salah satu agen biologis yang paling berbahaya: penyakit ini memiliki tingkat kematian yang tinggi dan spora yang sangat resisten.Foto: Heikki Saukkomaa/dpa/picture-alliance

Kecerdasan buatan (AI) berpotensi disalahgunakan untuk mengembangkan senjata biologis. Meski terdengar seperti skenario fiksi ilmiah, para ilmuwan, badan intelijen, dan organisasi internasional mulai mengkaji cara menghadapi kemungkinan tersebut.

Perkembangan bioteknologi memungkinkan patogen dianalisis dan dimodifikasi dengan tingkat presisi yang semakin tinggi. Di sisi lain, AI mampu mengolah data dalam jumlah besar dengan kecepatan luar biasa. Para ahli pun memperingatkan bahwa dalam jangka panjang, teknologi modern berpotensi disalahgunakan untuk mengembangkan senjata biologis.

Badan intelijen turut menaruh perhatian terhadap risiko ini. Pada Oktober 2026, Ken McCallum, kepala badan intelijen dalam negeri Inggris, MI5, memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dapat meningkatkan ancaman dari senjata biologis yang sudah ada maupun yang baru dikembangkan, termasuk yang berasal dari aktor nonnegara.

Batas tipis antara penelitian ilmiah dan penyalahgunaan teknologi

Laporan yang diterbitkan perusahaan AI asal Amerika Serikat, Anthropic, pada September 2026 menunjukkan bahwa isu ini semakin relevan. Anthropic menyatakan telah mengidentifikasi dan memblokir berbagai upaya untuk menggunakan asisten AI mereka, Claude, dalam konteks penelitian yang berpotensi berkaitan dengan senjata biologis.

Menurut laporan tersebut, upaya itu mencakup penyusunan proposal hibah untuk penelitian yang dikenal sebagai gain-of-function, serta proyek penelitian varian flu burung yang berpotensi memiliki kemampuan penularan tertinggi pada mamalia.

Namun, Anthropic menekankan bahwa penelitian semacam itu tidak selalu bertujuan untuk kepentingan militer. Penelitian tersebut juga dapat dilakukan untuk mendukung upaya pencegahan penyakit.

Membedakan penelitian ilmiah yang sah dari potensi penyalahgunaannya menjadi salah satu tantangan terbesar dalam pengawasan bioteknologi modern.

Apa itu senjata biologis?

Kekhawatiran mengenai senjata biologis bukanlah hal baru. Berbagai patogen, termasuk bakteri, virus, jamur, serta racun biologis tertentu, berpotensi dimanfaatkan sebagai senjata.

Wolbachia Lumpuhkan Kemampuan Nyamuk Sebar Virus

03:30

This browser does not support the video element.

Sejumlah penyakit dan agen biologis yang dikenal antara lain pes, cacar, dan toksin botulinum. Namun, antraks merupakan salah satu agen biologis yang paling dikenal dalam konteks ini.

Spora antraks memiliki daya tahan tinggi dan dapat bertahan lama di lingkungan. Agen biologis ini juga pernah menjadi objek penelitian dalam program pengembangan senjata biologis oleh sejumlah negara.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kantor Urusan Perlucutan Senjata Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNODA) mendefinisikan senjata biologis sebagai penggunaan zat biologis secara sengaja untuk melukai manusia, hewan, atau tumbuhan.

Senjata biologis umumnya terdiri dari dua komponen, yakni zat biologis itu sendiri dan sistem untuk menyebarkannya. Para ahli menyebut zat biologis tersebut sebagai agen, misalnya virus atau bakteri, sedangkan sistem penyebarannya dikenal sebagai mekanisme penyaluran (delivery mechanism). Contohnya mencakup rudal, sistem penyemprotan, serta makanan yang terkontaminasi.

Senjata biologis termasuk dalam kategori senjata ABC, bersama senjata atom atau nuklir dan senjata kimia. Senjata biologis juga kerap digolongkan sebagai senjata pemusnah massal.

Apa perbedaan senjata biologis dan senjata kimia?

Senjata biologis dan senjata kimia memiliki cara kerja yang berbeda. Senjata kimia melukai manusia melalui efek racun dari zat kimia, seperti sarin atau gas mustard. Dampaknya dapat muncul dalam hitungan menit, bahkan detik.

Penggunaan senjata kimia antara lain terjadi dalam serangan gas pada Perang Dunia I, yang melibatkan gas klorin dan kemudian gas mustard. Senjata kimia juga digunakan dalam perang saudara di Suriah, termasuk gas saraf sarin, serta oleh Saddam Hussein di Irak.

Sementara itu, senjata biologis menyebabkan penyakit infeksi. Dampaknya baru dapat terlihat beberapa jam, hari, bahkan berminggu-minggu setelah agen biologis dilepaskan. Sejumlah patogen juga dapat menular dari satu orang ke orang lain sehingga dampaknya sulit diprediksi.

Singkatnya, senjata kimia membunuh atau melukai melalui efek racun yang umumnya bekerja cepat, sedangkan senjata biologis menyebabkan penyakit. Kemungkinan penularan antarmanusia membuat dampak penggunaan senjata biologis jauh lebih sulit diperkirakan.

Apakah senjata biologis dilarang secara internasional?

Senjata biologis dilarang berdasarkan hukum internasional. Konvensi Senjata Biologis (Biological Weapons Convention atau BWC) mulai berlaku pada 1975. Konvensi ini melarang pengembangan, penimbunan, perolehan, penyimpanan, produksi, dan pemindahan senjata biologis maupun senjata berbasis toksin.

Konvensi yang telah diratifikasi oleh 189 negara ini merupakan pengembangan dari Protokol Jenewa 1925, yang melarang penggunaan senjata biologis dalam peperangan.

Hanya segelintir negara yang belum menandatangani perjanjian tersebut atau telah menandatanganinya tetapi belum meratifikasi, termasuk Israel, Mesir, dan Suriah. Negara-negara yang telah menjadi pihak dalam konvensi ini juga berkomitmen untuk memusnahkan seluruh persediaan senjata biologis, fasilitas produksi, serta sarana pengangkutannya.

Senjata kimia juga dilarang secara internasional. Namun, sistem pengawasannya dinilai jauh lebih berkembang. Konvensi Senjata Kimia (Chemical Weapons Convention) dilaksanakan oleh Organisasi Pelarangan Senjata Kimia (OPCW), yang berwenang melakukan inspeksi dan mengawasi pemusnahan persediaan senjata kimia.

Hingga kini, belum ada sistem pengawasan senjata biologis yang sebanding. Sejumlah negara khawatir bahwa inspeksi dapat membuka data penelitian sensitif di bidang kedokteran, bioteknologi, atau industri farmasi. Karena itu, pengawasan senjata biologis sangat bergantung pada transparansi, pelaporan sukarela, dan iktikad baik negara-negara yang terlibat.

Salah satu contoh paling dikenal yang menunjukkan bahwa larangan senjata biologis saja tidak cukup untuk mencegah penggunaannya terjadi di Amerika Serikat pada 2001.

Beberapa pekan setelah serangan 11 September, sejumlah orang menerima surat yang mengandung spora antraks. Sebanyak 22 orang terinfeksi dan lima orang meninggal dunia.

Imbalan satu juta dolar: Pada tahun 2001, antraks dikirim melalui pos kepada sejumlah tokoh terkemuka di Amerika sebagai bentuk terorisme domestik.Foto: USPS/dpa/picture alliance

Mengapa senjata biologis sulit dideteksi dan dikendalikan?

Mengidentifikasi program pengembangan senjata biologis jauh lebih sulit dibandingkan mengawasi produksi senjata nuklir atau kimia. Pasalnya, banyak teknologi yang berpotensi digunakan untuk mengembangkan senjata biologis juga memiliki kegunaan sipil. Peralatan laboratorium yang digunakan untuk mengembangkan vaksin dan obat-obatan, misalnya, secara teori juga dapat dimanfaatkan untuk penelitian militer.

Para ahli menyebutnya sebagai masalah dual-use, yakni ketika suatu teknologi atau penelitian memiliki kegunaan ganda. Penelitian yang dilakukan untuk tujuan medis dan damai juga berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan militer.

Selain itu, serangan biologis pada awalnya dapat terlihat seperti wabah penyakit alami. Investigasi mendalam sering kali diperlukan untuk memastikan apakah suatu patogen sengaja dilepaskan atau muncul secara alami.

Kesulitan mendeteksi dan mengendalikan senjata biologis mungkin turut menjelaskan mengapa senjata ini telah digunakan dalam berbagai periode sejarah. Catatan sejarah mencakup praktik meracuni sumur hingga melontarkan jenazah korban wabah pes menggunakan ketapel ke balik tembok kota yang dikepung. Namun, efektivitas metode-metode tersebut masih diperdebatkan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Cinta Zanidya
Editor: Ayu Purwaningsih

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait