Sepak Bola Perempuan Bisa Bantu Hubungan Korut-Korsel?
19 Mei 2026
Tim sepak bola perempuan asal Korea Utara (Korut), Naegohyang FC, dijadwalkan melawan tim perempuan Korea Selatan (Korsel) di Suwon. Selama lebih dari tujuh tahun, ini pertama kalinya Pyongyang mengizinkan atletnya bepergian ke Korsel.
Pertandingan yang akan digelar pada Kamis (20/05) itu untuk sebagian orang dianggap sebagai indikasi bahwa Korut menerapkan "diplomasi olahraga" demi meredakan ketegangan hubungan bilateral.
Kunjungan langka ini terjadi saat Korut telah membingkai Korsel sebagai "musuh utama dan musuh utama yang tak berubah" dalam konstitusi yang baru ditulis ulang. Aturan tersebut menghapus gagasan untuk menyatukan kembali semenanjung yang telah terbagi sejak Perang Korea 1950-1953.
Ketua Kajian Korea di Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, Amerika Serikat (AS), Victor Cha, berargumen dalam artikel yang dipublikasikan di situs CSIS pada 4 Mei 2026 bahwa "diplomasi olahraga selalu menjadi alat penting dalam diplomasi antar-Korea."
Restu Pyongyang mengizinkan para atlet bepergian ke Korea Selatan "adalah hal yang signifikan, mengingat Korea Utara menutup semua dialog dengan Korea Selatan dan pernyataannya tentang deklarasi negara musuh terhadap Seoul," Kata Victor Cha.
"Oleh karena itu, pertandingan sepak bola ini bisa menunjukkan potensi untuk memisahkan pertukaran budaya dari politik," tambahnya.
Tim Korea Utara yang beranggotakan 27 orang telah berlatih di Beijing. Kemudian mereka tiba di bandara Incheon, Seoul, pada Minggu (17/05) sebelum melanjutkan perjalanan ke Suwon, sekitar 30 kilometer selatan Seoul, menjelang semifinal Liga Champions Perempuan Konfederasi Sepak Bola Asia.
Sinyal hubungan Korut-Korsel membaik?
Meskipun para pengamat secara umum sepakat bahwa kunjungan tim Korea Utara ke Selatan adalah perkembangan positif, mereka memperingatkan agar tidak terlalu banyak membaca makna dari keputusan Pyongyang.
"Kemungkinan pertandingan sepak bola ini menjadi 'terobosan' langsung dalam hubungan antar-Korea sangat terbatas," kata Hyobin Lee, profesor di Universitas Sogang di Seoul.
"Namun, saya juga tidak menganggapnya tidak berarti dan saya sebagian setuju dengan analisis Victor Cha," katanya kepada DW.
Menurut Hyobin Lee, kunjungan pertama tim sepak bola perempuan Korea Utara sejak Asian Games Incheon 2014 ini "secara simbolis jadi signifikan."
Dia menunjukkan bahwa beberapa politisi Korsel menggambarkannya sebagai "kemungkinan peluang untuk meredakan ketegangan dalam hubungan antar-Korea yang beku."
Batasan diplomasi olahraga
Media Korsel melaporkan bahwa Menteri Unifikasi Chung Dong-Young juga mempertimbangkan untuk menghadiri pertandingan tersebut.
"Ada optimisme yang bisa dipahami bahwa turnamen sepak bola bisa menjadi contoh positif pertukaran antarmanusia antar-Korea setelah penundaan yang panjang," kata Leif-Eric Easley, profesor studi internasional di Universitas Perempuan Ewha di Seoul, kepada DW.
Kunjungan langka tim sepak bola perempuan Korut telah disetujui berdasarkan undang-undang pertukaran antar-Korea. Semua 7.087 tiket yang tersedia untuk masyarakat umum terjual habis dalam sehari.
Meskipun Easley berpikir terlalu dini untuk menyebut acara ini "diplomasi olahraga yang sukses," partisipasi Korea Utara "bisa menunjukkan pelunakan dalam penggambaran Pyongyang terhadap Seoul sebagai musuh."
Erwin Tan, profesor politik internasional di Universitas Hankuk, lebih skeptis terhadap pertandingan sepak bola ini.
"Acara olahraga dan budaya antar-Korea telah terjadi cukup sering di masa lalu, tetapi belum mengarah pada terobosan diplomatik apa pun, jadi saya tidak melihat alasan untuk menganggap perkembangan ini sebagai sinyal sesuatu yang baru," kata Erwin Tan kepada DW.
2018 jadi peluang yang terlewat
Terakhir kali, atlet Korea Utara berada di Selatan adalah ketika lima pemain tenis meja berkompetisi di Incheon, sebelah barat Seoul, pada Desember 2018.
Turnamen itu berlangsung sembilan bulan, setelah sepuluh atlet Korut berpartisipasi dalam Olimpiade Musim Dingin PyeongChang di Selatan.
Peserta dari kedua negara mengikuti upacara pembukaan di bawah bendera unifikasi Korea, dan Kim Yo-Jong, adik Kim Jong Un, memimpin delegasi tingkat tinggi dari Pyongyang.
Meskipun saat itu pertandingan tampak menandai prospek diplomatik yang lebih cerah, tetapi hubungan lintas batas tetap memburuk.
Kim Jong Un sejak itu meninggalkan retorika reunifikasi. Pyongyang telah mengubah konstitusinya untuk mengkodifikasi kebijakan "dua negara yang bermusuhan."
Hyobin Lee percaya partisipasi Korut dalam Olimpiade Musim Dingin 2018 "harus dipandang sebagai kesuksesan terbatas, tetapi singkat" yang pada akhirnya gagal karena keruntuhan KTT nuklir antara Presiden Donald Trump dan Kim Jong Un di Hanoi pada 2019 dan "meningkatnya ketidakpercayaan antara Washington dan Pyongyang."
Namun, persetujuan Pyongyang untuk mengirim tim ke Korsel memungkinkan Korut "memproyeksikan citra kepada komunitas internasional bahwa negara itu tidak sepenuhnya terisolasi atau tertutup," tambahnya.
Alasan lain Pyongyang kirim atlet ke Korsel
Hyobin Lee percaya, Pyongyang memiliki sejumlah alasan di luar upaya mendorong pencairan diplomatik untuk menyetujui pengiriman tim ke Selatan.
Dia mencatat bahwa karena pertukaran olahraga secara politis kurang berisiko dibanding negosiasi diplomatik formal, acara semacam ini "berguna untuk menguji keterlibatan terbatas."
"Kemungkinan ada dimensi propaganda juga," ungkapnya. "Korea Utara telah lama menggunakan partisipasi olahraga internasional sebagai cara untuk mempromosikan prestise nasional dan legitimasi rezim di dalam negeri."
Mungkin juga Pyongyang ingin mempertahankan "saluran komunikasi selektif dengan Selatan daripada sepenuhnya memutus semua bentuk kontak," kata Hyobin Lee kepada DW.
"Dalam pengertian itu, pertandingan ini mungkin menandakan bahwa Korea Utara membiarkan pintu diplomatik kecil tetap terbuka, meskipun mempertahankan sikap garis keras secara lebih luas," pungkasnya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Muhammad Hanafi
Editor: Prihardani Purba