1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikEropa

Serangan Baru Rusia di tengah Kunjungan Sekjen PBB

29 April 2022

Ledakan mengguncang Kyiv ketika Sekjen PBB Antonio Guterres mengunjungi kota itu. Guterres menegaskan saat ini pihaknya sedang berupaya mengevakuasi pejuang dan warga yang terjebak di pabrik baja Azovstal.

Asap mengepul menyusul serangan terbaru Rusia di Kyiv
Pejabat Ukraina mengatakan Rusia menyerang Kyiv tengah dengan rudal jelajahFoto: John Moore/Getty Images

Zelenskyy menyambut baik janji bantuan AS

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyambut baik dukungan keuangan tambahan dari Amerika Serikat, dengan menyebutnya sebagai "langkah yang sangat penting." Dia berterima kasih kepada Presiden Joe Biden dan rakyat Amerika, serta berharap anggota parlemen negeri Paman Sam itu akan "segera mendukung" peningkatan bantuan keuangan $33 miliar (Rp477,9 Triliun).

"Presiden Biden dengan tepat mengatakan hari ini, bahwa bantuan ini tidak murah," kata Zelenskyy dalam pidato video hariannya. "Namun, konsekuensi negatif dari agresi Rusia terhadap Ukraina dan terhadap demokrasi sangat besar bagi seluruh dunia sehingga dengan perbandingan tersebut, dukungan dari Amerika Serikat ini diperlukan. Bersama-sama, kita pasti dapat menghentikan agresi Rusia dan dapat diandalkan untuk mempertahankan kebebasan di Eropa."

OSCE akan mengakhiri misi pengamat di Ukraina

Organisasi untuk Keamanan dan Kerja Sama di Eropa mengumumkan akan mengakhiri misi pengamatnya di Ukraina, setelah Rusia menolak perpanjangannya. Misi OSCE (Organization for Security and Cooperation in Europe) dimulai pada 2014 setelah separatis yang didukung Rusia melancarkan pemberontakan di Ukraina timur.

Polandia saat ini memegang jabatan bergilir sebagai Ketua OSCE. Menteri Luar Negeri Polandia Zbigniew Rau mengatakan "posisi Federasi Rusia membuat kami tidak punya pilihan" selain menghentikan misi.

Pengamat OSCE sebagian besar meninggalkan negara itu setelah invasi Rusia pada akhir Februari lalu, tetapi beberapa staf administrasi masih tetap berada di Ukraina. Empat staf administrasi OSCE telah ditahan.

Serangan baru di Kyiv

Setidaknya dua ledakan terdengar di Kyiv. Wali Kota Vitali Klitschko mengatakan bahwa pasukan Rusia menembaki ibu kota.

Wali Kota Kyiv mengatakan di Telegram bahwa ada "dua serangan di distrik Shevchenkovsky." Ledakan itu terjadi tak lama setelah Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengadakan konferensi pers dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di kota itu.

"Hari ini (28/04), segera setelah akhir pembicaraan kami di Kyiv, rudal Rusia menyerang kota. Lima roket," kata Zelenskyy. "Ini menunjukkan banyak hal ... tentang upaya kepemimpinan Rusia untuk mempermalukan PBB dan segala sesuatu yang diwakili organisasi itu."

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan Rusia menyerang ibu kota dengan "rudal jelajah" dan menyebut serangan itu sebagai "tindakan barbarisme yang keji."

Penasihat Presiden Ukraina Mykhailo Podolyak menyerukan agar Rusia dikeluarkan dari Dewan Keamanan PBB setelah serangan itu.

Guterres: Dewan Keamanan PBB gagal mencegah perang Ukraina

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan Dewan Keamanan PBB gagal mencegah perang Rusia di Ukraina.

"Biarkan saya memperjelasnya: Dewan Keamanan gagal melakukan segala daya untuk mencegah dan mengakhiri perang ini. Kegagalan ini adalah sumber kekecewaan besar, frustrasi, dan kemarahan," kata Guterres pada konferensi pers dengan Zelenskyy.

Guterres dan Zelenskyy juga membahas upaya yang sedang berlangsung untuk mengevakuasi pabrik baja Azovstal di kota pelabuhan selatan Mariupol. Pejuang Ukraina dan warga sipil saat ini terjebak di pabrik di tengah blokade Rusia.

"Saat ini saya hanya bisa memberi tahu Anda bahwa kami melakukan segala yang kami bisa untuk mewujudkannya," kata Guterres.

"Saya yakin dan percaya – sama seperti para kerabat dari mereka yang diblokir di Pabrik Baja Azovstal - bahwa Sekretaris Jenderal akan mendapatkan keberhasilan," kata Zelenskyy.

NATO: Perang Ukraina mungkin akan 'berlarut-larut'

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg mengatakan aliansi militer akan terus memberikan tekanan maksimal pada Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Kita perlu bersiap untuk jangka panjang ... Ada kemungkinan bahwa perang ini akan berlarut-larut dan berlangsung selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun," kata Stoltenberg seperti dikutip oleh kantor berita Reuters.

Komentarnya muncul setelah Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss mengatakan "seluruh Ukraina" harus dibebaskan dan parlemen Jerman memberikan suara mendukung pengiriman senjata berat Ukraina.

Pada hari Kamis (28/04), Rusia mengatakan bahwa Ukraina tidak menjawab proposal perdamaian terbarunya.

yas/ha (AFP, AP, dpa, Reuters)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait