Serangan Berdarah di Iran
19 Oktober 2009
Harian Jerman Frankfurter Rundschau menulis:
Ini adalah serangan terhebat yang dilakukan terhadap milisi elit Iran. Baru saja pasukan Garda Revolusi berhasil menindas protes rakyat Iran di kota-kota dengan kekerasan, sekarang pelaku bom bunuh diri menewaskan beberapa pejabat tinggi dan puluhan anggotanya. Serangan bunuh diri ini menguak sebuah konflik lain di Republik Islam, yang sampai saat ini luput dari perhatian, karena pandangan tertuju pada rangkaian kerusuhan dan aksi protes sehubungan dengan sengketa hasil pemilihan pesiden. Serangan bunuh diri ini juga membuat masalah opium kembali jadi sorotan. Hal ini merupakan masalah besar bagi masyarakat Iran. Pemerintah di Teheran berusaha keras memerangi penyelundupan obat bius, yang seharusnya juga menjadi kepentingan Eropa. Tapi dalam perang melawan sindikat obat bius, Iran tidak mendapat bantuan yang berarti dari Eropa.
Harian Spanyol El Mundo berkomentar:
Di negara-negara Barat, musuh rezim Iran di dalam negeri ini tidak terlalu dikenal. Namun mereka jauh lebih berbahaya daripada musuh-musuh di luar negeri. Salah satu diantaranya adalah kelompok radikal Sunni Jundallah, yang mengaku bertanggung jawab atas serangan bunuh diri. Serangan ini pertama-tama harus dilihat sebagai serangan terhadapi rezim di Teheran. Tapi tidak tertutup kemungkinan, ada motif lain di belakangnya. Serangan ini bisa saja merupakan aksi balas dendam di kalangan penyelundup obat bius, atau tindakan balas dendam pribadi. Seorang saudara lelaki pimpinan Jundallah memang terancam dihukum mati.
Harian Italia La Repubblica menilai, serangan bunuh diri ini bisa berdampak pada konsultasi tentang nuklir Iran. Harian ini menulis:
Serangan bunuh diri di Baluchistan bisa punya dampak lebih luas daripada yang direncanakan pelakunya. Ini bisa mengakibatkan semacam efek domino yang melibatkan Pakistan, Israel, Inggris dan terutama Amerika Serikat. Serangan ini terjadi sesaat menjelang digelarnya konsultasi nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Tuduhan Iran, bahwa Amerika Serikat punya kontribusi dalam serangan ini, tidak muncul begitu saja. Garda Revolusi bakal menemukan cara untuk memanfaatkan serangan ini. Misalnya untuk memaksa Obama memberi tawaran menarik demi menghentikan upaya Iran mengembangkan senjata nuklir.
Harian Perancis Le Figaro menulis:
Menarik dicermati, betapa cepatnya Teheran menyalahkan Amerika Serikat berada di balik serangan bunuh diri ini. Sikap itu menunjukkan, bahwa politik Washington saat ini sedang membuat rezim para Mullah kebingungan. Bagaimana mereka harus bereaksi pada tawaran dialog Obama? Dulu mereka tidak perlu berbuat apa-apa dan bisa memanfaatkan penolakan pemerintahan Bush sebagai alasan. Tapi sekarang, menghadapi perundingan di Wina, Iran harus punya jawaban. Kemungkinan pertama, akan berhasil diciptakan suatu mekanisme yang bisa meredakan sengketa nuklir. Teheran bisa sedikit tenang, tidak kehilangan muka, lalu bisa berkonsentrasi pada penyelesaian masalah di dalam negeri. Atau kemungkinan kedua, rezim yang makin tidak stabil ini akan menutup diri dan mencoba menggunakan sentimen nasionalisme demi menggalang rasa persatuan. Dari dua kemungkinan ini, yang pertama yang lebih jauh dari kenyataan. Tapi kita harus berharap, kemungkinan yang pertamalah yang bisa terwujud.
HP/ZER/dpa/afp