Kelompok gerilyawan melancarkan serangan bom mematikan di Jalan Raya Pan-American di barat daya Kolombia. Serangan meningkat jelang pemilu di wilayah itu.
Ledakan terjadi di Jalan Raya Pan-Amerika, di wilayah Cajibio, Provinsi Cauca yang sedang dilanda kerusuhanFoto: Santiago Saldarriaga/AP Photo/picture alliance
Iklan
Serangan bom di jalan raya di barat daya Kolombia telah menewaskan setidaknya 19 orang. Pihak berwenang menuding seorang gembong narkoba, yang dulunya merupakan anggota kelompok gerilya FARC, sebagai dalang di balik serangan tersebut.
Setidaknya 38 orang, termasuk lima anak-anak, terluka dalam serangan yang terjadi pada hari Sabtu (25/04_ tersebut. Insiden ini berlangsung sebulan sebelum pemilihan presiden di negara itu dimulai.
Apa yang kita ketahui?
Ledakan tersebut terjadi di Jalan Raya Pan-American, tepatnya di munisipalitas Cajibio, Provinsi Cauca. Menurut laporan media setempat, sebuah tabung berisi bahan peledak jatuh menimpa sebuah minibus dan meledak.
Gubernur Octavio Guzman menggambarkan insiden tersebut sebagai sebuah "tragedi" dan memperingatkan adanya "eskalasi teroris."
Dokumentasi visual yang dibagikan oleh Guzman melalui platform X menunjukkan kerusakan parah pada sejumlah kendaraan. Beberapa mobil tampak terbalik akibat kekuatan ledakan. Gambar lain menunjukkan sebuah kawah besar yang menganga di badan jalan raya setelah serangan tersebut.
Iklan
Siapa dalang serangan Ini?
Presiden Gustavo Petro menuding Ivan Mordisco sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mordisco adalah salah satu penjahat yang paling dicari di Kolombia. Gustavo Petro yang juga pemimpin sayap kiri Kolombia itu membandingkan Mordisco dengan gembong narkoba legendaris, Pablo Escobar.
Petro menyebut mereka yang bertanggung jawab sebagai "teroris, fasis, dan pengedar narkoba."
Mordisco merupakan seorang pemberontak dari Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) yang masih aktif di wilayah tersebut meski telah dibubarkan. Ia menolak perjanjian damai yang ditandatangani FARC dengan negara pada tahun 2016.
FARC: Separuh Abad Memanggul Senjata
Selama limapuluh tahun gerilayawan komunis Kolombia bertempur melawan pemerintah dan milisi bersenjata bentukan kartel narkoba. Kini perang saudara tersebut berakhir di meja perundingan.
Foto: Reuters
Nyawa Berbayar Nyawa
Perang saudara di Kolombia berawal tahun 1948, ketika pembunuhan terhadap pemimpin kaum kiri Jorge Eliecer Gaitan memicu konflik berdarah antara kaum liberal dan konservatif. Akibatnya lebih dari 200.000 orang tewas selama sepuluh tahun. Ketika militer pemerintah mulai menyerang fraksi komunis di seluruh negeri tahun 1964an, mereka bersatu membentuk Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia, FARC
Foto: picture-alliance/AP Photo
Melawan Oligarki dan Tuan Tanah
Kendati berhaluan komunis, FARC tidak memiliki ideologi politik yang baku. Awalnya mereka ingin melucuti kekuasaan kaum Oligarki. Lalu pasukan pemberontak itu menuntut reformasi tanah. FARC tidak cuma bertempur melawan militer, melainkan juga milisi sayap kanan yang dibentuk bandar narkotika semisal United Self Defense Force, AUC.
Foto: Reuters/E. Munoz
Dosa Politik
FARC mulai kehilangan dukungan penduduk setelah banyak melakukan penculikan untuk memanen uang tebusan. Kelompok yang berkekuatan hingga 10.000 pasukan itu juga dituding banyak melatih serdadu anak, menyebar ranjau darat yang membunuh warga sipil, menindas suku lokal dan aktif dalam perdagangan narkotika.
Foto: Reuters
Perang Narkoba
Perang melawan separatisme di Kolombia perlahan berubah menjadi perang narkoba. Pergeseran konflik mengundang campur tangan Amerika Serikat yang berkepentingan mencegah penyeludupan narkoba dari Amerika Selatan. Washington lalu meluncurkan program bantuan bernama Plan Colombia yang menjamin kucuran dana milyaran Dollar AS buat membantu militer Kolombia memerangi FARC dan kartel narkotika.
Foto: Reuters
Berjuta Derita
Perang sudara paling lama di Amerika Selatan ini bertanggungjawab atas kematian sedikitnya 220.000 orang dan jutaan pengungsi. Menurut data pemerintah Kolombia, korban perang saudara yang bersifat langsung atau tidak langsung mencapai 7,6 juta orang. Kolombia saat ini mencatat korban ranjau terbesar di dunia setelah Afghanistan
Foto: Reuters/J. Vizcaino
Negosiasi Tanpa Henti
Perundingan damai antara FARC dan pemerintah pada pertengahan 80an menemui jalan buntu setelah 3000 kader partai politiknya dibunuh oleh milisi sayap kanan. Tahun 2002 negosiasi kembali gagal menyusul aksi para pemberontak membajak pesawat untuk menculik seorang senator. Upaya terakhir yang dimulai tahun 2012 di Havana akhirnya berujung perjanjian damai pada Agustus 2016.
Foto: Getty Images/AFP/E. Abramovich
Demobilisasi Gerilayawan
"Kami sudah mencapai perjanjian final," untuk mengakhiri konflik dan menciptakan perdamaian yang stabil, kata Presiden Juan Manuel Santos. Juni silam kedua pihak menyepakati peta jalan damai yang antara lain mencantumkan demobilisasi dan resosialisasi 8000 gerilayawan FARC.
Foto: Reuters/J. Vizcaino
7 foto1 | 7
Lonjakan serangan menjelang pemilu
Serangan pada hari Sabtu (25/04) merupakan yang terbaru dari serangkaian ledakan yang menargetkan infrastruktur publik.
Menurut Komandan Angkatan Bersenjata Kolombia, Hugo Lopez, setidaknya 26 insiden terjadi selama dua hari terakhir di Departemen Valle del Cauca dan Cauca. Lopez menyebut semua insiden itu berdampak pada warga sipil.
Berbagai insiden tersebut memicu penugasan sejumlah pejabat tinggi ke wilayah tersebut, termasuk Menteri Pertahanan Pedro Sanchez. Sanchez sedang memimpin delegasi di Cali untuk memantau situasi di Valle del Cauca setelah adanya laporan dua serangan pada hari Jumat (24/04), tepat saat ledakan hari Sabtu terjadi.
Potret Desa Muslim AS Yang Dicap "Sarang Teroris"
Pada dekade 1980-an sekelompok muslim membangun sebuah desa di tepi kota New York, AS, buat mencari kedamaian. Kini desa Islamberg dianggap sarang terorisme dan menjadi simbol permusuhan bagi kaum kanan Amerika.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Mencari Damai di Desa Kecil
Sebuah desa kecil sekitar 190 km dari New York menampung migran muslim dan menamakan diri "Islamberg." Suasana desa berpenduduk sekitar 40 keluarga yang asri dan nyaman terkesan kontras dengan tudingan miring yang dilayangkan kelompok kanan AS. Islamberg dianggap sebagai sarang terorisme,
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Mengasingkan Diri
Adalah pengikut tokoh Sufi asal Pakistan, Syeikh Mubarik Gilani, yang membangun pemukiman muslim di New York. Penduduknya kebanyakan adalah generasi kedua atau ketiga pendatang Afro-Amerika. Kendati banyak yang bekerja di luar kota, penduduk Islamberg cenderung tertutup. Satu-satunya kontak dengan dunia luar adalah lewat klub olahraga lokal.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Oase Terpinggirkan
Islamberg terletak agak terpencil di tepi gunung Catskill. Satu-satunya akses ke dunia luar adalah sebuah jalan sempit berbatu. Sebuah supermarket kecil memasok bahan pangan dan kebutuhan pokok untuk penduduk lokal. Hingga baru-baru ini semua warga terbiasa membiarkan pintu rumah terbuka saat berpergian.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
"Mimpi Buruk Terparah AS"?
Belakangan Islamberg sering menjadi sasaran ujaran kebencian kelompok kanan AS. Blog Freedom Daily misalnya pernah mengklaim sebuah penggerebekan di Islamberg atas perintah Presiden Donald Trump mengungkap "mimpi buruk paling parah buat Amerika," yakni kamp pelatihan Jihad buat teroris. Tudingan tersebut kemudian dibantah oleh berbagai media besar.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Disambangi Kaum Kanan
Serangan terhadap Islamberg tidak sebatas ujaran kebencian. Tidak lama setelah geng motor "American Bikers Against Jihad" menyambangi Islamberg, seorang penduduk Tenessee ditangkap karena menyerukan pembakaran mesjid di Islamberg. Wali Kota Islamberg, Rashid Clark, menganggap kabar palsu dan ujaran kebencian terhadap desanya sebagai ancaman terbesar.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Pembelaan Kepolisian
Kepolisian setempat juga menepis tudingan tersebut. "Penduduk di sini adalah warga negara AS. Mereka telah hidup di sini sejak lebih dari 30 tahun. Mereka membangun komunitas dan menjalin kontak dengan dunia luar. Di sini tidak pernah ada masalah," kata James Barnes dari Biro Investigasi Kriminal Kepolisian New York.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Label Teror dari Dekade Lampau
Tudingan miring terhadap Islamberg antara lain terkait keberadaan organisasi Muslims of America (MoA) yang bermarkas di sana. Menurut pemerintah AS MoA adalah pecahan dari kelompok kriminal "Jemaat al-Fuqra" yang aktif pada dekade 1980-an. "Kalau kami melatih teroris sejak 30 tahun," kata Ketua MoA Hussein Adams, "kenapa sampai sekarang belum ada serangan?"
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Setumpuk Rasa Frustasi
Tudingan miring tersebut membuat frustasi penduduk Islamberg. "Mereka tidak mengganggu siapa pun," kata Sally Zegers, editor harian lokal Hancock Herald kepada Associated Press.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
Normalisasi Kebencian
Hingga kini gelombang kebencian terhadap Islamberg belum mereda. Tahirah Clark yang bekerja sebagai pengacara hanya bisa berdoa sembari berharap segalanya akan berakhir. Namun hingga saat ini penduduk Islamberg harus membiasakan diri terhadap celotehan pedas kelompok konservatif kanan.
Foto: picture-alliance/AP Photo/M. Lennihan
9 foto1 | 9
Rentetan serangan ini terjadi menjelang pemilihan presiden yang dijadwalkan pada 31 Mei mendatang. Masalah keamanan menjadi salah satu isu sentral dalam kampanye pemilu kali ini.
Calon presiden Paloma Valencia, yang berasal dari partai oposisi sayap kanan Pusat Demokratik dan berasal dari Cauca, menyerukan agar penindakan tegas segera dilakukan untuk menghentikan kekerasan tersebut.
"Pemerintahan Presiden Gustavo Petro tidak boleh terus meremehkan kekerasan atau melemahkan negara," tegasnya. "Kami menuntut tindakan segera, dukungan penuh bagi Angkatan Bersenjata dan kepolisian, serta hasil yang konkret."