Serangan Mobil di München Lukai 30 Orang, Tersangka Ditahan
14 Februari 2025
Sedikitnya 30 orang luka-luka setelah tersangka yang mengemudikan mobil menabrak kerumunan para pengunjuk rasa serikat pekerja di München, Jerman. Kanselir Olaf Scholz mendesak tersangka dideportasi.
Tersangka insiden "serangan" mobil di München, Jerman, berhasil ditahan polisiFoto: Michaela Stache/AFP
Iklan
Sebuah mobil menabrak kerumunan pengunjuk rasa serikat pekerja Verdi yang sedang melakukan aksi mogok kerja di München, dan melukai sedikitnya 30 orang, pada Kamis (13/02) sore waktu setempat.
Polisi telah menangkap tersangka pengemudi mobil, yakni seorang pencari suaka asal Afganistan berusia 24 tahun. Perdana Menteri (PM) Negara Bagian Bayern, Markus Söder, mengatakan bahwa insiden ini adalah serangan yang disengaja.
Insiden ini terjadi sehari sebelum pertemuan besar para pakar kebijakan luar negeri dan pemimpin dunia pada Konferensi Keamanan München (MSC), yang akan diselenggarakan sekitar 1,6 kilometer dari lokasi kejadian.
Ayo berlangganan newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Menteri Dalam Negeri Bayern, Joachim Hermann, mengatakan pihak berwenang tidak meyakini bahwa insiden ini terkait dengan konferensi yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (14/02) itu.
Olaf Scholz menyerukan agar tersangka insiden "serangan" mobil di München, yang merupakan pencari suaka asal Afganistan, harus dideportasiFoto: Michael Kappeler/REUTERS
Scholz minta tersangka dideportasi, Merz tuntut perubahan
Kanselir Jerman Olaf Scholz menyebut insiden ini "mengerikan" dan menegaskan bahwa tersangka harus dihukum dan dideportasi.
Iklan
"Apa yang terjadi ini mengerikan," kata Scholz kepada wartawan. "Menurut saya, hal ini sudah jelas, pelaku ini tidak bisa mengharapkan belas kasihan apa pun, dia harus dihukum dan harus meninggalkan negara ini."
Sementara kandidat kanselir dari Partai CDU, Friederich Merz menekankan, "harus ada perubahan di Jerman" dalam menanggapi insiden "serangan” ini. "Keselamatan rakyat Jerman akan menjadi prioritas utama kami. Kami akan menegakkan hukum dan ketertiban secara konsisten,” kata Merz.
Scholz juga menjadi kandidat kanselir dari Partai SPD yang berhaluan kiri-tengah dalam pemilu parlemen mendatang, di mana isu migrasi menjadi perdebatan utama. Mery, oposisinya dari CDU, yang saat ini unggul dalam jajak pendapat, menuduh pemerintahan Scholz terlalu lunak dalam kebijakan migrasinya.
Kandidat kanselir dari partai AfD, Alice Weidel menekankan jika partainya yang berkuasa, tersangka insiden "serangan" mobil di München itu tidak akan pernah berada di Jerman sejak awalFoto: Attila Kisbenedek/AFP/Getty Images
Weidel: Di bawah AfD, orang ini tidak akan berada di sini
Kandidat kanselir dari partai sayap kanan AfD, Alice Weidel, justru menegaskan bahwa tersangka yang juga merupakan pencari suaka asal Afganistan itu seharusnya tidak pernah masuk ke Jerman, jika partainya yang memimpin pemerintahan.
"Polanya selalu sama, seorang pencari suaka datang ke Jerman, permohonannya ditolak, tetapi dia tidak dideportasi," kata Weidel dalam sebuah diskusi di penyiar publik ZDF. "Di bawah AfD, dia tidak akan berada di sini sejak awal."
Weidel juga menyalahkan insiden ini pada Söder dari Partai CSU, dengan mengatakan, "pertanyaan yang harus dijawab oleh para politisi, terutama Söder, adalah apa yang masih perlu dilakukan orang itu di sini?"
Komentar Weidel itu disampaikannya hanya beberapa saat setelah Söder menjelaskan bahwa tersangka memiliki izin tinggal yang sah dan tidak sedang dalam proses deportasi.
"Saya tidak mengerti kegagalan politik ini. Selalu sama dan masyarakat sudah muak," lanjut Weidel. "Rakyat menginginkan solusi, mereka menginginkan perbatasan yang aman, mereka menginginkan penegakan hukum dan ketertiban yang tegas, serta deportasi terhadap migran ilegal dan pelaku kejahatan."
Taliban tawarkan Jerman kerja sama deportasi
Pemimpin kelompok Islamis Taliban, menyatakan siap bekerja sama dengan Jerman dalam upaya deportasi tersangka "serangan” mobil di München itu, dengan syarat bahwa Jerman perlu membuka kembali konsulat di Afganistan.
Taliban juga menolak deportasi tersangka melalui negara pihak ketiga seperti Pakistan, dengan alasan bahwa hal itu melanggar konvensi internasional.
Para kritikus memperingatkan bahwa kerja sama dengan Taliban berpotensi dimanfaatkan untuk meningkatkan citra internasional kelompok itu dan mengurangi isolasi geopolitiknya.
Kami Berasal dari Sini: Kehidupan Keturunan Turki-Jerman dalam Gambar
Untuk merayakan ulang tahun ke-60 kesepakatan penerimaan pekerja migran asal Turki di Jerman, museum Ruhr memamerkan foto-foto karya fotografer asal Istanbul, Ergun Cagatay.
Fotografer Ergun Cagatay dari Istanbul, pada 1990 mengambil ribuan foto warga keturunan Turki yang berdomisili di Hamburg, Köln, Werl, Berlin dan Duisburg. Ini akan dipajang dalam pameran khusus “Kami berasal dari sini: Kehidupan keturunan Turki-Jerman tahun 1990” di museum Ruhr. Pada potret dirinya dia memakai pakaian pekerja tambang di Tambang Walsum, Duisburg.
Dua pekerja tambang bepose usai bertugas di tambang Walsum, Duisburg. Dipicu kemajuan ekonomi di tahun 50-an, Jerman menghadapi kekurangan pekerja terlatih, terutama di bidang pertanian dan pertambangan. Menindak lanjuti kesepakatan penerimaan pekerja migran antara Bonn dan Ankara pada 1961, lebih dari 1 juta “pekerja tamu” dari Turki datang ke Jerman hingga penerimaan dihentikan pada 1973.
Ini foto pekerja perempuan di bagian produksi pelapis interior di pabrik mobil Ford di Köln-Niehl. “Pekerja telah dipanggil, dan mereka berdatangan,” komentar penulis Swiss, Max Frisch, kala itu. Sekarang, komunitas Turki, dimana kini sejumlah keluarga imigran memasuki generasi ke-4, membentuk etnis minoritas terbesar di Jerman dengan total populasi sekitar 2.5 juta orang.
Foto menunjukan keragaman dalam keseharian orang Turki-Jerman. Terlihat di sini adalah kedelapan anggota keluarga Hasan Hüseyin Gül di Hamburg. Pameran foto di museum Ruhr ini merupakan liputan paling komprehensif mengenai imigran Turki dari generasi pertama dan kedua “pekerja tamu.”
Saat ini, bahan makanan seperti zaitun dan keju domba dapat ditemukan dengan mudah di Jerman. Sebelumnya, “pekerja tamu” memenuhi mobil mereka dengan bahan pangan itu saat mereka balik mudik. Perlahan-lahan, mereka membangun pondasi kuliner Turki di Jerman, untuk kenikmatan pecinta kuliner. Di sini berpose Mevsim, pemilik toko buah dan sayur di Weidengasse, Köln-Eigelstein.
Anak-anak bermain balon di Sudermanplatz, kawasan Agnes, Köln. Di tembok yang menjadi latar belakang terlihat gambar pohon yang disandingkan dengan puisi dari Nazim Hikmet, penyair Turki: “Hidup! Seperti pohon yang sendiri dan bebas. Seperti hutan persaudaraan. Kerinduan ini adalah milik kita.” Hikmet sendiri hidup dalam pengasingan di Rusia, hingga dia meninggal pada 1963.
Di sekolah baca Al-Quran masjid Fath di Werl, anak-anak belajar huruf-huruf Arab agar dapat membaca Al-Quran. Itu adalah masjid dengan menara pertama yang dibuka di Jerman pada tahun 90-an. Sejak itu warga Turki di Jerman tidak perlu lagi pergi ke halaman belakang untuk shalat atau beribadah.
Cagatay, sang fotografer berbaur dengan para tamu di sebuah pesta pernikahan di Oranienplatz, Berlin-Kreuzberg. Di gedung perhelatan Burcu, para tamu menyematkan uang kepada pengantin baru, biasanya disertai dengan harapan “semoga menua dengan satu bantal.” Pengantin baru menurut tradisi Turki akan berbagi satu bantal panjang di atas ranjang pengantin.
Tradisi juga tetap dijaga di tanah air baru ini. Di pesta khitanan di Berlin Kreuzberg ini, “Masyaallah” tertulis di selempang anak sunat. Itu artinya “terpujilah” atau “yang dikehendaki tuhan.” Pameran antara lain disponsori Kementerian Luar Negeri Jerman. Selain di Essen, Hamburg dan Berlin, pameran juga akan digelar di Izmir, Istanbul, dan Ankara bekerjasama dengan Goethe Institute. (mn/as)
Polisi gagalkan serangan terhadap tempat penampungan pencari suaka
Di lokasi lain, dekat kota Dresden, polisi berhaisl menangkap seorang warga Jerman yang diduga merencanakan serangan terhadap tempat penampungan pencari suaka.
Jaksa mengatakan pihaknya telah menerima "laporan anonim pada 12 Februari" bahwa pria berusia 21 tahun yang membawa senjata itu diduga berencana menyerang tempat penampungan di Senftenberg, Brandenburg.
Polisi menggerebek dua properti di daerah Meissen pada Rabu (12/02) malam waktu ssetempat, dan menyita "dua bahan peledak, knuckle duster, pisau lipat" serta berbagai persenjataan lainnya.