Serangan Rusia ke Ukraina Tewaskan Lebih dari 20 Orang
15 Mei 2026
Pada Kamis (14/05), serangan rudal Rusia yang menghantam apartemen di Kyiv menewaskan sedikitnya 24 orang, termasuk tiga anak-anak. Serangan udara Rusia juga kembali menyasar sejumlah kota di Ukraina selama tiga hari berturut-turut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan bangunan tersebut nyaris hancur total. Sekitar 20 orang masih dinyatakan hilang.
Menteri Dalam Negeri Ihor Klymenko sebelumnya menyebut lebih dari 30 orang terluka di gedung sembilan lantai itu.
Secara keseluruhan, Zelenskyy mengatakan sekitar 180 bangunan rusak akibat serangan Rusia. Di antaranya, terdapat 50 kompleks apartemen. Puluhan orang juga dilaporkan terluka dalam serangan di Kyiv.
Serangan di kota Kharkiv, Ukraina timur laut, melukai 28 orang. Sementara dua orang lainnya terluka akibat serangan di Odesa, kota pelabuhan Laut Hitam, tambah Zelenskyy.
Presiden Ukraina: Rusia mengakali sanksi global
Menurut keterangan presiden Ukraina, Rusia telah meluncurkan 1.567 drone sejak Rabu (13/04). Ini diyakini menjadi serangan udara terbesar Rusia sejak lebih dari empat tahun lalu.
Otoritas Ukraina menyebut sedikitnya 22 warga sipil tewas dalam dua hari terakhir.
Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko menetapkan hari berkabung di ibu kota pada Jumat (15/05).
Dalam pidato malamnya, Zelenskyy mengatakan bahwa apartemen di Kyiv dihantam rudal Kh-101 yang “diproduksi pada kuartal kedua tahun ini.”
“Ini berarti Rusia mengakali sanksi global. Sebab, mereka masih mengimpor komponen, sumber daya, dan alat produksi rudal,” katanya. “Negara mitra harus benar-benar mendesak Rusia untuk berhenti mengakali sanksi.”
Serangan terbesar Rusia sejak invasi penuh
Menurut keterangan pemerintah, kota Kremenchuk, Bila Tserkva, dan Sumy juga menjadi sasaran serangan Rusia pada Kamis(14/05).
“Kami sekarang sedang menghadapi serangan terbesar sejak invasi skala penuh dimulai,” kata juru bicara angkatan udara Ukraina Yurii Ihnat kepada media Ukraina Suspilne.
Rusia telah melancarkan serangan besar-besaran ke berbagai wilayah Ukraina selama tiga hari berturut-turut. Ini dilakukan tak lama setelah gencatan senjata tiga hari, dalam rangka memperingati berakhirnya Perang Dunia II. Ukraina sebelumnya menawarkan perpanjangan gencatan senjata. Namun, Rusia menolak.
Pada Rabu (13/04), Rusia meluncurkan lebih dari 800 drone ke Ukraina. Menewaskan sedikitnya enam orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan itu disebut sebagai salah satu serangan terberat dan terpanjang selama perang berlangsung.
Meski sistem pertahanan udara Ukraina terus mendapat tekanan, Zelenskyy mengatakan tingkat keberhasilan pencegatan drone dan rudal mencapai lebih dari 93 persen.
Ukraina minta AS dan Cina tekan Putin
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengatakan bahwa serangan ini merupakan simbol Vladimir Putin tidak tertarik mengakhiri perang, walau ada harapan gencatan senjata. Sebab, serangan tersebut dilakukan bersamaan dengan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Cina Xi Jinping di Beijing. Cina diketahui sebagai salah satu penopang ekonomi utama Rusia di tengah sanksi internasional.
Sebelumnya, Zelenskyy berharap Trump akan membahas perang di Ukraina dalam pertemuannya dengan Xi.
“Di saat para pemimpin negara paling kuat sedang bertemu di Beijing, dan dunia berharap pada perdamaian, stabilitas, serta kerja sama, Putin justru meluncurkan ratusan drone dan rudal ke ibu kota Ukraina,” tulis Sybiha di X.
“Saya yakin pemimpin Amerika Serikat dan Cina memiliki pengaruh terhadap Rusia untuk memintanya mengakhiri perang,” tambahnya.
Negara-negara Eropa kecam serangan
“Ini bukan tindakan pihak yang percaya perang akan berakhir. Penting bagi para negara mitra untuk bersuara soal serangan ini,” kata Zelenskyy.
Dalam unggahannya di X, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan serangan tersebut menunjukkan Rusia “memilih eskalasi dibanding negosiasi.”
“Dengan membombardir warga sipil, Rusia lebih banyak menunjukkan kelemahannya daripada kekuatannya: mereka mulai kehabisan ide dan tidak tahu bagaimana mengakhiri perang yang ia mulai,” ujar Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Presiden Uni Eropa Ursula von der Leyen mengatakan bahwa Rusia “secara terbuka mengejek” upaya-upaya untuk mengakhiri perang.
Menteri Luar Negeri Anita Orban mengatakan Hungaria mengecam keras serangan tersebut dan telah memanggil duta besar Rusia. “Kami meminta [Rusia] segera menghentikan serangan terhadap warga sipil,” kata Orban.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Felicia Salvina
Editor: Yuniman Farid