1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Serangan Teror di Tel Aviv

19 April 2006

Serangan bunuh diri kembali mengguncang Israel. Sembilan orang tewas dan puluhan lainnya cedera dalam serangan di Tel Aviv.

Apakah harapan bagi perdamaian di Timur Tengah akan padam?
Apakah harapan bagi perdamaian di Timur Tengah akan padam?Foto: AP

Kelompok Hamas menyebut serangan tersebut sebagai sebuah bentuk untuk membela diri. Sementara dunia internasional mengecamnya dan menilainya sebagai kejadian yang semakin mensirnakan proses perdamaian di Timur Tengah.

Harian Inggris The Daily Telegraph yang berhaluan konservativ menulis:

"Mengapa begitu cepatnya jurubicara kelompok Hamas menyebut serangan ini sebagai hak setiap warga Palestina untuk membela diri, padahal sejak lebih dari setahun mereka mentaati gencatan senjata dengan Israel. Kemungkinan besar hal itu dilakukannya karena merasa cemas akan kehilangan simpati dari pemilih yang telah mengusung kelompok Hamas tampil memegang tampuk kekuasaan. Setelah meraih kemenangan, sejumlah komentator Barat menilai, kelompok Hamas akan meningkatkan pemberantasan korupsi, ketimbang mendukung dilancarkannya serangan bunuh diri. Tapi penilaian ini, dari hari kehari semakin berkurang yang mempercayainya."

Harian Spanyol El Pais yang berhaluan kiri liberal menyebut serangan bunuh diri di Tel Aviv sebagai memadamkan harapan baru bagi perdamaian di Timur Tengah.

"Konflik Timur Tengah ibarat sepotong kain, yang di satu bagian sobek jahitannya, sementara di bagian lain terjahit dengan baik. Bila hal itu benar, maka kelompok Hamas, yang sekarang membentuk pemerintahan di Palestina dan sejak bulan Februari tahun lalu mentaati gencatan senjata, tetap harus diperhitungkan seperti kelompok Jihad Islam atau Brigade Al-Aqsa, bila melakukan tindakan yang dapat memadamkan harapan perdamaian. Seorang jurubicara pemerintah Palestina masih tetap menyebut serangan bunuh diri baru-baru ini di Tel Aviv sebagai hak warganya untuk melakukan pembelaan diri secara sah."

Sementara itu harian Italia La Repubblica yang terbit di Roma menggambarkan, setelah terjadi kembali serangan bunuh diri, yang tersisa dari rencana perdamaian hanyalah puing-puing dan reruntuhan.

"Isyarat bagi kemungkinan meningkatnya eskalasi di pekan belakangan, semakin menunjukkan kenyataan. Dan itu dibenarkan oleh serangan bunuh diri hari Senin lalu di Tel Aviv. Bom bunuh diri, senjata berat, roket darat- udara, kembali merupakan satu-satunya bahasa yang berbicara dalam konflik antara Israel dan Palestina. Yang lainnya bungkam. Kelompok Hamas tidak berbicara dengan Israel. Sebaliknya Israel tidak berbicara dengan Palestina. Dan dengan demikian rencana perdamaian yang didiskusikan sejak 15 tahun lalu, hanya tinggal puing-puing dan reruntuhan."

Harian Luxemburg, Luxemburger Wort, menyebut Timur Tengah disandera aksi teror.

"Barang siapa, di Israel atau di mana saja, yang mengharapkan kelompok Hamas dalam tanggung jawab politik akan mengambil sikap yang moderat, kembali akan kecewa. Tidak terlihat keinginan kelompok Hamas untuk menyingkirkan teror sebagai senjata dalam perjuangan politik. Ini akan mendorong kekuatan, baik di Israel maupun Palestina, untuk secara sepihak menggunakan aksi kekerasan. Kelompok radikal di kedua belah pihak semakin menguat. Sementara suara yang berusaha mencari perdamaian terus terdesak. Ini juga berlaku bagi kekuatan yang moderat dalam pemerintahan Israel mendatang. Pada waktu bersamaan, pemerintah Palestina yang dipimpin kelompok Hamas terus dikucilkan negara-negara Barat, dan sekarang keuangannya tergantung dari negara donor yang radikal, seperti Iran. Dengan demikian dalang pelaku serangan berhasil mencapai tujuannya dengan sempurna. Aksi teror terus menjadikan politik sebagai sandera."