Seratus Hari Kepemimpinan Sarkozy
24 Agustus 2007
Mengenai neraca seratus hari kepemimpinan Sarkozy, harian Perancis La Croix menulis:
„Nicolas Sarkozy yang pegang komando. Ini terlihat jelas oleh semua orang. Dan ia melakukan, apa yang ia janjikan. Baik pemilih maupun pengerritiknya tidak bisa mengatakan, bahwa tindakannya mengejutkan. Ia terlihat berupaya keras memperbarui bidang keamanan dalam negeri melalui politik imigrasi dan reformasi badan peradilan. Ini memang tema yang mengantarnya memenangkan pemilihan umum. Hal lain yang bisa disimpulkan selama 100 hari masa kepemimpinannya adalah, selain merombak semua sektor yang dianggap penting oleh masyarakat Perancis, presiden Sarkozy mulai tertarik dengan politik luar negeri, dari politik Eropa, hubungan dengan Libya sampai soal Irak. Tidak setengah-setengah. Sarkozy bisa mengagumkan atau menjemukan. Bisa menyenangkan atau menjengkelkan. Bisa meyakinkan atau membangkitkan kekhawatiran. Baginya, semua hal adalah penting. Itu kekuatannya.“
Harian Perancis lainnya, Le Monde menarik neraca kepemimpinan Sarkozy sekaligus membandingkan situasi antara Perancis dan Jerman. Harian ini menulis:
“Perancis cemberut, sementara Jerman tersenyum? Memang bisa kelihatan demikian. Setelah 100 hari memegang jabatannya, Nicolas Sarkozy mulai menghadapi masalah. Pertumbuhan ekonomi tertatih-tatih, sedangkan dewan konstitusi mengganjal salah satu proyek utama sang presiden. Di lain pihak kanselir Angela Merkel, setelah dua tahun memegang jabatannya, mulai memetik hasil dari berbagai langkah pembaruan yang dilakukan di masa lalu dan mendapat dukungan luas dari masyarakat Jerman. Lebih dari 75 persen warga Jerman ingin Merkel tetap memegang jabatannya setelah pemilu 2009. Tentu saja tidak adil menarik perbandingan seperti ini begitu saja. Tapi Eropa dan Perancis perlu motor Jerman yang kuat. Pembaruan di sana harus dilanjutkan, sehingga kebangkitan kembali Jerman bisa menarik Perancis dan Uni Eropa.“
Hal lain yang masih jadi sorotan pers di Eropa adalah politik Irak presiden George W Bush, setelah Bush menarik perbandingan antara perang di Vietnam dan perang di Irak. Harian Inggris Daily Telegraph menulis:
„Di tengah panasnya kampanye pemilu, AS mengirim sinyal membingungkan mengenai misinya di Irak. Presiden George W Bush dan penggantinya harus punya strategi jitu untuk penarikan pasukan. Kemungkinan besar, dampak kekalahan di Irak bisa jauh lebih serius daripada dulu di Vietnam. Asia Tenggara tidak jadi korban efek domino setelah kejatuhan Saigon. Tapi jika Irak tenggelam dalam perang saudara, ini adalah ancaman yang jauh lebih besar bagi dunia Barat dan bagi keamanan dunia.“
Harian Rusia Kommersant berkomentar:
„Pidato presiden Bush bukan pidato spontan, melainkan kampanye publik yang disiapkan Gedung Putih sebelum komandan militer di Irak, Jendral David Petraeus memberi laporan bulan September mendatang. Kelihatannya Bush sudah memperkirakan, jendral itu tidak membawa kabar baik. Pemerintahan Bush saat ini sedang melakukan kampanye untuk menambah jumlah pasukan AS di Irak.“