Seruan Boikot Televisi Cina
14 Januari 2009
Siaran CCTV pada jam tayang utama. Televisi Cina menyiarkan drama sejarah. Kisahnya menggambarkan rasa cinta, cemburu, persaingan dan pertarungan. Tapi terutama menunjukan perbedaan kelas masyarakat yang terdapat di Cina tempo dulu. Terlihat sejumlah tokoh kalangan atas yang memiliki sepasukan pembantu setia. Tak terhitung berapa banyak kisah serupa yang disiarkan televisi nasional Cina.
Pengacara Teng Biao menyebutnya siaran cuci otak: “Film seri televisi yang disiarkan selalu menggambarkan kaisar-kaisar dari bermacam-macam dinasti. Itu kan ulasan sejarah yang gampangan. Drama-drama sejarah seperti ini menyesatkan dan membodohi publik”
Lebih lanjut Teng Biao mengingatkan, bahwa film-film itu mendidik penontonnya agar merendah di hadapan orang yang memiliki kekuasaan lebih besar. Kenyataan inilah yang sudah meracuni masyarakat Cina dan menghambat jalan menuju kebebasan dan demokrasi.
Teng Biao merupakan satu diantara 22 penandatangan surat terbuka yang diberi judul “Boikot CCTV, Tolak Cuci Otak”. Seruan itu dipublikasikan di internet dan dalam waktu singkat tersebar ke situs internet lainnya. Para penandatangan tangan seruan itu bukan hanya mengecam film-film seri drama sejarah. Dalam enam poin mereka menuding televisi nasional Cina, CCTV, melakukan pencucian otak publiknya dan menyampaikan laporan-laporan yang tendensius. Terutama dalam warta berita.
“Beritanya sering tidak seimbang dan menyesatkan. Bila ada protes massal di daerah, televisi ini akan sama sekali tidak melaporkannya atau menyampaikan laporan yang tidak benar. Apabila polisi menggunakan kekerasan untuk mengatasi aksi protes, maka CCTV menyebutkan adanya oknum atau unsur-unsur ilegal, dan bahwa masyarakatnya sendiri sangat senang. Padahal kenyataannya bertolak belakang”, begitu Teng Biao.
Seruan “Boikot CCTV, Tolak Cuci Otak” itu juga menjelaskan, bahwa pemberitaan media di luar Cina kerap negatif. Namun di dalam negeri sebaliknya. Pemberitaan tentang Cina selalu positif. Terkait skandal melamin dalam susu, misalnya, CCTV justru menyoroti aturan kwalitas di perusahaan itu. Begitu tudingnya, sembari menyampaikan saran sinis untuk mengubah judul program Berita Malam menjadi Siaran Propaganda.
CCTV merupakan media siar Cina terbesar, dengan 18 program televisi dan puluhan tawaran digital. Menurut sejumlah pemantau, CCTV merupakan salah satu penopang propaganda, yang berfungsi mempengaruhi dan mengawasi pendapat umum. Terkait kecaman yang dilontarkan terhadap CCTV, media itu menyatakan kepada kantor berita Associated Press, bahwa sudah cukup berita yang diturunkan mengenai pemberontakan Tibet dan skandal melamin.(ek)