Setahun menjabat kanselir, Friedrich Merz masih berjibaku dengan kompleksitas pemerintahan koalisi. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kaitannya dengan Presiden AS Donald Trump?
Bundestag mengangkat Friedrich Merz sebagai Kanselir Jerman pada Mei 2025Foto: Fabrizio Bensch/REUTERS
Iklan
Kanselir Jerman Friedrich Merz kini gencar memberi wawancara. Belum jelas apakah karena dia genap setahun menjabat atau karena koalisi yang dipimpinnya sedang berada di ambang krisis. Kemungkinan besar, kedua hal itu saling terkait.
Dalam sebuah gelar wicara politik Caren Miosga di lembaga penyiaran publik Jerman, ARD, pada pekan lalu, Merz mengungkapkan bahwa di dalam partai konservatif Uni Kristen Demokrat (CDU) dan Uni Kristen Sosial (CSU), terdapat “rasa kecewa yang terus meningkat” terhadap berbagai kompromi yang harus disepakati dalam koalisi. Tingkat dukungan publik terhadap dirinya secara pribadi juga sangat rendah.
Krisis sejatinya sudah mewarnai masa kepemimpinan Merz bahkan sebelum ia resmi menjabat. Tercermin dari pemungutan suara di Bundestag pada 6 Mei 2025 yang mencatatkan peristiwa bersejarah dalam proses pengangkatannya sebagai kanselir.
Saat itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik Federal Jerman, kandidat kanselir tidak memperoleh mayoritas absolut yang dibutuhkan pada putaran pertama. Untuk menjadi kanselir ke-10 Jerman, Merz harus melalui pemungutan suara putaran kedua. Hal ini juga menunjukkan bahwa apa yang disebut sebagai “koalisi besar” kini tidak lagi benar-benar besar. Jumlah kursi koalisi di parlemen hanya cukup untuk menghasilkan mayoritas yang sangat tipis.
Iklan
Reformasi yang dijanjikan tak terlaksana?
Pada musim panas setelah terpilih pada Mei tahun lalu, Merz sempat menjanjikan bahwa musim gugur pada akhir tahun 2025 akan menjadi “musim gugur reformasi”. Menurutnya, fokus akan diarahkan pada penataan ulang atau perubahan mendasar dalam kesejahteraan Jerman, termasuk pensiun, kesehatan, perawatan lansia, serta pengurangan birokrasi. Namun, dalam bulan-bulan berikutnya, tidak satu pun dari rencana tersebut yang benar-benar terwujud.
Yang relatif cepat diputuskan hanyalah dana khusus satu kali sebesar €500 miliar (sekitar Rp9.300 triliun) untuk infrastruktur dan netralitas iklim hingga tahun 2045. Dana ini ditujukan untuk proyek-proyek, seperti perbaikan jaringan kereta api dan pembangunan jembatan baru.
Kerja sama terutama antara Menteri Keuangan Lars Klingbeil, yang juga menjabat wakil kanselir dan salah satu pemimpin Partai Sosial Demokrat (SPD), dan Menteri Perekonomian Katherina Reiche (CDU) juga sering diwarnai perbedaan pandangan.
Salah satunya terkait upaya Reiche mendorong berbagai langkah yang akan membalikkan kebijakan pemerintahan sebelumnya yang menggabungkan kebijakan ekonomi dan perlindungan iklim. Pemerintahan periode 2021–2024 itu terdiri dari koalisi SPD, Partai Hijau yang pro-lingkungan, dan Partai Liberal Demokrat (FDP) yang pro-bisnis. Ketegangan lain juga berkaitan dengan meningkatnya seruan dari partai Reiche, CDU, untuk kembali menggunakan energi nuklir sipil, yang sebelumnya dihentikan secara bertahap oleh pemerintahan CDU/CSU di bawah Angela Merkel sejak 2011.
Dalam wawancara di ARD maupun wawancara besar dengan majalah mingguan Jerman, Der Spiegel, Merz terdengar seolah-olah menganggap bahwa justru CDU/CSU yang paling menanggung beban kompromi dalam koalisi. Tanpa merinci nama partainya, ia berbicara tentang “koalisi dengan satu mitra yang lebih besar dan satu mitra yang lebih kecil.” Ia juga menegaskan bahwa koalisi memerlukan “kompromi”, dan kompromi “tidak bisa berjalan satu arah saja.” Pernyataan Merz itu terdengar lebih seperti keluhan ketimbang peringatan tegas kepada partainya sendiri.
Sistem kesehatan perlu dipulihkan
Beberapa hari sebelum peringatan satu tahun masa jabatannya, koalisi memperkenalkan paket besar pertamanya: Rencana reformasi sistem kesehatan. Namun, belum ada keputusan final. Pembahasan selama beberapa bulan akan dilakukan lebih dulu di Bundestag, dan selama proses pembahasan itu berlangsung, perubahan masih sangat mungkin terjadi.
Pemimpin Redaksi Politik DW, Michaela Küfner, telah mendampingi dan mengamati Merz dalam berbagai kunjungan serta penampilan publiknya sepanjang tahun pertama ini. Ia menilai awal yang tersendat ini tidak sepenuhnya negatif.
Tahun pertama Merz, kata Küfner, memang tidak membuat Jerman menjadi lebih stabil, tetapi justru lebih fokus. “Sebagaimana Merz harus belajar memahami batas-batas kompromi dengan mitra koalisinya dan partainya sendiri, Jerman pun menyadari bahwa keadaan tidak bisa terus berjalan seperti sekarang tanpa reformasi struktural. Itu saja sudah merupakan sebuah kemajuan bagi masyarakat.”
Pemerintah federal Jerman yang baru adalah koalisi partai CDU, CSU dan SPD. Para menteri yang terpilih dalam kabinet pimpinan Merz ini tak lain adalah mitra terdekat Kanselir Merz dan pemimpin SPD, Lars Klingbeil.
Foto: Christian Mang/REUTERS
Kanselir: Friedrich Merz (CDU)
Pengacara berusia 69 tahun, Friedrich Merz, akan menghadapi tantangan besar dalam hal kebijakan dalam dan luar negeri. Perekonomian Jerman terpuruk, dan partai sayap kanan AfD terus menguat. Pemimpin CDU ini ingin meningkatkan ekonomi dan membatasi migrasi. Yang utama, dia harus "memperbaiki diri", karena belum pernah ada kanselir yang tidak sepopuler Friedrich Merz.
Foto: Uwe Koch/HMB-Media/IMAGO
Menteri Keuangan: Lars Klingbeil (SPD)
Pemimpin SPD ini tidak hanya mengambil alih Departemen Keuangan tapi juga sebagai wakil kanselir. Hal ini membuat pria berusia 47 tahun ini menjadi tokoh sentral SPD meski hasil pemilihan umum begitu buruk bagi partainya. Klingbeil berlatarbelakang ilmu politik, sosiologi dan sejarah. Ia telah menjadi anggota parlemen sejak 2005. Ini adalah pengalaman pertama Klingbeil di pemerintahan.
Foto: Moritz Frankenberg/dpa/picture alliance
Menteri Pertahanan: Boris Pistorius (SPD)
Boris Pistorius adalah satu-satunya menteri petahana dari SPD. Ia 'rutin duduk' peringkat teratas daftar politisi paling populer Jerman. Pria berusia 65 tahun ini telah menjabat menhan sejak Januari 2023 dan memiliki reputasi tinggi di dunia militer Jerman. Pistorius ingin membuat pasukannya “siap berperang” lagi dan direncanakan akan menerima miliaran euro yang diperlukan untuk ini.
Foto: Anna Ross/dpa/picture alliance
Menteri Luar Negeri: Johann Wadephul (CDU)
Johann Wadephul, 62 tahun, telah menjadi anggota Parlemen sejak tahun 2009. Doktor hukum dan mantan tentara ini memiliki koneksi internasional yang baik dan dianggap diplomatis dan pragmatis. Ia memiliki banyak kesamaan dengan Friedrich Merz. Keduanya kemungkinan akan bersama menjalankan kebijakan luar negeri, karena setelah 60 tahun, Kanselir dan Menlu kini kembali dijabat CDU.
Foto: Political-Moments/IMAGO
Menteri Dalam Negeri: Alexander Dobrindt (CSU)
Politisi CSU, Alexander Dobrindt, pernah menjabat sebagai Menteri Transportasi di era Angela Merkel. Sebagai Mendagri, sosiolog berusia 54 tahun ini menginginkan pendekatan yang lebih keras terhadap tema migrasi: pengetatan perbatasan, penangguhan penyatuan kembali keluarga, deportasi ke Suriah dan Afganistan. Ia menentang kewarganegaraan ganda dan persamaan hak bagi pasangan homoseksual.
Foto: Bernd Elmenthaler/IMAGO
Menteri Ekonomi dan Energi: Katherina Reiche (CDU)
Bagi ahli kimia berusia 51 tahun, Katherina Reiche, ini a merupakan kembalinya ke dunia politik. Ia menjadi anggota Bundestag pada usia 25 tahun. Pada tahun 2015, perempuan asal Jerman Timur 'banting stir' ke dunia bisnis dan menjadi CEO Westenergie AG (E.ON Group). Tahun 2020, ia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Hidrogen Nasional, yang memberikan masukan kepada pemerintah Jerman.
Foto: Kay Nietfeld/dpa/picture alliance
Menteri Digital dan Modernisasi : Karsten Wildberger
Penunjukkan Karsten Wildberger ini adalah kejutan besar. Dengan gelar doktor di bidang fisika, Wildberger sempat berkarir di posisi kepemimpinan internasional, antara lain di Boston Consulting, T-Mobile dan E.ON. Pria berusia 56 tahun ini adalah direktur MediaMarktSaturn, jaringan retail elektronik terbesar di Eropa.
Foto: Malte Ossowski/SvenSimon/picture alliance
Menteri Tenaga Kerja dan Sosial: Bärbel Bas (SPD)
Bärbel Bas mulai dikenal saat menjabat sebagai Presiden Bundestag pada tahun 2021. Dengan ijazah sekolah menengah dan pelatihan sebagai asisten kantor, jalannya menuju jabatan politik tertinggi tidaklah mudah. Namun wanita berusia 57 tahun dari Duisburg ini gigih dalam kariernya. Kini ia memimpin kementerian dengan anggaran terbesar.
Foto: Kay Nietfeld/dpa/picture alliance
Menteri Hukum: Stefanie Hubig (SPD)
Politisi Partai Sosial Demokrat berusia 56 tahun ini menjabat sebagai Menteri Pendidikan di Rhineland-Pfalz sejak tahun 2016. Ia adalah doktor hukum dari Frankfurt am Main pernah menjabat sebagai sekretaris negara bagian dari tahun 2014 hingga 2016. Sebelum berkarier di dunia politik, Hubig bekerja sebagai jaksa penuntut umum dan hakim.
Foto: Jürgen Heinrich/IMAGO
Menteri Riset, Teknologi, dan Antariksa: Dorothee Bär (CSU)
Dorothee Bär, 47 tahun, telah menjadi anggota Bundestag Jerman sejak tahun 2002 dan merupakan salah satu wakil ketua fraksi CDU/CSU di Bundestag. Ia telah menjadi salah satu wakil pemimpin partai CSU sejak 2017. Dari tahun 2018 hingga 2021, ia adalah Komisaris Digitalisasi Pemerintah Federal era Merkel. Untuk pertama kalinya, perjalanan luar angkasa menjadi topik dalam sebuah kementerian.
Foto: Emmanuele Contini/IMAGO
Menteri Pendidikan dan Keluarga: Karin Prien (CDU)
Karin Prien dianggap sebagai politisi pendidikan paling terkemuka di CDU. Penasihat hukum berusia 59 tahun ini telah menjadi Menteri Pendidikan di Schleswig-Holstein sejak tahun 2017. Prien dianggap berpendirian teguh dan tidak sungkan dalam berdebat. Ia lahir dan tumbuh besar di Belanda, tempat kakek-neneknya melarikan diri dari Nazi. Bahasa Belanda adalah bahasa ibu Prien.
Foto: Jens Schicke/IMAGO
Menteri Kerjasama Ekonomi dan Pengembangan Nasional: Reem Alabali-Radovan (SPD)
Ilmuwan politik, putri dari orang tua asal Irak dan lahir di Moskow, Rusia, Radovan adalah satu kejutan dalaf daftar menteri dari SPD. Perempuan Jerman Timur berusia 35 tahun ini sebelumnya menjabat sebagai Komisioner Pemerintah Federal untuk Integrasi dan Anti-Rasisme di Kantor Kanselir. Ia telah menjadi anggota Bundestag sejak 2021.
Foto: Bernd von Jutrczenka/dpa/picture alliance
Menteri Kesehatan: Nina Warken (CDU)
Perempuan berusia 45 tahun ini sudah menjadi anggota CDU sejak menjadi mahasiswa hukum dan telah menjadi anggota Bundestag sejak tahun 2013. Meski sudah lama fokus pada kebijakan-kebijakan negara, kini penasihat hukum ini harus segera membiasakan diri dengan kebijakan kesehatan.
Foto: Arnulf Hettrich/IMAGO
Menteri Pertanian: Alois Rainer (CSU)
“Sekarang kita punya Leberkäs (makanan khas Bayern), bukan tahu” - dengan kalimat ini, pemimpin CSU Markus Söder memperkenalkan Menteri Pertanian Federal Alois Rainer, 60 tahun. Rainer adalah ahli daging profesional yang menjalankan bisnis keluarga dan sebuah penginapan di hutan Bayern. Ia telah menjadi anggota Bundestag sejak 2013, menangani masalah anggaran dan transportasi.
Foto: Christoph Hardt/Geisler-Fotopress/picture alliance
Menteri Transportasi: Patrick Schnieder (CDU)
Sebagai menteri transportasi, Patrick Schnieder akan memiliki sesuatu yang akan membuat rekan-rekannya iri: banyak uang. Sebagian besar dari dana khusus sebesar 500 miliar euro untuk infrastruktur akan dialokasikan untuk rute-rute transportasi yang rusak. Pengacara berusia 56 tahun ini telah menjadi anggota Bundestag sejak tahun 2009.
Foto: dts Nachrichtenagentur/IMAGO
Menteri Lingkungan Hidup: Carsten Schneider (SPD)
Sebelumnya, perlindungan lingkungan dan iklim bukan fokus pria berusia 49 tahun ini. Pria asal Thuringia ini adalah seorang bankir, telah menjadi anggota Bundestag sejak tahun 1998 dan dengan cepat dikenal sebagai ahli keuangan dan anggaran untuk fraksinya. Jabatan terakhir yang ia pegang adalah sebagai Komisaris untuk Eropa Timur di Kantor Kanselir.
Perempuan berusia 37 tahun dari Trier ini beralih dari dunia bisnis ke politik. Setelah belajar bisnis, ia mendirikan dan mengelola perusahaan rintisan. Ia masuk ke Bundestag tahun 2021. Ia dianggap bersahaja, penuh semangat dan berorientasi pada hasil - kualitas yang akan ia perlukan di kantor barunya. Krisis perumahan adalah salah satu masalah terbesar di Jerman.
Foto: Harald Tittel/dpa/picture alliance
Kantor Kanselir: Thorsten Frei (CDU)
Pengacara berusia 52 tahun, Thorsten Frei, bisa dibilang orang kepercayaan Friedrich Merz yang paling penting. Dia telah menjadi anggota Bundestag sejak 2013. Sebelumnya adalah seorang politisi di Jerman bagian selatan. Frei memiliki pengetahuan yang luas tentang berbagai topik. Sebagai kepala kantor kanselir, ia harus mengantisipasi dan menyingkirkan masalah dan jebakan bagi Merz sejak dini.
Foto: Bernd Elmenthaler/IMAGO
Menteri Negara Bidang Kebudayaan dan Media: Wolfram Weimer
Sejarawan berusia 60 tahun dengan gelar doktor ini telah menulis buku-buku non-fiksi seperti "Das konservative Manifest"(“Manifesto Konservatif") dan "Sehnsucht nach Gott" (“Kerinduan akan Tuhan”). Sebelum mendirikan perusahaan penerbitan, ia pernah bekerja sebagai jurnalis di harian FAZ dan Die Welt, menjadi pemimpin redaksi Cicero dan Focus
Foto: -/teutopress/picture alliance
19 foto1 | 19
Memandang ke luar negeri
Penting bagi pemerintahan koalisi Jerman untuk menunjukkan sikap bersatu dalam isu-isu utama, terutama di tengah tantangan kebijakan luar negeri saat ini. Kekhawatiran tentang runtuhnya Uni Eropa, berakhirnya aliansi pertahanan NATO, dan memburuknya hubungan transatlantik terus bermunculan. Gaya politik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kerap tidak terduga semakin memperbesar kekhawatiran tersebut.
Perjalanan kanselir atau menteri luar negerinya berfungsi untuk kepentingan strategis, baik di Eropa maupun di kawasan lain. Terlebih karena tahun pertama Merz begitu dibayangi oleh tindakan Trump. Pada November 2020, politikus CDU ini pernah menyatakan keyakinannya bahwa ia dan Trump akan “berhubungan dengan baik.” Namun, rasanya pernyataan itu sudah sangat lama berlalu, jauh lebih dari lima setengah tahun.
Merz mengunjungi Gedung Putih tiga kali dalam tahun pertamanya menjabat. Hingga beberapa hari lalu, ia tampak sebagai salah satu dari sedikit pemimpin Eropa yang memiliki hubungan dengan Trump dan bisa berbicara secara terbuka dengannya.
Namun, situasi berubah ketika Merz secara terbuka melontarkan kritik keras terhadap sikap Trump dalam perang Amerika Serikat dengan Iran. Saat mengunjungi sebuah sekolah menengah di Jerman bagian tengah, ia mengatakan bahwa pemerintah AS “jelas” tidak memiliki “strategi yang benar-benar meyakinkan” dan bahwa Iran telah “mempermalukan” AS dalam perundingan.
Trump pun menegur Merz melalui media sosialnya, Truth Social. Merz, kata Trump, tidak tahu apa yang sedang ia bicarakan dan seharusnya fokus mengurus “negaranya yang rusak.” Trump juga menyebut kondisi ekonomi Jerman buruk. Ia kemudian mengumumkan penarikan 5.000 tentara AS dari Jerman serta menaikkan tarif impor mobil dan truk dari Eropa, sebuah pukulan tambahan bagi industri otomotif yang sudah terpuruk.
Ini menjadi beban baru bagi sang kanselir, yang sampai belum lama ini masih sering menekankan bahwa ia rutin berbicara lewat telepon dengan Trump. Beberapa bulan lalu, Merz bahkan mengundang Presiden AS itu untuk mengunjungi sebuah kota di Rheinland-Pfalz, tempat asal leluhur Trump.
Ketegangan terbaru itu turut disinggung Merz dalam wawancara ARD. Merz menggambarkan situasi ini “sulit” dan mengatakan bahwa ia berharap “kita bisa keluar dari situasi ini.” Salah satu keyakinan dasarnya, tegas Merz, adalah bahwa “hubungan transatlantik sangat berharga bagi kita semua.”
Terkait Uni Eropa, Merz berusaha menumbuhkan optimisme meski situasinya tidak pasti. Ia menekankan pentingnya “menjaga Eropa tetap bersatu,” dan inilah alasan mengapa ia sering bepergian ke berbagai negara anggota Uni Eropa “berdasarkan keyakinan mendalam bahwa kita benar-benar harus menjaga keutuhan UE saat ini.”
Setiap hal ada konsekuensinya
Pemimpin Redaksi Politik DW, Küfner, melihat pola yang mulai terbentuk. Akibat kritik langsungnya terhadap Trump, Merz “sering harus membayar harga politik yang tinggi karena kecerobohan ucapannya sendiri.”
Menurut Küfner, pertanyaannya kini adalah: “Apakah kanselir ini, dengan bakat yang tidak biasa dalam mencetak gol bunuh diri secara politik, mampu menerjemahkan keahlian ekonominya yang diakui menjadi tindakan politik nyata?”
Bagi Küfner, satu hal menjadi semakin jelas: “Dalam situasi dunia saat ini, ada satu hal yang paling tidak mampu ditanggung Jerman dan Eropa, runtuhnya pemerintahan Jerman sekali lagi.”
Artikel ini awalnya ditulis dalam bahasa Jerman
Diadaptasi dari bahasa Inggris oleh Hani Anggraini