Setelah Lebaran, Ekonomi RI Terancam Turun di Bawah 5%
25 Maret 2026
Momentum Hari Raya Lebaran 2026 dinilai menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional pada tiga bulan pertama atau kuartal I-2026. Pasalnya, peningkatan konsumsi berkat pemberian tunjangan hari raya (THR) hingga pergerakan masyarakat yang masif selama arus mudik memberikan dampak signifikan terhadap perputaran uang di daerah.
Namun, setelah momentum hari raya ini berakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan mengalami perlambatan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan kenaikan harga bahan bakar, pelemahan kurs rupiah, hingga gangguan rantai pasok yang merupakan imbas perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
"Saya kira kalau dibandingkan year on year, paling tinggi hanya 5% dari kuartal kedua karena tidak ada momentum dan faktor global ini sudah mulai kena ke kita," kata Ekonom Senior INDEF Tauhid Ahmad kepada detikcom, Rabu (25/03).
Tauhid menjelaskan, setelah hari raya tingkat konsumsi masyarakat akan kembali normal bahkan cenderung sedikit melemah dari biasanya. Ini merupakan siklus tahunan karena masyarakat sudah menghabiskan banyak dana untuk keperluan hari raya.
Imbas politik Timteng berpengaruh
Namun yang menjadi kekhawatiran saat ini adalah imbas konflik di Timur Tengah yang diperkirakan mulai terasa pada kuartal II nanti. Sebab, banyak negara di dunia berpotensi mengurangi permintaan impor dari negara lain, termasuk dari Indonesia.
Kondisi ini berpotensi menurunkan ekspor komoditas nasional, yang secara langsung mengurangi pendapatan negara dan swasta, khususnya para eksportir.
"Dari sisi perdagangan internasional, itu pasti sudah mulai berkurang di kuartal kedua. Karena kan beberapa negara seperti Amerika, Timur Tengah, Cina, semua itu pasti mengurangi permintaan dengan kondisi ini. Tidak mungkin meningkatkan permintaan karena biaya lagi naik, karena biaya logistik baik BBM maupun hambatan rantai pasok," jelasnya.
Di sisi lain, karena pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya logistik imbas konflik tadi, impor bahan baku produksi dalam negeri juga diperkirakan akan sangat terdampak. Hal ini membuat biaya produksi naik cukup signifikan, yang akhirnya mendorong harga produk di tingkat konsumen.
"Mereka tidak berani impor barang modal, barang baku penolong dan sebagainya. Jadi dari sisi ekspor-impor mengalami perlambatan," terang Tauhid.
Tumbuh tak sampai lima persen
Sementara itu, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira memproyeksikan ekonomi Indonesia sepanjang kuartal II 2026 nanti hanya tumbuh di kisaran 4,7-4,9%. Hal ini utamanya disebabkan oleh pelemahan kurs rupiah, hingga inflasi energi dan pangan imbas tingginya harga minyak global.
"Untuk kuartal ke II 2026 diperkirakan ekonomi akan tumbuh 4,7-4,9% karena tekanan pelemahan kurs rupiah, inflasi energi dan pangan," jelas Bhima.
Selain faktor eksternal ini, Bhima turut menyoroti ancaman dari super El Nino yang diperkirakan berlangsung pada pertengahan 2026 ini. Di mana menurutnya fenomena ini berpotensi menyebabkan kenaikan modal produksi bahan pangan, yang kemudian dapat memicu harga kebutuhan pokok.
"Perlu dicermati adanya super El Nino bersamaan dengan krisis bahan baku pupuk mengancam produksi pangan. Kita akan hadapi cost of living crisis khususnya kelas menengah. Jadi banyak yang hold belanja dan fokus saving," pungkasnya.
Baca artikel selengkapnya di: Detiknews.
Waduh! Setelah Lebaran, Ekonomi RI Terancam Turun di Bawah 5%