1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikUkraina

Shakhtar Donetsk: Klub Papan Atas Ukraina yang Tunawisma

Mathias Brück
21 April 2022

Selama delapan tahun terakhir, klub papan atas Ukraina Shakhtar Donetsk hidup nomaden di negara sendiri. Sejak invasi Rusia pada Februari lalu, masa depan klub dan para pemainnya terkatung-katung.

Pemain Shakhtar Donetsk dengan bendera Ukraina ketika tampil dalam pertandingan persahabatan di Yunani, 9 April 2022
Pemain Shakhtar Donetsk dengan bendera Ukraina ketika tampil dalam pertandingan persahabatan di Athena, Yunani, 9 April 2022Foto: Angelos Tzortzinis/Getty Images/AFP

Ketika tentara Rusia melancarkan invasi Ukraina pada 24 Februari, pemain belakang Shakhtar Donetsk Mykola Matviyenko sedang tidur bersama istri dan anaknya di Kyiv.

"Saya dengar ledakan di luar jendela, dan kami langsung melompat," kenang pemain internasional Ukraina itu. "Kami menghabiskan sisa malam di dalam mobil, sampai kami mendapat pesan bahwa Kyiv sedang diserang, dan kami harus pergi."

Akhir pekan lalu, Shakhtar Donetsk seharusnya menghadapi musuh bebuyutan Dynamo Kyiv. Hanya dua poin yang memisahkan tim di puncak Liga Premier Ukraina. Namun, kompetisi sekarang dihentikan. Klub kemudian menggelar serangkaian pertandingan persahabatan dalam "Tur Global untuk Perdamaian" sambil mengumpulkan dana.

Mykola Matviyenko dan penjaga gawang Trubin memang sudah terbiasa berada di jalan. Mereka telah jauh dari rumah sejak perang pecah di wilayah Donbas timur pada 2014.

Pemain Shakhtar mengelu-elukan pemilik klub Rinat Akhmetov ketika merayakan kemenangan UEFA Cup 2008/2009Foto: Sven Simon/IMAGO

"Mimpiku telah berubah"

"Saya berusia 17 tahun dan baru saja kembali dari liburan musim panas dengan kereta api,” kenang Matviyenko. "Keesokan harinya, stasiun itu hampir hilang dan kami dievakuasi ke kota lain.” Stasiun itu bukan satu-satunya target penyerangan.

Stadion Shakhtar, Donbas Arena yang baru, yang dibangun dengan biaya sekitar 191 juta dolar, dibuka pada tahun 2009 dengan mendatangkan penyanyi tersohor Beyonce. Stadion itu adalah stadion UEFA kategori bintang lima pada Euro 2012 dan menarik 40.000 penonton pada musim 2012-2013. Namun, stadion itu rusak oleh penembakan selama perang Donbas yang dimulai tahun 2014, demikian juga Bandara Internasional Donetsk yang baru saja dibuka.

Shakhtar lalu pindah ke barat dan bermain di depan sekitar 7.000 penggemarnya di Lviv, kemudian di Kharkiv, dan sejak 2018 mereka tinggal dan berlatih di Kyiv.

"Saya dulu pergi ke Donbas Arena saat remaja, dan selalu menjadi impian saya untuk benar-benar bermain di stadion yang luar biasa ini," kata Mykola Matviyenko. "Kami semua percaya kami akan bermain sepak bola di sana lagi suatu hari nanti."

"Mimpi saya telah berubah," ujar Trubin. "Saya hanya ingin kedamaian kembali ke Ukraina. Dan kemudian saya ingin bermain di Liga Champions bersama Shakhtar di Donbas Arena yang penuh."

Perang mengubah segalanya

Shakhtar Donetsk telah menikmati kesuksesan besar di lapangan, termasuk 13 gelar liga Ukraina — di peringkat kedua setelah Dynamo Kyiv dengan total 20 gelar. Pada tahun 2020, Shakhtar mencapai semifinal Liga Europa, kompetisi yang mereka menangkan pada tahun 2009 ketika berhasil mengalahkan klub Jerman Werder Bremen di final.

Keberhasilan itu sebagian besar didorong oleh satu orang: pemilik Shkahtar Rinat Akhmetov, mantan petinju profesional dan salah satu orang terkaya Ukraina, yang mengambil alih klub pada tahun 1996. Sejak itu, dia telah menginvestasikan lebih dari 1,5 miliar euro di klub, menyelamatkan Shakhtar dari kebangkrutan dan menempatkan mereka di antara klub papan atas Eropa.

Di bawah Rinat Akhmetov, Shakhtar, menghabiskan hampir 300 juta euro untuk membeli pemain-pemain Brasil, seperti Fernandinho (sekarang di Manchester City), Fred (sekarang di Manchester United), dan Douglas Costa (yang kemudian bermain untuk Bayern München dan Juventus).

Perang telah mengubah segalanya. Sejak invasi Rusia, 13 pemain Brasil yang saat ini dikontrak Shakhtar mengungsi ke luar negeri, beberapa di antaranya telah menghabiskan dua minggu berlindung di ruang bawah tanah sebuah hotel di Kyiv bersama keluarga mereka.

(hp/ha)

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait